Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
EP. 42 Percayalah!


"Sepertinya kurang tidur?" tanya Alex yang sejak tadi melihat Rey selalu menguap.


"Iya, chating sampe jam 2,"


"Suamimu kangen kali?"


"Bukan, Pak Gun. Aku udah berkali-kali pamit tapi dia tetep aja ngajakin ngobrol?"


"Oh, urusan bisnisnya masih lanjut. Syukurlah kalau begitu,"


Rey diam. Ia mengambil beberapa foto ikan asin gabus yang akan diposting di web. Sejak siang mereka sudah mengumpulkan perwakilan dari pemuda desa untuk membuat beberapa tampilan web yang sudah mulai beroperasi.


"Pak Gun udah berapa kali order?" Alex sengaja mengorek keterangan dari Rey untuk membuktikan ke-kurang ajaran Pak Gun.


Meskipun Alex belum mengenal Rey, namun ia yakin apa yang disampaikan Agus padanya itu hanya akal-akalan Pak Gun saja. Rey tidak akan berbuat sebejad itu untuk mendapatkan keinginannya.


"Belum pernah," jawab Rey singkat.


"Kok?"


Rey menatap Alex dengan tatapan yang tajam. Kemudian ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk memastikan bahwa tidak akan ada orang lain mendengar apa yang akan di sampaikan pada Alex.


Membaca ekspresi Rey, Alex mengajak wanita itu duduk di sampingnya.


"Sini," ajaknya yang lebih dulu duduk di kursi paling pojok. Di balai desa itu.


"Ada apa sih?" tanya Alex cukup serius.


Rey menceritakan semua kejadian yang dialaminya, mulai dari pertemuannya dengan Pak Gun waktu, bagaimana Pak Gun marah ketika ia VC di ambil alih suaminya hingga chat mesumnya tadi malem. Bahkan Rey menunjukkan WA yang dikirim Pak Gun berikut Vidio tidak senonoh.


"Aku sudah menduga," gumam Alex.


"Bagaimana bisa?"


"Ada beberapa mahasiswa yang sudah jadi korban Pak Gun. Mereka terpaksa melayani nafsu laki-laki tua itu karena khawatir nilai mata kuliahnya jelek,"


"Pak Gun juga bicara seperti itu padaku. Apalagi ia bilang akan mengajukan usulan ke pihak kampus agar dia yang akan menjadi pembimbing skripsiku,"


"Apa suamimu tau?"


"Sejak kejadian malam itu aku tidak cerita apa-apa lagi padanya karena khawatir ia akan melakukan sesuatu yang tidak aku inginkan. Aku hanya ingin bisa lulus kuliah sesuai waktunya. Jika sampai terjadi keributan, aku khawatir Pak Gun juga semakin menunjukkan kekuasaannya," sahut Rey begitu sedih.


"Jadi kau ingin mengikuti permainannya?" selidik Alex.


"Enggaklah, enak aja. Cuma aku tidak mau ribut, sekarang yang bisa aku lakukan hanya menghindar, entah sampai kapan? Kau liat sendiri, sejak aku di sini dia terus chating kalo malem,"


"Keterlaluan,"


"Please, jangan bilang ke siapa-siapa ya!" pinta Rey.


"Iya, tar aku coba bantuin cari solusinya. Udah ga usah dipikirin. Bawa santai aja,"


"Maunya sih begitu, tapi ganggu juga kalo dia terus-menerus kirim Vidio seperti itu,"


"Kau buka ga?"


"Gila, kan liat sendiri tadi. Ga ada satupun yang aku buka,"


"Bisa aja, sekarang segala bisa di rekayasa," goda Alex.


"Is....kalo yang jomblo mungkin penasaran. Kalau aku mah udah khatam,"


"Hemmm.......ga usah dibahas yang itu mah. Aku udah liat bekasnya waktu itu," ujar Alex dengan wajah sedihnya.


Rey hanya bisa memukul pundak Alex dengan kekuatannya. Ia jadi malu kalau ingat bagaimana ekspresi Rara dan Alex yang melihat stempel Wibie di tubuhnya.


"Sejak kapan kau menikah?"


"Sejak awal kuliah. Belum satu Minggu jadi mahasiswa usah jadi istri orang,"


"Sudah lama kenal sama dia?"


"Belum. Dia yang bantuin aku kabur ke Jakarta. Karena aku juga kerja sama dia, ya sudah. Begitu dia melamar aku terima,"


Rey menceritakan alasan ia kabur dari rumah hingga bisa kuliah dan memutuskan untuk menikah. Alex yang mendengar cerita itu cukup kaget. Ia tidak mengira, Rey bisa setegar itu menghadapi hidup.


"Berarti kamu nikah karena terpaksa atau bisa jadi karena ingin balas Budi?"


