
"Nah sekarang tinggal usaha konveksi yang berdiri di atas lahan seluas 500 meter itu. Selama ini tidak ada perhitungan diantara kita. Ibu hanya terima uang sekian-sekian yang masuk ke rekening setiap bulannya tanpa tahu untung rugi dari usaha itu. Jika uang yang dikirim Wibie itu memang sudah bagian dari keuntungan itu bagus, bagaimana jika mereka masih berpikir bagaimana membayar karyawan, biaya operasional dan lain-lain. Ibu belakangan ini jadi sudah tidur memikirkan itu. Ibu tau Rey berusaha keras meneruskan usaha ini hingga 2 tahun berjalan sudah berkembang begitu pesat. Sementara ibu hanya terima beres saja,"
"Ibu, ibu jangan punya pikiran begitu. Apa yang kami berikan itu memang sudah menjadi hak ibu plus uang sewa lahan yang sudah diperhitungkan secara bisnis. Ibu tidak usah khawatir, semua sudah sesuai dengan prosedur. Keuntungan yang kita dapat juga bagian dari hak ibu sebagai pemilik. Aku dan Rey hanya pelaksana,"
"Justru iru, ibu semakin merasa bersalah. Uang yang ibu terima jumlahnya begitu besar. Apakah Rey juga mendapatkan hak yang sama,"
"Saya juga dibayar sesuai dengan posisi saya sebagai direktur. Mas Wibie juga sama, Bu. Saldo perusahaan juga Alhamdulillah, masih bisa untuk biaya operasional satu atau dua tahun ke depan,"
"Iya, Nak. Ibu tau semua ini hasil kerja keras Rey dan kamu. Sejak usaha kita didaftarkan dan punya kekuatan hukum, Alhamdulillah bisa berkembang seperti ini. Sekarang ibu tanya ke Witha, bagaimana baiknya? Karena usaha itu berdiri di atas tanah kamu juga,"
"Ibu jangan berpikiran seperti itu. Saya dan mas Ardi tidak pernah mempermasalahkan hal itu, kita tahu kok usaha itu bisa berkembang hingga saat ini karena kerja keras Mas Wibie. Saya juga bisa melanjutkan sekolah hingga S2 juga dana dari situ. Jadi, selama ibu masih ada biarkan saja seperti itu. Witha tidak minta apa-apa. Itu haknya Mas Wibie dan Kak Rey yang sudah mengelolanya dengan baik. Perkara sewa lahan/tempat kan sudah ibu dapatkan. Itu juga sudah adil kok,"
"Bagaimana jika kita buat surat perjanjian, selama lahan itu masih digunakan untuk kepentingan bersama berarti laku usaha berhak membayar sewa, namun jika sewaktu-waktu pemilih lahan akan menjualnya berati pelaku usaha harus membayar sesuai dengan harga tanah yang berlaku saat itu,"
"Intinya tanah itu tetap menjadi hak kalian berdua, bagi rata. Jika sewaktu-waktu ibu sudah tidak ada, berarti uang sewa yang setengah bagian itu hak Witha. Jika Witha memutuskan untuk menjualnya pada Wibie harus sesuai harga tanah di tahun itu. Nah selama ibu masih ada, biarkan seperti ini,"
"Ingat, Ya. Tabah itu tidak boleh berpindah tangan. Jika ada yang berniat untuk menjualnya, salah satu dari kalian harus membelinya. Jangan sampai pindah tangan ke orang lain. Ayah membelinya dengan susah payah dengan harapan agar anak dan cucunya bisa tinggal di lahan yang sudah ia siapkan," Ibu memperingatkan dengan keras.
"Sekarang gimana, kalian setuju tidak dengan usulan ibu tadi? Ardi dan Rey juga boleh bicara kok. Jangan hanya diam. Kalian kan sudah menjadi bagian keluarga ini,"
"Iya, Bu. Saya ikut apa kata Mas Wibie saja," sahut Rey.
"Kalau saya terserah Witha saja, Bu. Yang ibu bilang tadi juga sudah adil kok," sahut Ardi.
"Nah, serang tinggal dua orang ini. Jangan sampai ibu meninggal kalian berantem rebutan warisan hingga lupa mendoakan orang tuanya,"
"Tidak, Bu. Insya Allah kami tetap rukun dan senantiasa berbakti pada orang tua," sahut Witha.
