
Menjalani sesuatu yang baru apalagi jika dilandasi atas dasar keinginan yang begitu kuat, dapat menyebabkan hal yang dirasa oleh sebagian orang begitu berat menjadi begitu ringan bagi yang menjalaninya.
Itulah yang dialami oleh Rey saat ini. Sejak pukul 4 pagi ia sudah bangun. Selesai ibadah ia mengurus keperluan Devara hingga ia berangkat ke sekolah.
Ia diamanati untuk menemani dan menjaga anak itu selama Wibie di luar kota. Tentu saja permintaan itu disambut dengan senang hati oleh Rey. Akan ia buktikan, meskipun usianya terbilang masih belia namun ia bisa mengurus keluarga layaknya ibu rumah tangga lainnya.
Setelah itu, Rey akan menyelesaikan tugasnya di toko dan memantau para pekerja di pabrik.
Ia cukup beruntung, pekerjaan yang diberikan oleh pak Wibie tidak begitu menyita waktunya. Kecuali jika ada pesanan dalam jumlah yang besar atau costumer yang datang dalam waktu yang bersamaan. Rey yang terbiasa hidup susah bisa mengatasi semuanya dengan baik.
Sore ini, ada kuliah perdana di kampusnya. Sejak pagi Rey begitu deg-degan. Jam terasa begitu lambat berputar. Ia sudah tidak sabar untuk mengetahui bagaimana rasanya menjadi mahasiswa.
Karena Rey mengambil kelas karyawan, jadi perkuliahan di laksanakan pada malam hari. Mulai pukul 17.00 hingga hingga pukul 21.00.
Menurut jadwal yang diterimanya, kuliah perdana akan diadakan secara klasikal di ruang auditorium. Mahasiswa baru diharapkan datang tepat waktu dan mengenakan pakaian yang sopan.
"Ada ospeknya ga ya? Seperti kuliah reguler, gitu? tanya Rey dalam hati.
Sejak SMA Rey membayangkan, bahagianya menjadi mahasiswa itu saat orientasi. Ia bisa mengenal teman-teman dari berbagai jurusan. Berkenalan dengan kakak tingkat dan pengenalan berbagai organisasi yang ada di kampus.
Belum lagi cerita seru yang ia dengan pada saat masa orientasi. Ada yang sukses mendapat gebetan hingga lanjut ke pelaminan, ada yang bertemu musuh abadi, dan pengalaman-pengalaman lainnya.
Rey mengendarai motornya dengan kecepatan 40 saja. Ia berangkat kuliah setelah menutup toko dan menemani Devara mandi dan mendandani anak itu.
Sore begini jalanan lumayan macet karena banyak penduduk Bekasi dan sekitarnya yang bekerja di Jakarta melintasi Penggilingan. Menuju kembali ke rumahnya setelah mengais rupiah di Jakarta.
Udara begitu cerah, secerah senyumnya ketika sudah melihat kampusnya yang megah dari kejauhan.
Pak Wibie benar, ia merekomendasikan kampus yang paling bergensi di Jakarta Timur ini sebagai tepat kuliahnya karena jarak tempuhnya dari rumah tidak begitu jauh.
" Yes, cuma 20 menit," bisik Rey.
"Ternyata naik motor bisa lebih cepat sampai ke kampus," ujarnya lagi.
Ia segera memarkirkan PCX milik pak Wibie itu dibarisan parkir kendaraan roda dua lainnya.
Petugas parkir gedung itu segera menghampiri Rey dan merapatkan motornya ke sisi yang sudah terisi agar bisa memberi ruang pada pengemudi yang lain.
Suasana kampus masih ramai meskipun matahari telah bergeser berganti senja.
Di antara yang terlihat, ada yang sudah menyelesaikan kuliahnya, bergegas pulang. Ada juga yang baru datang, terburu-buru menuju ruang auditorium.
Rey ada dikelompok yang kedua. Ia tidak perlu tanya, dimana letak ruang yang dimaksud karena Rey bisa membaca diantara mereka yang berbarengan memarkirkan kendaraan, ada ditujuan yang sama.
Ia hanya mengikuti langkah orang-orang yang sudah melangkah lebih dulu.
Dalam ruang yang besar, full AC, dan dilengkapinya dengan audio visual itu berjajar ratusan kursi yang hampir terisi penuh oleh orang-orang yang masuk ke ruang itu.
Meski belum terlambat, namun sebagian kursi sudah terisi. Rey mengbil posisi duduk di belakang. Agar lebih praktis keluar ruang jika kuliah sudah selesai.
Rey menyapu seluruh orang yang sudah duduk dengan tenang di kursinya masing-masing. Usia mereka sangat bervariatif. Mulai dari yang masih belia (lulusan SMA) hingga yang sudah keriput dan ubanan. Rata-rata didominasi usia kepala tiga.
Ada yang masih seumuran dengannya, ada yang sudah berumur. Bisa jadi mereka saat ini sudah berkeluarga, memiliki anak atau cucu.
Dilihat dari kostum yang mereka kenakan sore itu, sepertinya mereka mempunyai latar belakang pekerjaan heterogen. Mulai dari seragam SPG/ Merchandise (MD), seragam kantoran, ada juga yang mengenakan pakaian dinas instansi pemerintahan.
