
Tiba di hotel sudah menunjukkan pukul 22.30 wib. Wibie memilih hotel Dafam sebagai tempat yang menurutnya cukup safety untuk menyembunyikan Rey.
Hotel bintang empat yang terletak di KM 12 lintas sumatera. Dari sini hanya butuh sekitar 10 menit menuju bandara dan 15 menit ke pusat kota.
"Semoga tidak ada yang tahu keberadaan gadis ini hingga aku bisa menyelamatkannya," ujar Wibie penuh harap.
Jujur saja, ia benar-benar merasa gugup, takut, dan entah perasaan apa lagi yang ada di kepalanya saat ini.
Dafam hotel juga dilengkapi shopping arcade yang terintegrasi di komplek Linggau Avenue. Wibie menginap di tempat ini kala ada kunjungan kerja ke Sumatra, jauh sebelum ia bertugas di tempatnya saat ini.
Jadi, ia sudah cukup familiar dengan pelayanan di sini. Beberapa karyawan juga sudah banyak yang mengenal dirinya sebagai pelanggan.
Wibie memesan kamar yang biasa ia tempati. Deluxe room yang dilengkapi internet akses in room. Kamar dengan view hutan alam ini bisa mengurangi kejenuhan Rey selama dalam pelarian. Sebelum mereka ke Jakarta.
Seperti biasa, Rey mengikuti langkah Wibie setelah mereka menerima kartu dari resepsionis. Suasana cukup sepi. Mungkin karena hari kerja. Mereka berdua menuju ke kamar dengan lift menuju ke lantai tiga.
"Dua malam ke depan kau di sini saja. Ga perlu takut. Aku sudah menitipkan dirimu pada manager hotel ini. Jika butuh sesuatu kau hubungi saja dia. Nanti aku kirim no hpnya,"
"Iya pak. Terimakasih," sahut Rey pelan.
"Ini kamarnya," ujar Wibie lagi ketika sudah berada di depan sebuah kamar yang ada di samping kiri lift.
"Masuklah," Wibie mempersilahkan Rey yang masih berdiri di depan pintu.
Saat pintu kamar terbuka, semua lampu menyala. Tampak sebuah kamar dengan tempat tidur yang besar dengan lapisan bad cover putih bersih.
"Apa Pak Wibie malam ini juga bermalam disini," tanya Rey dalam hati.
"Jika ia juga tidur disini. Kasurnya hanya ada satu. Lalu aku tidur dimana?" Pikiran Rey sudah tersesat kemana-mana.
Rey meletakkan tas ranselnya di meja dan melemparkan dirinya di sofa yang ada di kamar itu. Ia mengamati Wibie yang langsung menuju ke kamar mandi. Tak lama, pria itu keluar dan duduk di atas kasur.
"Hari sudah malam. Aku juga sudah terlalu capek karena mengemudi seorang diri. Malam ini aku akan tidur di sini,"
Kontan saya muka Rey menjadi pucat pasi mendengar pernyataan pria itu. Apa yang ada dalam pikirannya benar-benar menjadi kenyataan.
"Duh. Bagaimana ini. Kenapa aku menjadi bodoh begini. Aku ingin lari dari Aldy tapi aku harus terjebak tidur seranjang dengan orang yang belum begitu ku kenal," teriak Rey dalam hati yang hampir membuatnya menangis.
Wibie sepertinya bisa membaca kegusaran hati Rey. Niat jahilnya jadi muncul secara tiba-tiba
"Kamu mau kan berbagi kasur denganku? Sewa kamar ini cukup mahal, loh. Sayang jika aku harus buka kamar lagi sementara kasur di sini begitu lega untuk kau tempati seorang diri," ujarnya lagi.
Pandangannya tertuju pada Rey yang duduk di hadapan. Pandangan yang tajam, menunggu jawaban Rey atas candaannya tadi.
Rey tidak menjawab. Dia menggigit ujung bibirnya dan tersenyum begitu kecut.
"Boleh ga? Meski aku yang membayar kamar ini tapi aku sudah mengikhlaskannya untukmu. Jadi jika aku mau menginap, aku harus ijin dulu padamu," tambahnya lagi.
