
Nggak ada ampun, semester ini Rey harus rela untuk lebih sering begadang karena tugas-tugas yang diberikan dosennya. Semua demi memaksimalkan jatah SKS di semester lima.
Semua mata kuliah ia libas, plus mengulang mata kuliah kewiraan dan akutansi dasar karena kedua nilai mata kuliah itu nilainya kurang.
Semester lima, bisa dibilang merupakan hari-hari terberat bagi Rey selama ia menjalani statusnya sebagai mahasiswa kelas karyawan. Ia berpendapat semester inilah penentuannya karena di semester selanjutnya ia ingin fokus KKN dan magang yang bakal kesulitan kalau dibarengi ambil mata kuliah lain.
Rey wajib bersyukur, meskipun ia semakin sibuk dengan urusan pekerjaan dan tugas- tugas kuliahnya, dengan penuh perhatian Wibie membantu meringankan tugas istrinya itu. Jika tidak terlalu sibuk, ia menyempatkan diri untuk pulang meski hari sudah malam. Ia selalu membantu Rey menyelesaikan tugas kuliah sebatas yang dia mampu.
Kadang istrinya itu cukup kuwalahan juga, karena Nathan akhir-akhir ini begitu rewel karena disapih dari ibunya. Ya, ketika usia putranya sudah memasuki dua tahun, secara berlahan memberhentikan asupan ASI untuknya dengan pertimbangan kesehatan.
Alhasil, meski sudah mau dua bulan ini Nathan benar- benar bisa berhenti menyusu dari ibunya namun kebiasaan anak itu memegang dada ibunya ketika hendak tidur belum bisa ditinggalkan.
Rey harus rela berjam-jam menungguin anaknya untuk sekedar ngelonin, membacakan dongeng, atau hanya menjawab rasa penasaran anak itu terhadap sesuatu hal.
Tangan mungilnya akan tetap tertangkup di dada ibunya hingga ia benar-benar terlelap. Nathan baru kali ini terkesan kolokan, biasanya ia adalah bayi yang mandiri. Tidak rewel ketika menghendaki apapun.
Rey turun dari tempat tidurnya dengan mengendap-endap ketika dari kamar itu, ia mendengar suara suaminya.
"Pada di atas, Mas. Mereka semua sudah berangkat tidur sejak jam sembilan," terdengar suara Bu Fat yang masih ada di ruang keluarga, menyambut kehadiran majikannya itu.
Tak lama Wibie sudah sampai di kamarnya, ia mendapati Rey yang tengah menuju ke pintu ingin menyambut kedatangan.
"Kenapa harus memaksakan diri untuk pulang? Istirahat di mess akan lebih baik untuk kesehatan mu, Mas," Rey berusaha mengingatkan suaminya karena sudah dua malam ini suaminya memaksakan diri untuk pulang, sampai di rumah sudah pukul 22.00 WIB.
"Ngak apa. Tadi nyetirnya santai kok. Sengaja dari sana usai isya biar jalanan agak legang,"
"Aku khawatir dengan kesehatanmu, Mas. Lama-lama kamu akan capek kalo mondar-mandir setiap hari,"
"Kamu ini, suami pulang kok ga seneng begitu. Ya udah, kalo gitu besok-besok tidur di mess saja," Wibie mulai ngambek. Ia menjatuhkan tubuhnya yang masih mengenakan pakaian safety di atas tempat tidur.
Rey mendekati Wibie dengan perasaan bersalah, ia tahu jika suaminya itu hanya pura-pura memasang wajah galaknya. Untuk itu ia berusaha agar senyum yang dimiliki oleh pria yang sudah hampir 3 tahun ini menjadi miliknya agar bisa mengembang.
"Kan sudah aku bilang, aku menghawatirkan kesehatanmu, sayang. Tidak ada pikiran apapun," Rey membenamkan kepalanya di dada suaminya yang tengah berbaring sembari menopang kepala dengan kedua tangannya.
Benar saja, mendapati istrinya yang sudah mulai manja begitu, Wibie tidak bisa menahan diri. Ia raih tubuh Rey yang ada di sisi tempat tidur, menariknya hingga posisi Rey tepat di atas tubuh Wibie.
"Apa aku terlihat capek," tanya Wibie. Pandangannya lekat pada wajah istrinya.
Rey tersenyum. Apa yang dikhawatirkan memang terlalu berlebihan. Ia tidak melihat gurat kelelahan sedikitpun pada wajah tampan suaminya.
"Melihat kalian semua, apa yang aku rasakan saat di lapangan runtuh seketika. Apalagi disambut oleh senyum istriku," Wibie menarik kelapa Rey kearahnya. Tidak ada jarak diantara mereka, hingga Wibie bisa merasakan nafas istrinya dari bibir lembutnya itu. Dikecupnya bibir yang senantiasa membangunkan gairah keperkasaan itu.
"Hemm......," gumam Rey pelan.
"He...he. Iya," Wibie menyentil ujung hidung istrinya. Tak lama dia mengalihkan tubuh Rey dan beranjak dari tempat tidur.
"Aku mandi dulu, ya,"
"Jangan ditinggal tidur," Wibie mencoba mengingatkan sebelum berlalu.
"Nggak, aku mau cek ulang tugas yang sudah dikerjakan siang tadi. Mau di kirim malam ini," sahut Rey sembari beranjak dari tempat tidur dan mengambil notebook yang ada di atas nakas, samping tempat tidurnya.
******
Tugas menumpuk, baik tugas individu maupun kelompok. Semua harus selesai sebelum jadwal ujian semester yang akan dimulai lusa nanti.
