
"Kamu hamil kok ga ngidam apa-apa, sih? Enggak pengen sesuatu gitu?" tanya Wibie sembari mengendalikan kemudinya.
"Enggak, biasa aja. Cuma sering laper aja," sahut Rey yang duduk di jok belakang dengan Devara.
"Iya, kamu udah mulai keliatan semok, sayang," Wibie mencoba menahan tawa.
Dengan mengenakan setelan blezer warna hitam, Rey memang kelihatan lebih berisi. Pipinya mulai penuh dan tentu saja perutnya sudah mulai membuncit.
"Gendut, ya? Aku merasa juga begitu, Mas. Berat badanku sudah naik 4 kg,"
"Ga apa, yang penting kamu dan bayi kita sehat,"
"Pa, adeknya cowok apa cewek sih?" sela Devara yang menyandarkan kepalanya pada bahu Rey.
"Belum tau, sayang. Belum kelihatan. Adek bayinya baru tiga bulan," sahut Rey sembari mengelus lembut perutnya.
"Aku maunya adek cowok, kan adek ceweknya udah ada," selorohnya. Kali ini dengan mimik yang begitu lucu. Ia bicara seolah sedang membayangkan sesuatu.
"Aamiin. Mudah-mudahan adik kecil yang di perut mama ini laki-laki," Rey berusaha membuat anak itu senang dan harapannya bisa terkabul.
"Yang penting sehat, cowok apa cewek sama saja, sayang," sahut Wibie.
"Iya, kalau yang lahir cowok nanti Kakak punya sepasang adek bayi yang lucu. Jika cewek, kakak nantinya bisa bikin kepang rambut mereka secara bergantian," ujar Rey sambil mengelus rambut anaknya itu.
Pagi itu, Rey ada agenda rapat dengan Pemkot DKI Jakarta di kantor Walikota Jakarta Timur namun mereka akan mengantar Devara ke sekolah lebih dulu.
Perusahaan yang dipimpinnya dinyatakan menang tender dan akan menandatangani kontrak kerja untuk lima tahun ke depan.
Rey sebagai Direktur utama memang belum piawai dalam menangani tender,apalagi ini pengalaman pertama bekerja sama dengan pemerintah.
Untuk itu, ia minta di dampingi oleh suaminya sendiri yang menjabat sebagai komisaris perusahaan mereka.
Rey begitu bahagia, saat dihubungi via telepon kemaren siang. Ia nyaris loncat-loncat kegirangan. Kini usaha yang dikelolanya sudah berkembang cukup pesat.
Toko onlinenya ramai, penjualannya mengalami peningkatan hingga 10 kali lipat. Alfian yang membantunya di toko menangani administrasi dan toko online sudah kerepotan. Akhirnya Rey menambah karyawan baru khusus packing dan kurir. Untung Alfian membawa temannya sendiri, jadi Rey tidak repot-repot mencari orang yang cocok sebagai partner Alfian dalam mengelola toko onlinenya.
Perusahaan yang sudah mengantongi izin usaha dan berbadan hukum itu juga sudah mulai menerima pesanan dalam jumlah yang besar dari perusahaan tambang di beberapa kota di luar daerah.
Atas izin suaminya, Rey merekrut satu tenaga marketing freelance yang tugasnya mengunjungi perusahaan-perusahaan tambang lokal di berbagai wilayah untuk menawarkan produk dari konveksi mereka.
Dari hasil kerja marketingnya itu, kini sudah ada orderan dan kerja sama berkelanjutan dengan perusahaan lokal. Tidak hanya dari perusahaan tambang, tapi juga ada perusahaan rekanan PLN yang memesan baju dengan model khusus pada Rey.
Semua permintaan konsumen dilayani dengan senang hati. Karena produksi meningkat dan tenaga kerja yang ada sudah tidak bisa menghandle pekerjaan dengan menambah jam kerja, akhirnya Rey atas kesepakatan suaminya menambah penjahit sebanyak 5 orang.
Kini karyawannya sudah bertambah, dari 13 orang menjadi 20 orang. 18 orang di bagian produksi, 2 orang sebagai administrasi dan kurir.
Omset perusahaan juga bertambah 3 kali lipat dari sebelumnya. Kini Rey yang menjabat sebagai direktur utama di perusahaan itu juga mendapat pembayaran yang berbeda. Berdasarkan kesepakatan ia menerima gaji 3 kali lipat dari gaji komisarisnya. Direktur utama selain sebagai pimpinan perusahaan ia merangkap sebagai pelaksana sedangkan komisaris fungsinya hanya memantau dan dewan pertimbangan.
