
Cukup satu kali Rey membunyikan klakson mobilnya, seketika itu juga Pras muncul di depan pintu. Dengan tergopoh-gopoh ia menuju ke pintu gerbang agar mobil yang dikendarai oleh Rey bisa masuk ke garasinya.
"Maaf ya, malam-malam begini ganggu istirahat kalian," Pras buru-buru minta maaf. Ia memang sangat keterlaluan, melihat Wibie yang tertidur di samping sopir membuat semakin merasa bersalah.
"Ga, apa. Namanya keluarga sudah biasa saling membantu," sahut Rey sembari melepas sabuk, dan membangunkan suaminya yang masih saja tertidur pulas meski mesin mobil sudah dimatikan.
"Mas, sudah nyampe nih. Mau lanjut tidur di mobil?" goda Rey sembari mencolek ujung hidung suaminya.
Wibie kaget. Ternyata ia baru sadar bahwa tidurnya begitu nyenyak hingga istrinya sudah memarkirkan mobil, ia tidak sadar diri
"Udah sampe?" gumam Wibie begitu membuka mata, sudah berada di rumah Dhiza.
"Maaf, Ya. Sudah merepotkan," buru-buru Pras mengucapkan hal yang sama begitu ia tahu Wibie sudah terjaga.
Wibie hanya tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Pras. Sepertinya ia tidak mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Pras.
Wibie segera turun dari mobil, mengikuti istrinya yang masuk dari arah pintu depan.
Ia menepuk pundak Pras dengan pelan ketika keduanya sudah berada di ruang tamu.
"Selamat ya, bentar lagi mau jadi bapak,"
"Terimakasih, aku tidak menyangka akan sepanik ini menghadapi Dhiza yang begitu kesakitan,"
"Sabar. Mudah-mudahan Rey bisa membantunya,"
Begitu tiba, Rey langsung menemui Dhiza di dalam kamar, sedangkan Wibie dan Pras menunggu di ruang tamu.
"Mbak, ini Rey. Gimana keadaannya?" Rey mendekatkan diri ke arah Dhiza yang masih dalam posisi nungging di atas tempat tidur.
"Rey," Dhiza mengangkat kepalanya. Ia segera memeluk Rey dengan eratnya.
"Sakit banget," keluhnya dikuti Isak tangis.
"Sabar, Mbak. Ini bagian dari nikmat yang diberikan Allah kepada kaum perempuan. Kita harus bersyukur bisa merasakan rasa yang seperti ini. Di luar sana begitu banyak perempuan yang menginginkan bisa hamil namun Allah belum memberikan kesempatan pada mereka," Rey berusaha menghibur istri sahabatnya itu dengan sabar. Pelan-pelan ia usap bahunya dengan maksud memberi kekuatan.
"Sebentar, aku ambilkan air minum ya. Jika dehidrasi, sakitnya justru semakin bertambah,"
Rey melepas pelukan Dhiza dengan maksud ingin mengambil air putih untuknya.
Belum sempat beranjak dari tempat duduknya, Pras muncul di depan pintu. Dikuti Wibie yang juga penasaran dengan kondisi sahabat kecilnya itu.
"Biar aku yang ambilin minum," cegah Pras, ia langsung ke dapur dan kembali dengan satu gelas air putih di tangannya.
"Minumlah, Mbak. Habiskan," pinta Rey.
Dhiza mengikuti perintah Rey. Kini isaknya mulai berkurang. Ia sudah duduk di tepi tepat tidur dan menghabiskan air putih yang dibawakan suaminya.
"Alhamdulillah," seru Rey begitu gelas itu kosong. Satu gelas air putih langsung ditegak Dhiza dalam sekejap.
"Gimana, udah enakan?" tanya Rey hati-hati.
Dhiza hanya memaksakan untuk tersenyum, namun Rey cukup puas. Paling tidak Isak tangis perempuan ini sudah tidak terdengar lagi.
"Gimana kalau kita jalan, pelan-pelan aja. Mondar-mandir di sekitar sini. Konon jalan dipercaya sebagai bagian dari induksi alami. Saya juga melakukan hal itu. Jangan dipaksain, sekuatnya saja,"
Tanpa menunggu instruksi lagi, Dhiza bangkit dari tempat duduknya, melangkah pelan ke luar kamar.