Mungkin mereka tidak cukup waktu untuk pulang ke rumah, akhirnya sebagia dari mereka masih memakai seragam dan atribut kerja lainnya, seperti pin kinerja, name tag, rompi, topi promosi dan lain lain.
Rey senyum sendiri. Inilah teman-temannya. Teman berjuang yang akan bersama-sama menyelesaikan studinya di kampus ini.
"Lucu sekaligus menghibur. Mereka lebih mirip iklan berjalan. Baju yang dipakai merupakan produk atau identitas mereka," bisik Rey lagi
Sesaat berikutnya, perkuliahan dimulai. Di awali dengan berbagai sambutan, mulai dari rektor yang sekaligus ditugaskan membuka perkuliahan dilanjut dengan sambutan rektor 1 hingga rektor 3.
Semua yang mereka sampaikan lebih pada penyelenggaraan perkuliahan, kebijakan dan peraturan yang berlaku di kampus.
"Sudah lamanya?" tanya seseorang yang baru saja duduk di samping Rey. Pria yang masih mengenakan kemeja lengan panjang itu memecahkan konsentrasi Rey yang sedang menyimak apa yang disampaikan di depan.
"Bener-bener kacau. Hari ini banyak kerjaan. Sampe lupa kalau ada kuliah perdana," keluhnya sambil merogoh-rogoh tas kerjanya. Sepertinya ia sedang mencari sesuatu.
Rey hanya tersenyum. Pandangannya kembali ke depan. Kini sudah memasuki acara berikutnya. Pedoman mahasiswa baru Kelas karyawan.
"Satu sesi lagi selesai," Rey memberi tahu orang yang di sebelahnya. Kode bahwa ia datang memang sangat telat.
"Ga apa, yang penting absen," sahutnya lagi. Kemudian ia mengembangkan senyum.
"Menggugurkan kewajiban doang dong," ujar Rey lagi.
"Yup,"
Hening.....
Lama keduanya tak bersuara. Narasumber di depan menampilkan jumlah SKS yang harus diselesaikan oleh mahasiswa program S1 dan diploma berikut SKS minimal yang harus diambil setiap semesternya.
"Ambil jurusan apa?" tanya pria itu lagi. Kali ini dia sudah mulai mencatat point-poitn penting yang disampaikan oleh narasumber di depan.
"Akutansi," jawab Rey singkat. Ia tetap konsentrasi dengan materi yang disampaikan.
"Eh, sama dong,"
Seketika pria itu berbalik ke arah Rey seolah mendapat sesuatu yang ia butuhkan.
"Kenalin, aku Pras," pria itu menyodorkan tangannya ke arah Rey.
Dengan tidak mengurangi rasa hormat, Rey menyambut uluran tangan itu dan tersenyum ramah.
"Rey. Reyna Anggra,"
"Nama yang bagus. Tegas dan anggun. Seperti wujud pemilik namanya," pria itu bergumam.
Pandangannya tertuju pada notebook yang ada di depannya. Menulis informasi yang ia tangkap dari narasumber di depan.
Prasetyo Arman, yang lebih ingin dipanggil Pras ini adalah orang pertama yang menjadi teman Rey. Teman pertama dikuliah perdana mereka.
Pras orangnya banyak bicara dan suka melucu. Ia cepat akrab dengan siapapun. Termasuk Rey, mereka bertukar nomer kontak sebelum kuliah berakhir.
Hingga usai kuliah, mereka lebih banyak bicara pribadi satu sama lainnya. Pras adalah karyawan bank swasta berskala internasional yang berkantor tidak jauh dari kampus.
Menurutnya, Ia masih melajang meskipun usianya sudah kepala tiga. Alasannya sederhana saja. Jodohnya belum lahir ke dunia. Pras memang sosok pribadi ramai dan menyenangkan.
"Orangnya tampan. Kerjanya mapan. Gayanya modis plus pandai bergaul. Apa benar belum ada wanita yang menempati hatinya," tanya Rey dalam hati.
"Entahlah. Hanya dia dan Tugannya yang tau," bisik Rey lagi.
Rey mengangkat kedua bahunya pertanda masa bodo amat. Bisa jadi dia tidak bicara yang sebenarnya.
"Kamu bawa kendaraan?" tanya Pras memecahkan pikiran Rey, ketika mereka hendak meninggalkan ruang auditorium.
"Aku bawa motor," sahut Rey sambil melangkah mengiringi Pras menuju lapangan parkir.
"Aku nebeng, ya. Tadi aku naik Grab karena buru-buru. Mobilku masih ada di kantor," jelasnya lagi.
"Lah, aku mesti mboncengi kamu gitu?" tanya Rey geli.
"Gak, lah. Biar aku yang bawa motornya hingga ke kantorku.
"Kan selurusan aja tuh sama ke arah rumahmu," tambahnya lagi.
"Ya, udah. Tapi kali ini aja ya. Besok-besok ga ada tebengan lagi. Apapun alasannya," tegas Rey. Ia tidak tega pada temannya itu.
Karena sudah jam 9 malem pasti sudah untuk order grab. Rey akan merasa bersalah jika menolak permintaan itu. Toh mereka menuju ke arah yang sama.