Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
Tamu Tak Diundang


Sore itu, sepulang dari kerja, Wibie mampir ke rumah mertuanya. Selain ingin minta maaf kepada ibu karena saat harus mendadak pulang ke Jakarta tidak memberitahu ibunya, ia juga akan memberitahu kabar gembira pada keluarga itu. Kabar tentang kehamilan Rey yang akan menjadi cucu pertama di keluarga ini.


Saat Wibie tiba, ibu sedang membereskan cucian di ruang laudry bersama Kak Nay. Setelah say hello kepada kedua orang tersebut, Wibie langsung menuju ke belakang rumah, menyusul Ayah yang sedang mengurus ayam-ayamnya.


"Berapa lama lagi bisa menghasilkan telur, Yah?" tanya Wibie


"Yang di kandang ini kira-kira tiga atau empat bulan lagi. Kalau yang disampingnya, yang 10 ekor itu masih anak-anak sekali. Hasil dari induk yang ada di luar ini," jelas Ayah.


Wibie melihat ada beberapa ayam babon yang berkeliaran sedang mencari makanan di sekitar kandang itu. Ternyata itu ayam petelur yang sengaja dipelihara untuk bibit.


"Telurnya dijual apa dikonsumsi sendiri, Yah?"


"Dimakan sendiri. Buat obat, Nak. Sekarang ini dipasaran susah cari ayam kampung yang asli. Telur-telur yang dijual dipasar itu mayoritas telur ayam negeri yang berukuran kecil terus direndam dalam larutan cat tembok selama berhari-hari hingga warnanya lebih putih,"


"Oh, begitu. Saya baru tau. Ternyata pedagang itu banyak yang tidak jujur juga, ya?"


"Karena harga jualnya beda jauh. Telur ayam biasa perkilo 25.000 isi 16 sampai 18 biji. Kalau telur ayam kampung perbutir bisa mencapai 3.500,"


"Salah-salah, niatnya ingin sehat dengan mengkonsumsi telur ayam kampung karena tertipu malah jadi penyakit. Konon telur oplosan itu bisa merusak organ dalam tubuh manusia," jelas ayah lagi.


Obrolan mereka tiba-tiba terhenti seketika karena terdengar suara ibu yang begitu keras dari arah depan rumah. Sepertinya ibu sedang bersi tegang dengan seseorang yang membuatnya berteriak-teriak penuh emosi.


Wibie dan Ayah segera menghampiri ibu untuk mengetahui apa yang terjadi, dengan dipapah oleh mantunya itu, Ayah bisa lebih cepat sampai ke teras rumah.


"Oh, jadi ini anak mantumu itu. Yang membawa lari Rey dari kampung ini?" bentak Aldy seketika itu juga ketika melihat Wibie dan Ayah muncul dari arah belakang rumah.


"Heh, sepertinya aku pernah melihatmu," tunjuk Aldy ke arah Wibie sambil mengingat sesuatu.


"Dia tidak melarikan, Rey. Rey pergi ke Jakarta menyusul Tantenya tanpa sepengetahuan kami. Tolong jangan bikin ribut di sini," Ayah berusaha melerai.


"Kalian ini sungguh keluarga pembohong. Suami istri saja sudah tidak kompak memberi alasan. Aku sudah tau akal busuk kalian, ternyata orang tua dan anak mantunya bersekongkol membohongiku," bentak Aldy tak kalah kerasnya.


Wibie maju beberapa langkah, kini posisinya tepat di depan Aldy. Dengan tegas ia menepuk bahu Aldy dan mengatakan sesuatu


"Jangan mengalihkan kesalahan pada orang lain. Jika kau merasa sudah ditipu oleh keluarga kami, silahkan lapor polisi. Jangan berteriak-teriak seperti banci,"


"Beraninya kau bicara seperti itu padaku. Ingat ya, kau sudah membawa lari calon istriku. Kau harus mengganti rugi semua uang yang sudah aku berikan pada keluarga Rey," bentak Aldy.


Mendengar kalimat ini, baik Ayah maupun Wibie segera mengalihkan pandangannya ke arah Ibu. Merasa terhakimi, ibu menjatuhkan pandangannya ke arah bumi.


"Apa maksud ucapan laki-laki ini, Bu? Siapa dia? Kenapa tiba-tiba datang dan membuat keributan di rumah kita?" Ayah menghujani istrinya dengan pertanyaan yang membuat dirinya bingung akan keributan ini.


"Tenang, Yah. Ayah harus ingat kesahatan Ayah. Bisa kita selesaikan baik-baik kok," Wibie mencoba menenangkan Ayah.


"Eh, kau takut ya jika kedokmu terbongkar. Sekarang aku tanya padamu. Siapa yang banci? Aku atau kamu?"


"Maaf, Bung. Aku tidak faham isi otakmu. Aku tidak menyembunyikan apapun dalam hidupku. Kedok apa yang kau maksud?" Sergah Wibie


"Kau yang membawa lari Rey dari kampung ini. Sekarang kau yang harus membayar lunas semuanya,"


"Sudah...sudah. Jangan ribut lagi. Kenapa kau berani ke sini. Jika kau tidak berlaku kasar pada Rey, anak itu tidak akan lari darimu. Kenapa kini kau melimpahkan kesalahan pada orang lain," bentak ibu lagi.