"Enggaklah. Dia pria yang tampan. Sejak ketemu dia, aku sudah mulai gimana gitu?"


"Lex," panggil Rey. Beberapa saat pria itu diam membuat Rey penasaran, apa pria ini baik-baik aja.


"Hem...,"


"Aku tidak pernah cerita pada siapapun tetang pak Gun kecuali sama suamiku dan Pras. Tolong rahasiakan, ya! Aku bingung, apa yang akan dia rencanakan pada nasibku?"


Alex ingin memberitahukan apa yang telah di perbuat oleh Pak Gun terhadap bisnis onlinenya. Namun niat itu diurungkannya karena takut Rey akan terganggu dengan kabar itu.


"Usahamu lancar kan?" tanya Alex lagi. Ia berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Offline Alhamdulillah lancar, yang online aku stop dulu karena ada orang iseng yang tidak bertanggung jawab,"


"Maksudnya?" Alex pura-pura tidak tahu. Ia hanya ingin mencocokkan cerita Agus dengan apa yang terjadi dengan Rey.


Ternyata benar, apa yang disampaikan Rey sama persis dengan yang disampaikan Agus. Alex semakin geram dengan Pak Gun, " Bandot itu sangat keterlaluan sekali," bathin Alex.


"Berarti belum ada rencana dilanjutkan?"


"Belum tau. Aku tidak begitu faham dengan IT, kemaren itu yang bantuin temen kantornya Pras. Cuma aku kurang yakin kalau mereka kapok. Bisa jadi akan melakukan hal yang lebih sadis untuk menjatuhkan usahaku," keluh Rey begitu sedih.


"Apa kau punya musuh atau orang yang merasa di saingi dalam usaha?"


"Toko online itu aku buka sudah hampir 4 tahun. Selama ini ga ada masalah. Justru konsumen yang pernah order menjadi pelanggan setia. Tapi entahlah, siapa yang suka iseng seperti itu?"


"Sabar, Rey. Semua ada solusinya. Kita punya pakar IT kok, nanti bisa kita bahas lagi jika kau ingin memperbaiki reputasi tokomu,"


"Iya, terimakasih ya,"


"Sama-sama. Dengan berbagi bisa meringankan pikiran. Aku bisa menjadi temanmu kok,"


"Terimakasih, Lex"


"Iya, kau sudah mengucapkannya seribu kali," canda Alex.


"He...he....," Rey tersenyum renyah. Alex memang bisa membuat suasana hati Rey menjadi riang kembali.


"Sabar ya, kau punya suami yang baik dan teman yang selalu siap membantu. Semua akan baik-baik saja. Percayalah," Alex berusaha meyakinkan Rey agar dia tidak terlalu memikirkan tingkah ganjen dosen bandot itu.


"Terimakasih, Lex,"


"Hemmmm udah uang ke 1001 nih,"


"Ha...ha.....bisaan aja," tawa Rey makin renyah.


"Ok, kita lanjut lagi. Beberapa foto ikan asin dan olahan ikan gabus udah siap di unggah tinggal menyiapkan deskripsi produk. Sekarang tinggal udang dan hasil olahannya," Alex bangkit dari tempat duduknya. Ia menghampiri Adel yang tengah memilah-milah foto hasil jepretannya. Sementara Pandu dan Rara tengah memberikan simulasi pada pemuda desa bagaimana cara mengunggah foto yang baik di web dan membuat deskripsi yang menarik,"


"Kita sampai jam 3 aja, ya. Setelah ini kita ke posyandu, bantuin Risya untuk persiapan besok," Alex mengingatkan teman-temannya agar memaksimalkan waktu yang tersisa karena masih ada kegiatan yang lain.


"Aku laper," rengek Rara pada Pandu.


"Tar pas mau ke posyandu kita mampir makan tekwan dulu. Belum nyobain, katanya enak,"


"Iya, ide bagus itu,"


"Hemmm..... bisik-bisik aja nih berdua," Rey yang mendengar rencana mereka berdua ikutan nimbrung.


"Ga usah ikut campur, ini urusan anak muda. Emak-emak mana boleh ikutan,"sahut Pandu.


"Begitu, ya?" sahut Rey pura-pura sedih.


"Ha....ha..... Serius banget lu. Udah kerja dulu biar cepet selesai. Tar diajakin kok," buru-buru Pandu memperbaiki ekpresi Rey yang pura-pura sedih.


"Nah, begitu dong. Itu namanya temen," seru Rey sembari mengembangkan senyumnya.


*****


Happy reading all! Jangan lupa tinggalkan


✓ LIKE


✓ KOMENTAR


✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏


Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih.


Kunjungi juga novelku yang lainnya ya, yang berjudul I am Feeling Blue dan Temani Aku, Ken. Barangkali kalian berkenan. Terimakasih!!!