"Sambil ambil nafas dan buang dengan teratur. Insya Allah bisa bikin semakin lega,"
Meski masih sedikit ragu, Rey tetap memberikan instruksi sebagai pertolongan pertama agar Dhiza terbebas dari rasa nyerinya. Tak apa jika Dhiza menganggapnya terlalu bawel atau sok menggurui. Niatnya hanya ingin Dhiza bisa rileks kembali.
Di luar dugaan, Dhiza mengikuti apapun yang ia katakan,tidak ada ekpresi terpaksa yang terlihat dari wajahnya. Justru ia semakin cerah dan sering tersenyum pada Rey maupun Wibie.
"Maaf ya, aku begitu merepotkan kalian," ucap Dhiza pada Wibie.
"Udah, kayak sama siapa saja. Jangan pikir yang macem-macem. Dibawa santai aja,"
"Terimakasih, aku kira Oma ada di rumah?" Ujarnya lagi.
"Oh, di rumah Om Rasid, ya? tanya Dhiza lagi.
"Iya, biasa arisan tiga bulanan,"
"Kalau kontraksi bilang ya, Mbak. Biar kita cek durasinya. Biar tau sudah pembukaan berapa," Rey mencoba membantu mengingatkan Dhiza untuk menghitung jarak antar kontraksi yang dialaminya.
"Ok. Tadi aku coba cek. Sepertinya selang tiga puluh menit gitu,"
"Berati udah pembukaan tiga ya kalo di cek di Contraction tracker,"
"Iya. Dokternya juga bilang begitu,"
Ternyata komunikasi diantara keduanya, membuat Dhiza melupakan rasa nyeri yang dikeluhkannya. Meski pelan, ia sudah beberapa kali mondar mandir mengelilingi rumah. Dengan sabar juga, ngikuti langkah Dhiza sembari mengajaknya bicara.
Mereka sudah tidak membahas tentang kontraksi lagi, kini sudah beralih ke rencana nama bayi mereka yang diperkirakan berjenis kelamin perempuan.
" Rey bisaan aja, dia begitu piawai mengembalikan suasana hati Dhiza. Lihat aja, sejak tadi senyum senantiasa mengembang dari bibir istriku," Pras mengungkapkan kekagumannya pada Rey yang dalam sekejap bisa membuat Dhiza menjadi ceria.
"Lah elo bisanya cuma bikin doang, perkara sepele begini aja, panik," sergah Wibie sekenanya.
"Dipijit udah, dibantu ini itu juga udah. Tapi tetep aja bawaannya uring-uringan. Semua yang gua kerjain salah terus menurut dia," keluh Pras putus asa.
"Bisa jadi bawaan orok. Hamil anak perempuan, si ibu biasanya lebih sensitif," jelas Wibie.
"Anak pertama, bro. Sama-sama belum pengalaman,"
"Iya, waktu lahiran Devara, mamanya juga lebih parah dari Dhiza,"
"Eh, maaf ya. Jadi mengingat masa lalu," buru-buru Pras minta maaf karena Wibie sudah terlihat murung. Bisa jadi ia teringat masa lalunya bersama istri pertamanya.
"It ok. Sudah berlalu,"
"Mas, aku mau bakso iga," teriak Dhiza dari arah teras.
"Nah, loh. Jam segini cari bakso dimana?"
"Kalian memang jodoh, bukan cuma istrinya yang panikan. Baru diminta bakso doang, lakinya udah pucat pasi," Wibie yang melihat Pras langsung panik mendengar permintaan istrinya jadi geli sendiri.
"He..he....jam segini. Cari di mana?" tanya Pras sembari melihat jam dinding yang tergantung di ruang tamu.
"Tuh ada hp, browsing lah," Wibie mengingatkan.
"Iya, ya. Kenapa ga kepikiran," Pras menepuk keningnya sendiri dan tersenyum malu.
"Panikmu itu yang harus dihilangkan, sudah mikir kalau tetap dibiarkan. Cukup ibunya saja yang panikan, Ayahnya jangan ikut-ikutan,"
"Siap komandan. Aku tinggal dulu, ya. Mau cari bakso buat nyonya besar,"
"Iya, tinggal aja. Dengan makan yang banyak akan sangat membantu Dhiza saat persalinan. Ia butuh banyak tenaga untuk berjuang," jelas Wibie.
"Iya. terimakasih atas semuanya,"
Pras meninggalkan mereka bertiga, sementara ia mengeluarkan motor dan pergi mencari bakso sesuai keinginan sang istri.
****
Happy reading all, tetep saja Author tidak bosan-bosan minta dukungan. Mohon untuk tinggalkan
✓ LIKE
✓ KOMENTAR
✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏
Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