Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
Pukul 23.45


Rey membalikkan tubuhnya, kini posisi mereka saling berhadapan dengan jarak yang begitu dekat.


Rey menatap lekat-lekat mata suaminya, kemudian meraih tangannya dan membawa ke dadanya agar Wibie bisa merasakan keteguhan hatinya.


"Maaf, Pak. Kita kan belum pernah pacaran. Beberapa bulan ketemu langsung menikah. Aku bahkan belum begitu mengenal sisi hatimu," Rey mencoba memberi alasan.


"Hemm. Pak lagi,"


Rey hanya tersenyum, kali ini malah merebahkan kepalanya di dada suaminya.


"Maaf. Iya sayang," sahut Rey mengoreksi panggilan pada suaminya. Rona merah kembali muncul di kedua pipinya.


Wibie mengelus bahu kiri Rey dengan lembut. Kini malah Rey yang menjadi begitu gugup. Terasa sekali tangan yang masih memegang erat tangannya bergetar halus.


"Saat pertama melihatmu. Saat diriku sanggup membawamu ke Jakarta hingga akhirnya aku meminta mu menjadi istriku apakah itu belum cukup bagimu untuk mengetahui sisi hatiku? Jika engkau tidak yakin, kenapa engkau mau menikah denganku?"


"Saat pertama melihatku? Kapan itu?" tanya Rey begitu serius


"Saat hujan," jawab Wibie singkat.


Rey seketika ingat sesuatu. Pada pria asing yang ia temui di halte dan suara yang berasa ia kenal ketika bertemu pak Wibie di mess 105.


Rey membalikkan tubuhnya kembali. Ditatapnya lagi wajah itu lekat-lekat.


Masih ragu dengan penglihatannya, Rey menutup bagian mulut hingga hidup Wibie dengan tangannya. Kini hanya matanya yang bisa terlihat oleh Rey.


"Tatapan yang begitu bersahabat itu tenyata sudah menjadi milikku," ujar Rey setengah berbisik.


Rey tersenyum tipis. Ternyata dugaannya benar, namun waktu itu ia terlalu lelah untuk menghubungkan antara satu peristiwa dengan peristiwa yang lain.


"Satu pertanyaan yang masih membuahkan tanya tanya di kepalaku waktu itu. Kau mengenakan helm dan masker layak pengemudi motor. Namun aku tidak menemukan motor yang terparkir di situ?" tanya Rey penasaran.


Wibie hanya tersenyum. Ia tidak menjawab pertanyaan itu dengan benar.


"Tuhan mengirimkan aku sebagai malaikat pelindung untukmu. Agar lekuk tubuhmu yang terlihat jelas dari pakaian yang kuyup tidak mengundang kejahatan. Aku tidak menunggu siappun. Aku lekas pergi dari tempat itu begitu kau bergelantungan di bawa angkot berwarna coklat itu,"


"Ah, so sweet sekali dirimu," Rey tersenyum dan mengangkat kedua bahunya.


"Lalu apakah kau mencintaiku?" tanya Rey ingin kepastian.


Wajahnya semakin mendekat ke arah Wibie. Rey ingin menemukan semua yang ingin diketahui dari ekspresi yang akan ia maknai sendiri.


"Saat aku melamarmu dan engkau menerimaku, itulah cinta. Jadi mengapa masih dipertanyakan?"


CUP......


Satu kecupan lembut mendarat di pipi Wibie. Ia tersenyum melihat Rey yang mendadak menjadi begitu manja padanya.


Wibie memeluk perempuannya itu dengan erat dan mengelus-elus punggungnya dengan lembut.


"Tidurlah, sudah terlalu larut. Besok kita akan mengantar Ayah dan ibu ke bandara,"


Rey menarik tubuhnya dari pelukan Wibie dan berbaring disisi pria itu.


Wibie merentangkan tangannya hingga Rey tetap ada dalam pelukannya.


"Tidurlah, aku begitu bahagia malam ini. Aku akan melindungi mu sampai maut memisahkan kita," bisik Wibie dalam hati.


Tak henti-hentinya Wibie mengelus bahu istrinya. Rey tidak bersuara lagi. Namun Wibie bisa memastikan jika istrinya belum tidur.


Ia masih merasakan kaki kanan Rey getar kencang. Pertanda ia belum pulas meski matanya sudah terpejam.


Mungkin Rey tidak tahu jika Wibie sudah bisa membaca kebiasaannya ini sejak mereka tidur satu satu kamar di hotel waktu itu.


******


Saat terdengar adzan subuh, Rey masih tertidur pulas. Masih disisi Wibie, namun posisinya sudah tidak nyaman untuk dinikmati.


Kedua tangan diangkat ke atas seperti orang yang menyerah dalam peperangan dan kedua kaki terbuka lebar.


Selimut yang menutupi tubuhnya nyaris tertanggal. Sudah bergeser ke arah suaminya semua.


Sebegitu luasnya kasur yang mereka tempati, Wibie hanya bisa menempati tidak lebih dari seperempatnya. Sungguh luar biasa gaya Rey jika sudah terlelap.


"Posisi seperti apa ini? Baru kali ini ada perempuan yang tidur begitu rusuh seperti ini," ujar Wibie dalam hati.


Sejak semalam Wibie tidak bisa memejamkan mata. Menit yang berlalu begitu cepat baginya.


Ia gunakan kesempatan itu untuk berpikir, bagaimana ia menjaga wanita yang ada disisinya ini agar bisa selamanya berada disisinya.