*****
Tiba di sekolah Devara, Rey yang turun dan mengantarkan anaknya hingga ke kelas sedangkan Wibie memilih menunggu di mobil karena tidak bisa parkir.
Belum juga lima menit Wibie menghentikan kendaraanya, klakson mobil yang ada dibelakangnya sudah menyuruhnya jalan kembali.
Wibie maju beberapa meter, kini posisinya sudah dipojok jalan. Mobil yang lain bisa melintas namun posisinya agak susah jika mau keluar.
"Ah, ikut-ikutan aja nih orang berhenti di sini," gerutu Wibie dalam hati.
Karena mobil itu begitu mepet di sampingnya, pasti akan susah membuka pintu.
Wibie membuka kaca mobilnya, maksud hati ingin menegur pengendara disampingnya bahwa ia hanya sedang menunggu seseorang. Khawatir posisinya akan terkunci jika pemilik mobil itu memang sengaja parkir di situ.
Dalam waktu yang bersamaan, justru sopir disampingnya juga menurunkan kaca mobilnya. Pandangan mereka bertemu, seketika itu juga pemilik mobil menyapa Wibie dengan ramah.
"Nganter Devara, Bos?"
"Iya," sahut Wibie singka, sembari tersenyum tipis. Ia masih heran kenapa Pras sepagi ini sudah muncul di sampingnya dan sempat membuatnya nyaris kesal.
Ternyata, wanita yang duduk di samping Pras itu adalah Dhiza. Mau tidak mau Wibie turun dari mobilnya dan mereka juga melakukan hal yang sama.
"Apa kabar? Lama ga ketemu," ujar Pras sembari menjabat tangan Wibie begitu kencang ketika ketiganya sudah ada di belakang mobil Wibie.
"Alhamdulillah, baik,"
Wibie juga mengulurkan tangan ke arah Diza, perempuan itu sedikit malu. Sejak tadi hanya diam dan senyum juga terkesan terpaksa dan menyembunyikan perasaan malunya.
"Mobilnya lagi servis besar, jadi aku anter untuk sementara waktu. Kebetulan kantornya searah," jelas Pras yang bisa membaca kecurigaan Wibie dan perasaan Dhiza.
Rey datang dari arah timur dan menghampiri mereka. Melihat itu, kontan saya Rey memberi komentar yang membuat muka Dhiza merah padam.
"Sepagi ini kalian sudah dua-duaan. Kalian ga tinggal satu rumah, kan?" tebak Rey sekenanya dengan maksud bercanda.
"Sembarang aja. Mobil Dhiza lagi di bengkel. Tadi aku samperin sekalian karena kantorku kan searah nih sama sekolah," jelas Pras sedikit sewot.
Wibie terkekeh mendengar komentar Rey dan tanggapan Pras.
"Kalian terlihat makin kompak saja, kapan nih aku diundang?" tanya Wibie pada Dhiza.
Dhiza hanya tersenyum, ketika ia akan bicara, Pras sudah lebih dulu menjawab.
"Secepatnya. Ini juga lagi atur jadwal pertemuan orang tua,"
"Mau lamaran?" tebak Rey lagi.
"Insya Allah," sahut Pras.
"Alhamdulillah," kok kamu ga pernah cerita sih.
"Tadinya sih mau kasih surprise, ternyata udah ketangkap tangan. Ya sudah,"
Mereka pun akhirnya tertawa. Dhiza yang awalnya malu, kini mukanya sudah kelihatan lebih rileks.
"Selamat, ya. Semoga lancar hingga ke pelaminan. Jangan lama-lama, usahakan sebelum Rey lahiran," kata Wibie lagi.
"Iya. Rencana akan menggelar resepsi di kampung Dhiza. Semoga ibu hamil ini masih kuat menghadiri pernikahan kami,"
"Insya Allah. Akan diusahakan," Rey langsung menjawabnya.
Tak lama mereka membubarkan diri karena Wibie menjelaskan pada keduanya bahwa mereka buru-buru ingin menghadiri rapat terbatas dengan rekanan Pemprov untuk membahas teknis pengadaan barang dan tanda tangan kontrak kerja.