Meskipun sebagian orang berpendapat jika mahasiswa kelas karyawan itu terlalu di istimewakan karena dosen kerap memberikan toleransi baik kehadiran, tugas, ataupun yang lainnya, pandangan itu tidak selamanya benar.
Beberapa dosen yang idealis tetap memberlakukan segala sesuatunya sesuai dengan aturan tertulis yang ditetapkan oleh pihak kampus. Beberapa diantaranya lagi memang memberikan toleransi yang tinggi karena mereka melihat objek yang mereka hadapi, selain sebagai mahasiswa mereka juga punya kesibukan sebagai karyawan, pelaku usaha, politikus, atau yang lainnya.
Jelas saja dari segi waktu dan konsentrasi mereka tidak bisa di perlakukan sama dengan mahasiswa reguler. Usia mereka juga sangat bervariatif, mulai yang kepala dua hingga yang sudah menginjak usia lanjut.
Mereka hadir ke kampus dengan sisa tenaga yang mereka miliki setelah seharian penuh menyelesaikan tugas-tugas mereka. Tidak heran jika di kelas sering didapati mahasiswa yang tertidur pulas saat dosen memberikan kuliah.
Rey sudah melaluinya selama lima semester, meski cukup berat ia bisa menjalankannya dengan baik. Dari KHS yang telah diterima, nilai rata-rata yang diperoleh masih di atas tiga lebih meskipun ada beberapa kuliah yang mendapatkan nilai cukup.
"Jam segini memang waktu yang tepat untuk menyelesaikan tugas," bisik Rey dalam hati. Ia selalu menyempatkan diri untuk mengecek ulang tugas yang sudah diselesaikannya sembari menunggu toko dan mengawasi anak-anak pada waktu siang hari.
"Udah selesai tugasnya?" tanya Wibie yang baru keluar dari kamar mandi.
"Udah, semua sudah dikirim. Satu lagi masih loading,"
"Kamu sudah makan, Mas?" tanya Rey.
"Belum," sahut Wibie singkat sambil tersenyum.
"Tar aku siapin dulu, sementara nunggu ini," Rey meletakkan kembali notebooknya di atas nakas dan beranjak turun dari tempat tidur.
"Ga usah, Bu Fat masih noton tv. Biar aku turun sendiri,"
"Aku ambilkan makanan untukmu, tunggulah di sini, sayang," Rey memeluk tubuh suaminya yang masih telanjang dada, hanya berbalut handuk putih pada bagian bawahnya.
"Tadi aku bikin sop iga, aku panaskan dulu ya. Sepertinya tubuhmu butuh sesuatu yang hangat,"
Wibie menarik lengan Rey yang hendak meninggalkan kamar. Membawa tubuh wanita itu dalam pelukannya. Wibie sengaja melakukan itu karena ia tahu, Rey sangat terpesona jika melihatnya selesai mandi degan rambut yang masih basah begini.
"Sini dulu, ngapain buru-buru," ujar Wibie.
Tangan Wibie yang kekar melingkar di pinggang Rey. Membawa rapat tubuh istrinya hingga ia bisa merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Rey tersenyum, tidak ada yang bisa diperbuat kecuali menanggalkan handuk yang nyaris lepas dari tubuh suaminya.
"Nakal," bisik Wibie lembut ke telinga istrinya.
"Kamu yang mulai," sahut Rey. Ia tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya karena bibirnya segera terkunci.
Cukup lama bibir mereka mengungkapkan cinta dengan bahasanya sendiri hingga Rey semakin terpacu dan melingkarkan kedua tangannya di leher Wibie.
"Mas," bisiknya pelan.
Tak ada sahutan, Wibie segera mengangkat tubuh yang sudah mulai lemas itu ke atas tempat tidur.
"Mas," bisik Rey lagi. Ia sudah begitu haus sementara Wibie masih berpetualang dengan bibir sensualnya.
"Sabar, perasaan buyung yang lapar kenapa kamu yang mau makan duluan?"
Rey mencubit keras pinggang suaminya, kesal. Wibie paling bisa mempermainkan emosinya jika ia sudah begitu ingin menanjak untuk segera mencapai puncak.
"Auuu, sakit! " pekik Wibie karena cubitan istrinya,
"Ssstttt," jangan keras-keras, nanti Nathan bangun. Rey segera mengingatkan lelaki yang berada di atas tubuhnya yang tak berdaya.
"Kita selesaikan di sebelah. Aku ingin menikmatinya dengan tenang,"
Tanpa persetujuan Rey, Wibie membopong tubuh lemas itu menuju ke kamar sebelah.
"Apa-apaan ini. Tar diliat orang," Rey yang ada di bopongan lelakinya protes seketika. Ia sadar suaminya keluar dari kamar tanpa selembar benangpun menutupi tubuhnya.
"Bodo," sahut Wibie cuek.
Malam itu, Rey menghabiskan waktu di kamar Nathan yang kosong, berdua saja dengan suaminya. Meskipun Wibie bilang ia belum makan, namun setelah keduanya memadu kasih, tubuh gagah itu lemas dan tidur dengan pulasnya.
Rey tidak tega untuk membangunkan suaminya, sepanjang malam ia terlelap dengan senyum yang mengembang. Wibie tetap tak bergeming ketika Rey mengenakan piyama agar tubuh polosnya itu tidak terlihat oleh anak-anak jika mereka bangun sewaktu-waktu.
Happy reading all, tetep saja Author tidak bosan-bosan minta dukungan. Mohon untuk tinggalkan
✓ LIKE
✓ KOMENTAR
✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏
Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