"Jadi sudah clear ya? Tidak ada unek-unek lagi?" tanya ibu untuk meyakinkan.
"Insya Allah tidak, Bu," sahut Wibie.
"Oke, kalau begitu besok kita panggil notaris agar apa yang kita bicarakan malam ini tertuang dalam surat wasiat. Tolong hubungi notarismu, Rey. Kita butuh jasa dia untuk membuat surat ini,"
"Baik, Bu. Nanti saya hubungi beliau.
"Sekarang kalian boleh istirahat, ibu mau tidur sama Devara saja. Rasanya kasur di kamar Wibie tidak cukup jika harus di tempati empat orang,"
"Anak-anak tidur di kamarku, Bu. Biar Mas Ardi tidur di sofa, aku yang jagain anak-anak,"
"Eh, kok kamu seperti itu sama suamimu. Masa disuruh tidur sendiri di depan TV, di sini kan banyak nyamuk," protes ibu.
"Dia sudah biasa, Bu. Biasanya tengah malem suka pindah sendiri ke depan TV, kok," Witha membela diri.
"Ya, susah. Malam ini kita tidur di sini. Biarkan nyonya-nyonya besar menfuasai kamar," Wibie mencoba cari jalan keluar.
"Terserah kalian, lah. Ibu sudah ngantuk. Mau istirahat dulu," ujarnya sembari melangkah ke kamar dan menutup rapat pintunya kembali.
*****
Hari sudah menunjukkan pukul 01.10 WIB, baik Wibie maupun Ardi belum ada yang bisa memejamkan mata. Satu film box office sudah mereka tonton hingga selesai, namun mata belum terpejam meski kantuk sudah menjalar sejak beberapa waktu yang lalu.
"Bener kata Ibu, di sini banyak nyamuk," keluh Wibie.
"Iya, Mas. Badanku sudah gatel-gatel kena gigitan serangga itu," sahut Ardi.
Ardi sepertinya cukup cerdas, ia bisa menangkap pikiran kakak Iparnya itu dengan cepat.
"Let's, go. Eksekusi sekarang,"
Tanpa menunggu waktu lagi, Ardi bergegas ke kamar dimana Witha dan anak-anaknya berikut Suster Nisha. Tanpa ragu lagi la membopong istrinya untuk di pindahkan ke kamar tamu.
"Sttt.....," buru-buru menutup mulut Witha yang kaget karena tiba-tiba sudah di bopong suaminya.
"Mau kemana?" tanya Witha setengah berbisik
"Pindah ke kamar tamu. Kau harus tanggung jawab, kulitku gatel-gatel di gigit nyamuk,"
"Turunin. Malu ada Mas Wibie di depan,"
"Dia sudah pindah ke kamar, bobok sama istrinya,"
"Dasar. Kalian para lelaki sama aja. Curang," brontak Witha.
Ardi segera mengunci bibir Witha dengan mulutnya hingga ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Alamat," gumannya halus.
Ardi tidak menggubris istrinya, begitu sampai di kamar ia segera membaringkan Witha di tempat tidur. Aku jadi begitu ingin, terpancing oleh suara di kamar Mas Wibie.
"Bohong," sahut Witha begitu kesal sembari mencubit perut suaminya.
"Beneran. Belum lama Mas Wibie masuk sudah terdengar suara aneh,"
Witha sudah tidak bisa berkata apa-apa, kini Ardi semakin ganas memberi serangan hingga dalam beberapa detik semua benang yang ada di tubuh istrinya berserakan di lantai. Tidak bersisa satu lembar pun.
Sembari memberikan kasih sayang yang penuh pada istrinya, ia tersenyum curang. Sebenarnya ia tidak mendengar suara apapun dari kamar Wibie kecuali beberapa kali orang yang menepuk nyamuk dan dengkuran halus Kak Rey yang sudah tertidur pulas.
"Ha..ha.... rupanya nasib Mas Wibie sama saja. Baik di luar maupun di kamar tetap jadi umpan nyamuk," bantinnya.
"Zonk, tidak dapet bonus apapun," lanjutnya lagi.
\*
Happy reading all! Author tidak bosan-bosan minta dukungan. Mohon untuk tinggalkan
✓ LIKE
✓ KOMENTAR
✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏
Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