Wibie masih begitu takut akan kejadian yang menimpanya empat tahun silam. Ia ditinggal pergi oleh wanita yang begitu ia cintai.


"Rey," panggil Wibie begitu pelan di telinga istrinya.


Wibie menyibak rambut yang menutupi wajah istrinya. Dalam kondisi pulas begini, ia melihat Rey begitu sempurna. Kecantikannya alami tanpa polesan.


Wibie mendekatkan wajahnya. Mengecup pipi istrinya dengan lembut.


"Rey, bangun. Sudah mau subuh," panggilnya lirih. Tidak ada reaksi.


Biasanya tidak ada yang membangukan Rey di pagi hari. Ia selalu bangun tepat waktu.


"Baiklah!" senyum nakal Wibie mulai mengembang.


Wibie memegang dagu Rey dengan lembut dan berbisik lembut di telinga gadis itu dengan suara yang menggoda.


"Reyna," sembari meniup daun telinganya.


Rey yang memang sudah terjaga namun pura-pura masih terlelap menjadi tegang dan mukanya merah begitu merasakan panggilan halus orang dewasa menembus pendengarannya.


Jantungnya memompa lebih cepat, tubuhnya lemas dan memanas.


Wibie tersenyum melihat reaksi itu. Kini ia tahu jika Rey sebenarnya pura-pura terlelap.


Cup...cup..cup....


Dihujani ya bibir mungil itu dengan sejuta kecupan selamat pagi untuk bidadari tercinta.


"Kau membangunkanku," ujar Rey pura-pura baru terjaga.


"Itu baru kecupan. Jika kau tidak segera beranjak, aku akan mencuimmu hingga kau tidak bernapas," ancam Wibie dengan senyum nakalnya.


"Iya, bahkan aku belum cuci muka. Kenapa engkau sudah menciumiku sepagi ini?" tanya Rey.


"Itu bukan ciuman. Tapi kecupan,"


"Oh, bedanya," tanya Rey ragu.


Wibie mendekatkan wajahnya kembali namun Rey segera menghalaunya dengan kedua telapak tangannya.


"Iya..iya. Aku bangun,"


"Aku turun duluan ya. Mau ngecek dapur! Apakah ada makanan untuk kita sarapan," ujar Wibie sembari meninggalkan Rey yang masih tergeletak di tempat tidurnya.


"Jangan lupa cuci rambutmu. Baunya sudah mulai apek," teriak Wibie lagi.


Ia sengaja membohongi istrinya agar tidak terlalu banyak kecurigaan saat mereka harus bertatap muka dengan keluarga Rey di meja makan.


******


Saat sarapan, Wibie mendapati wajah-wajah menyelidiki dan senyum aneh dari Ayah mertuanya.


Wibie faham makna pandangan mereka, karena ia sudah mengalami hal serupa dengan nama Devara sewaktu menjadi pengantin baru.


Namun ini hal yang baru dialami oleh Rey, ia yang masih begitu lugu nyaris tanpa ekspresi melihat tatapan penuh selidik dari keluarganya.


Rey seperti tidak menyadari semua mata memandang pada rambutnya yang masih basah.


"Bagaimana tidurmu, Nak?" tanya Ayah pada putrinya itu.


"Nyenyak. Aku capek sekali, Ayah. Hingga nyaris kesiangan," jawab Rey dengan jujur.


Kontan saya kata " capek" yang ditangkap oleh orang lain beda maknanya dengan maksud yang diucapkan Rey.


Ayah hanya tersenyum simpul. Sementara ibu dan Nay hanya mengangkat kedua bahunya. Lain halnya dengan Doni, anak yang masih polos ini tidak tertarik dengan obrolan mereka. Ia begitu asyik menikmati sarapannya.


"Maaf, tidak sempat membuat sarapan untuk pagi ini," ujar Rey polos. Ia dengan lahapnya menyantap sarapan itu meski semua mata masih tertuju padanya.


"Terimakasih Nak Wibie yang sudah repot-repot menyiapkan sarapan untuk kami," Ayah segera minta maaf ketika mengetahui anak nantinya yang menyediakan sarapan untuk mereka semua.


"Tidak apa, Yah. Saya sudah terbiasa melakukannya kok. Hanya membuat nasi goreng saja. Lauk pauk ini sisa dari hidangan kemarin. tinggal dipanaskan di microwave," jelasnya.


"Rey yang membuat minuman dan menyiapkan hidangan di meja," tambahnya lagi.


Ibu tidak memberikan reaksi apapun. Sejak bagub tidur ia hanya berdiam diri di kamar meski Ayah berkali-kali mengingatkan untuk ke dapur. Membantu Rey menyiapkan sarapan.


"Aku kan bertamu. Sesekali memanjakan diri dan di layani. Menikmati hidup," pikir ibu dalam hati.


"Pesawat berangkat pukul 11, kita siap-siap jam 9 ya. Hari kerja begini jalanan susah diprediksi. lebih baik kita menunggu di sana daripada ketinggalan pesawat,' Ujar Wibie.


"Iya, Nak. terimakasih," sahut Ayah


Setelah itu mereka menikmati sarapan nasi goreng buatan Wibie tanpa ada yang bersuara lagi. Setelah menghabiskan makanannya, Rey segera membereskan meja dan membersihkan dapur.


Mereka menghabiskan waktu bersama di ruang keluarga sembari menikmati secangkir kopi dan sajian berita pagi.