Ia memandang lekat pada Rey yang masih duduk di sofa, tepat di depannya. Dalam hati ia sudah merasa bahagia melihat perubahan wajah gadis itu yang mulai gusar dan ketakutan.
"Ya sudah. Ayo... Berbaringlah di sini. Sudah malam. Aku mau istirahat," ajak Wibie sembari melangkah menuju pembaringannya.
Tanpa menunggu reaksi Rey, Wibie merebahkan badannya begitu saja di kasur itu. Sepertinya ia memang sudah tidak bisa menahan kantuknya.
Rey tidak bergeser dari tempat duduknya. Ia hanya mengamati tubuh Wibie yang sudah telentang dan menenggelamkan kepalanya di bawah bantal. Hanya tapak kakinya yang putih dan bersih, yang masih terlihat jelas oleh Rey.
"Rey, kamu kok diem aja. Sini! Tidurlah di sampingku," ajaknya lagi.
"Apa kau akan duduk di situ hingga esok pagi?" Tambahnya lagi.
Rey melangkah ragu menuju ke arah dimana Wibie merebahkan dirinya. Dengan pelan ia naik ke atas kasur dan duduk di samping Wibie yang masih menutup kepalanya dengan bantal
Menyadari kehadiran Rey di sampingnya, Wibie mengangkat bantal yang menutupi kepalanya dan memindahkannya di balik kepala. Ia juga mengubah posisi tubuhnya menjadi miring ke arah Rey yang masih terduduk di samping tempat tidur.
"Eh! Kamu ga punya baju ganti ya? Kamu kan juga belum mandi. Kenapa tadi ga bilang kalo ga ada baju? Kita bisa mampir ke toko untuk membelinya," oceh Wibie yang baru sadar jika Rey masih mengenakan seragam sekolahnya.
"Saya bawa baju kok, Pak. Ada satu stel di tas saya," jawab Rey pelan.
"Terus kenapa kau tidak membersihkan tubuhmu. Lihat wajah mu yang kumut-kumut itu," ocehnya lagi.
"Mandilah. Ganti pakaianmu. Mana bisa aku tidur dengan gadis yang jorok seperti mu," ocehnya lagi dengan mimik muka yang pura-pura galak.
Wibie beranjak dari kasur. Membawa bantalnya dan bangkit dari tempat tidurnya. Kemudian ia melemparkan tubuhnya di atas sofa yang ditempati oleh Rey tadi.
"Aku tidur di sini saja. Mandilah dulu. Baumu itu kecium hinga ke sini,"
Rey yang sejak tadi gusar karena khawatir akan terjadi sesuatu jika ia dan Wibie tidur dalam satu ranjang tiba-tiba berubah menjadi kesal. Ucapan Wibie kali ini telah menyinggung perasaan.
"Menjengkelkan sekali," Rey mendengus halus
"Apa iya tubuhku bau seperti yang di katakan pria itu?" gerutunya. Ia segera mengecek kondisi tubuhnya dengan mengedarkan penciuman ke arah ketiak kanan dan kiri.
"Bohong sekali. Aku tidak mencium bau apapun," ucapnya kesal.
Rey bangkit dari kasur dan membuka tas ranselnya. Ia segera melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dari balik bantalnya, Wibie tersenyum menang. Ia sudah berhasil membuat Rey yang begitu takut menjadi marah padanya.
Hingga Rey keluar dari kamar mandi dan merebahkan dirinya kembali di kasur, Wibie tetap berbaring di sofa dan pura-pura tertidur nyenyak.
Ia mengamati Rey dari sudut matanya di balik bantal. Rupanya gadis itu belum tidur. Kaki kanannya masih bergerak tak ubahnya getaran.
"Gaya tidur macam apa itu? Kenapa kaki anak itu tak bisa diam," pikir Wibie heran.
Cukup lama ia memperhatikan kaki itu hingga kantuknya tak tertahan lagi, hingga ia benar-benar tertidur dengan pulasnya.