"Aku tidak peduli lagi dengan anakmu sekarang. Aku ke sini cuma mau minta uang yang pernah kau janjikan. Kau yang bilang jika tidak berhasil membawa Rey kembali akan mengganti kerugianku. Mana uang itu. Sekarang sudah terbukti jika anakmu yang ****** dan murahan itu sudah kawin dengan orang asing yang belum dikenalnya. Sok alim tapi aslinya lebih murah dari *******,"


Seketika itu bogem mentah menghujam ke muka Aldy. Dengan sekuat tenaga, Wibie melayangkan pukulan ke arah bibir Aldy. Ia begitu emosi mendengar mulut motor Aldy yang begitu rendah menilai istrinya


Tubuh Aldy terhuyung dan nyaris jatuh. Namun ia segera menguasai dirinya. Ia tidak melakukan serangan balasan pada Wibie. Kini tubuhnya yang lunglai sudah diapit oleh kedua pria yang datang secara bersamaan ke rumah itu.


"Sudah,jangan bikin keributan di sini. Kita selesaikan baik-baik," ujar salah satu pria yang merupakan tetangga sebelah rumah Rey.


Entah karena tidak punya nyali atau ingin mengikuti perintah tetangga Rey yang melerainya, kini Aldy hanya pasrah ketika kedua pria itu menuntunnya ke arah motor miliknya yang diparkirkan di dekat pintu pagar, di pinggi jalan.


"Pulanglah dulu, nanti kita selesaikan jika situasinya sudah dingin. Pulanglah, Koh," pinta pria itu.


Selepas kepergian Aldy, Ayah segera menghampiri tetangganya yang terusik karena keributan yang itu. Wibie juga senantiasa berada di sisi Ayahnya.


"Maafkan kami sudah mengganggu ketenangan bapak-bapak,"


"Tidak apa, jika ada sesuatu kita selesaikan dengan damai ya, Pak. Kita punya ketua lingkungan yang bisa menengahi segala permasalahan yang terjadi pada warganya. Tidak harus main kekerasan," ucap pria itu lagi.


"Maaf, kami sudah memintanya untuk bicara baik-baik tapi sifatnya yang keras kepala memang harus diberi pelajaran," Wibie menimpali.


"Ota, Mas. Semoga dia tidak datang lagi kemari. Tapi cobalah untuk menyelesaikan masalah kalian agar tidak berlarut-larut,"


"Baik. Nanti saya akan berkunjung ke tempatnya. Terimakasih atas perhatiannya. Mungkin jika bapak tidak datang ia tidak akan mau meninggalkan tempat ini," ujar Wibie lagi.


"Sama-sama, Mas. Kami pamit dulu,"


Kedua pria itu mohon undur diri dan meninggalkan rumah Rey setelah menundukkan badannya ke arah Ayah.


"Bu, ibu harus menjelaskan semua ini," perintah Ayah ketika kedua tetangganya itu sudah menghilang dari halaman rumah mereka.


Ayah melangkah menuju ruang tamu, dikuti ibu dan juga Wibie.


*****


"Pria itu Aldy, kan?" tanya Ayah dengan tatapan yang begitu tajam pada istrinya.


"Iya," jawab ibu singkat. Pandangannya masih tertunduk ke bumi.


"Apa uang yang dulu belum juga kau berikan padanya?" tanya Ayah lagi. Kali ini suaranya sudah mulai meninggi.


Wibie yang duduk disampingnya dengan sabar mengelus pundak ayahnya agar ia tidak terbawa emosi.


"Belum," sahut ibu lagi.


"Kenapa, Bu. Apa kau puas dengan kejadian ini?"


"Aku tidak iklas memberikan uang itu padanya. Aku rasa ia hanya ingin memeras ibu. Jika dihitung-hitung 8 juta itu bangak, Yah," ibu mulai terisak


"Ia hanya beberapa kali memberiku satu kilo apel. Sedangkan kosmetik dan perlengkapan laundry yang yang ia berikan dia bilang bonus yang diberikan untuk pelanggan. Kulkas yang ada di dapur itu harganya juga tidak melebihi 1,5juta,"


"Ya, ampun Bu. Kau sudah berbohong pada suamimu dan juga menantimu sendiri. Kau bilang ia minta ganti rugi 20 juta, nyatanya cuma segitu. Itu juga belum kau bayarkan ke dia,"


"Ibu macam apa kau ini. Sekarang kau mau bilang apa pada Wibie? Dia begitu dipermalukan oleh ulahmu!"


Ibu hanya bisa menunduk, suara isaknya mulai pecah. Ayah juga sudah tidak sanggup berkata-kata lagi, ia begitu malu atas tingkah laku istrinya itu.


"Sudahlah, tidak usah dibesar-besarkan. Jika perlu saya akan ke toko Aldy dan menyelesaikan urusan ini,"


"Jangan, biar ibu yang ke sana," sahut ibu secepatnya.


"Baiklah jika begitu. Bisa aku mohon sesuatu?"


"Apa, Nak?" tanya Ayah serius.


"Tolong rahasiakan kejadian ini dari Rey. Aku tidak mau ia menjadi panik. Saat ini dia sedang mengandung, usia kehamilan sudah 8 minggu,"


"Apa, Rey hamil," sahut Ayah dan ibu secara bersamaan.


"Iya, tadi aku ke sini memang ingin memberitahukan kabar baik ini,"


"Maafkan kami, kami sudah membuatmu malu,"


"Sudahlah, Yah. Semua sudah terjadi. Kita berdoa saja soga Aldy tidak membuat keributan lagi,"