
Sejurus kemudian, Rey sudah berada di warung yang dimaksud oleh Pak Wibie. Warung bakso yang tidak seberapa luas namun bangunannya rapi, bersih, dan permanen. BAKSO OJO LALI, barner yang terpasang di atas pintu masuk warung itu.
Rey mendapati seorang wanita yang berusia sekitar empat puluh tahun itu sedang membersihkan tumpukan daun bawang dan daun seledri yang ada dalam tampah yang ada di depannya.
"Tidak ada yang berubah, Tante Rohmah masih terlihat seperti dulu. Awet muda dan cantik," bathin Rey dalam hati sembari tersenyum tipis.
Mendapati kehadiran Rey yang memandang lekat padanya wanita itu tersenyum dan berkata.
"Maaf Mbak. Kita buka jam 10. Kuah baksonya belum mendidih," dengan nada yang syarat dengan permohonan maaf.
Sesaat pencangan mereka terpaku. Rey masih mengembangkan senyum di bibirnya dan memandang wanita yang dihadapannya itu dengan begitu haru.
Dengan langkah pelan, Rey menghampiri wanita itu dan duduk persis di depannya. Dengan tenang dan tetap menyunggingkan senyum manisnya, ia menyapa Tante Rohmah yang masih berusaha mengenalinya
"Tante," ujar Rey begitu pelan.
"Saya Reyna, Tante. Anak Pak Rohman," lanjutnya memperkenalkan diri.
Seketika itu juga, wanita yang ada di depan Rey mengamati wajahnya. Tak lama ia menyunggingkan senyum dan berangkat dari tempat duduknya.
"Ya Allah. Tante sudah tidak mengenalimu lagi, Nak. Kau sudah tumbuh begitu tinggi dan cantik sekali," ujar wanita itu terkesima seraya memeluk tubuh Rey dan menepuk-nepuk bahu keponakannya itu dengan sedikit keras.
Kemudian wanita itu melepaskan tubuh Rey dan melemparkan pandangan ke arah luar. Ia seolah-olah mencari sesuatu.
"Kamu sendirian?" tanya Tante sedikit ragu setelah ia menyapu sekitarnya dan tidak mendapati siapapun.
"Iya Tante," jawab Rey singkat.
"Duduklah. Ceritakan bagaimana kau bisa sampai di sini?"
Wanita itu segera mengambil tempat duduk di samping Rey dan ingin mendapatkan penjelasan dari ponakannya itu.
"Rey kabur dari rumah, Tan,"
Rey tertunduk. Ia tidak mau melihat reaksi Tantenya. Rey tiba-tiba menjadi takut. Bagaimana jika Tantenya ini justru tidak menerimanya dan menyuruh ia kembali lagi ke kampung.
Cukup lama wanita itu terdiam dan tak lama ia meraih pundak Rey dan menenangkan keponakannya itu.
"Kenapa kau kabur dari rumah?" tanyanya dengan begitu hati-hati.
Rey menceritakan semuanya secara runtun termasuk perilaku ibunya dan Aldy. Rey berusaha setenang mungkin. Ia tidak mau dianggap cengeng oleh Tantenya.
"Kasihan sekali kamu, Rey. Kenapa ibumu bisa berlaku seperti itu padamu?" gumamnya dengan nada begitu prihatin.
Dipegangnya tangan Rey dengan lembut untuk beberapa saat. Pandangannya kini tengah menyapu kesedihan yang yang terlukis dari wajah cantik keponakannya itu.
"Ya sudah. Jangan sedih . Kau bisa tinggal di sini untuk sementara waktu. Kita cari jalan keluar nya bersama," ujar Tante Rohmah dengan nada yang begitu bijak.
"Tante juga harus mencari cara, bagaimana bisa memberitahu ayahmu? Ia harus tau jika anaknya baik-baik saja di sini?"
"Jangan sampai Ayahmu khawatir dan akan memperparah kondisi kesehatannya," Jelas Tente lagi.
"Tapi Tan, bagaimana jika ibu memaksa aku pulang?" tanya Rey dengan panik.
"Sudahlah. Istirahatlah dulu di atas. Kamar mandinya ada di sebelah kiri. Tante akan menyelesaikan ini dulu,"
"Naiklah. Tidak ada siapapun di atas,"
"Baik Tan. Terimakasih sudah menerimaku di sini,"
"Kita ini keluarga, Rey. Meski jarang sekali bertemu, jika ada kesulitan satu sama lain aku dan ayahmu saling membantu. Namun setelah. Ayahmu sakit, ibumu terkesan memutuskan komunikasi diantara kami. Tapi ya sudahlah. Sekarang ini, bisa bertemu dengan putri Mas Rohman aku sangat senang sekali," ujar wanita itu sembari memeluk Rey kembali sebelum ia melanjutkan pekerjaannya dan Rey meninggalkan ruangan itu.
Di lantai atas, terdapat ruang terbuka yang cukup luas. Di situ ada karpet yang terbentang luas dan satu sofa panjang yang sudah mulai lusuh. Di dinding yang menghadap ke sofa ada tv flat yang cukup besar. Sepertinya ruang ini khusus untuk kumpul keluarga.
Selain itu, ada dua ruang yang cukup besar dengan pintu yang tertutup. Rey meletakkan tas ranselnya di atas sofa karena tidak berani memasuki ruangan itu. Pada bagian sisi tangga, sepertinya ada kamar mandi dan ruang kecil yang kosong.
"Taro di sini dulu. Tante belum memberi tahu dimana aku harus istirahat,"
Rey mengedarkan pandangannya sekali lagi. Ruang yang tidak begitu luas ini sangat sepi sekali. Rey tidak mendapati siapapun di lantai atas.
"Kenapa rumah ini begitu sepi?"
Yang Rey ketahui, Tante mempunyai dua anak laki-laki yang usianya tidak terpaut jauh dengan Rey.
"Mungkin mereka sedang sekolah? Eh, tapi sekarang kan hari libur?"
Karena tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya, Rey kembali lagi ke bawah. Ia menuruni anak tangga yang hanya bisa dilalui satu orang itu satu persatu.
Rey masih melihat tantenya menyelesaikan pekerjaan yang sama. Tumpukan daun bawang dan daun seledri yang ada dihadapannya masih belum diselesaikannya.
"Rey bantuain ya" ujar Rey menawarkan pada Tantenya.
"Kau tidak mandi," tanya Tante karena dal am sekejap ponakannya itu sudah kembali.
"Rey sudah mandi. Tadi sebelum kesini Rey sempat mampir ke kosan temen yang sedang bimbel di Jakarta," jawab Rey berbohong.
Ia tidak mungkin cerita pada tantenya jika ia menginap di hotel dan ke Jakarta naik pesawat sama pak Wibie.
"Oh, ternyata kau bersama temanmu. Pantas saja bisa menemukan alamat Tante,"
"Iya Tante. Saya naik baik bis dari lahat sendiri. Temen Rey yang sudah lebih dulu di sini menjemput di terminal," jelas Rey masih dengan kebohongannya.
"Syukurlah. Yang penting kau selamat nak," sahut Tante dengan nada senang.
"Dimana temanmu itu tinggal?"
"Di Deket pasar Senen, Tan"
"Oh, Deket dari sini. Tadi naik apa ke sini? Bis atau ojek?"
"Rey naik ojol, pake aplikasi teman,"
Kedua saling bertanya dan menceritakan berbagai hal hingga isi tampah yang ada di depannya bersih tak bersisa. Rey dan Tante Rohmah seketika itu juga terlihat begitu dekat, layaknya keluarga yang sering bertemu.
Kecanggungan diantara mereka cair seketika karena Rey yang begitu pandai menjalin komunikasi.