
Wibie menghentikan mobilnya tepat di depan rumah yang cukup besar, bercat putih. Bangunan tua namun tetap terawat dan rapi. Masih terlihat sisa-sisa kejayaan rumah ini di masa lalu. Setelah mematikan mesin mobilnya, pak Wibie langsung turun dan mengucapkan salam. Pintu dibuka dari dalam.
Rey sempat khawatir dengan ibu Pak Wibie jika mendapati dia datang ke rumahnya berduaan saja dengan anaknya. Rey takut dan juga bingung jika dihujani pertanyaan dan pandangan yang bukan-bukan. Untuk apa pak Wibie meminta dirinya menemaninya sekarang ini?
Namun, kekhawatiran Rey luntur seketika itu juga. Ibu Pak Wibie sama sekali tidak heran mendapati kemunculan mereka berdua di rumahnya. Justru ia menjawab salam dengan ramah dan tersenyum melihat keduanya.
"Maaf, Rey. Bisa kita bicara sebentar?" pinta Omanya Devara. Sesaat setelah pak Wibie menghilang dari ruang tamu. Menemui anaknya yang ada di kamar.
"Bisa, bu. Ada apa ya?" Tanya Rey heran.
"Ayo kita bicara di dapur saja. Kebetulan ibu sedang memasak sesutu," ajak wanita itu.
"Baik, bu."
Keduanya berjalan bersama menuju ruang yang di maksud. Sesekali wanita itu melepar senyum ke arah Rey yang berjalan mengiringinya.
"Silahkan duduk,"
Wanita itu melangkah menuju kompor yang sedang menyala. Ia membuka tutup panci tersebut. Air yang ada di dalam panci tersebut telah mendidih. Ia mematikan kompor itu dan membiarkan tutupnya tetap terbuka. Kemudian ia duduk di samping Rey. Di meja makan yang ada di sisi dapur.
"Semalam Wibie minta ibu untuk menemaninya ke mall, katanya ingin berbelanja keperluan sekolah Devara. Kau tidak keberatan kan jika ibu malah memintamu menemani mereka?," tanya wanita itu.
"Ibu sudah pesan tiket ke Surabaya. Adik perempuan Wibie akan melahirkan. Ibu harus menemaninya hingga masa persalinan. Kau mau kan menemani mereka?" wanita itu mengulang lagi pertanyaannya. Meminta kepastian dari Rey.
"Iya, Bu. Tentu saja aku mau," jawab Rey sambil tersenyum.
"Terimakasih, Nak. Kau memang anak yang baik. Ibu juga titip Devara selama ibu di Surabaya, yah. Biar Bu Fat yang mengurus segala keperluan," jelasnya lagi.
"Iya bu. Tidak masalah. Devara juga bisa sama saya. Dia bisa menemani saya di toko. Biar saya yang menjaganya," Rey begitu antusias menawarkan diri agar wanita itu tidak khawatir atas kondisi cucunya sepeninggalnya.
Wanita itu memagang tangan Rey dan mengucapkan terimakasih berulang-ulang.
Rey segera memalingkan wajahnya sesaat setelah suara Devara yang begitu kencang berhamburan menuju ke arah Omanya. Pak Wibie mengikuti gadis kecil itu dan berdiri di pintu perbatasan ruang tamu dan dapur.
Devara langsung memeluk dan beberapa kali berjinjit menciumi Omanya itu.
"Oma, Devara seneng banget. Papa bilang hari ini mau ajak aku shopping. Papa mau beliin aku sepatu dan tas untuk sekolah," ucapnya seraya mempererat pelukannya. Sang Oma menundukkan kepalanya mensejajari tingginya Devara.
Membalas ciuman cucunya, tak kalah senangnya.
"Wibie, lihat anakmu. Begitu senangnya ia mau sekolah," celetuk sang ibu, membuat Rey menoleh ke arah Pak Wibie. Sejenak pandangan mereka bertemu. Pria itu tersenyum.
"Deva sama papa, ditemeni Kak Rey. Oma dirumah saja, ya sayang," jelas Oma pada Devara.
"Iya. Aku mau," sahutnya lagi.
"Ayo, kak. Kita berangkat sekarang," ajak Devara sembari meraih tangan Rey yang sejak tadi hanya melihat adegan cucu dan neneknya itu.
Rey hanya tersenyum. Ia menoleh ke arah pak Wibie. Karena pria itu mengiyakan dan Oma juga segera beranjak dari tempat duduknya, Rey ikut saja ketika Devara yang sudah rapi dan menggendong tas punggungnya melangkah menuju keluar.
Oma mengantarkan kepergian mereka bertiga sampai ke pintu depan dan tetap mengawasi mereka hingga mobil itu hilang di balik pintu gerbang.
Ibu menutup kembali pintu itu dan segera kembali ke dapur. Ia ingat, rebusan rimpang yang sudah mendidih sejak beberapa saat yang lalu harus segera diminum.
Beberapa bulan ini ia memang rutin mengkonsumsi minuman tersebut setelah ia tahu begitu banyak manfaatnya untuk kesehatan.
*******
Tiba di KOKAS pukul 10.30. Pengunjung belum terlalu ramai. Menurut Pak Wibie, mereka memilih lokasi ini karena cukup dekat dari tempat tinggalnya. Semua brand dari fashion terkenal tersedia di sini dengan harga standar. Yang paling utama, tersedia playland yang paling disukai Devara.
Tujuan utama, belanja dulu. Coogee Kids Shoes di Kota Kasablanka ini menjadi tujuan pertama pak Wibie. Gerai ini menyediakan berbagai model sepatu anak-anak dengan motif dan warna yang cantik-cantik. Meskipun tersedia berbagai diskon dari setiap produk, namun harga yang tertera masih lumayan mahal untuk Rey.
"Ini bagus," seru Devara. Pelayan toko segera mengambil barang yang ditunjuk oleh anak itu setelah memastikan ukurannya.
"Yang ini juga bagus," teriaknya lagi.
Tiga pasang sepatu telah diturunkan. Devara duduk di kursi yang sudah tersedia di toko itu untuk mencoba barang-barang yang dipilihnya.
"Rey jongkok di sisi Devara yang duduk disebuah bangku, ia membantu anak itu mencoba sepatu itu satu persatu.
Anak itu berdiri dan dengan gayanya yang lucu berjalan dan berputar-putar di depan cermin besar. Setelah mencoba ketiganya, pilihannya jatuh pada sepatu boat berwarna pink. Pak Wibie segera menyelesaikan transaksi dan meninggalkan tempat itu.
Selanjutnya mereka berpindah ke toko tas yang tidak jauh dari toko sebelumnya. Sepertinya Devara termasuk anak yang praktis. Tidak perlu waktu yang lama, ia sudah memilih satu tas ransel yang lucu bermotif tokoh kartun.
Semua belanjaan anak gadisnya, ditenteng pak Wibie. Ia terlihat begitu sabar dan begitu teliti ketika menemani anaknya belanja. Dia juga memberikan masukan barang yang cocok untuk anaknya. Devara juga tidak protes, selera mereka hampir sama. Jadi tidak butuh waktu yang lama untuk menentukan pilihan.
"Sekarang waktunya bermain, Deva mau kemana?" Wibie menawarkan sesuatu ketika mereka berjalan beriringan meninggalkan toko yang kedua.
"Aku mau seluncuran , Pa," sahut Devara dengan girang.
"Ok. Berarti kita ke atas. Let's go!"
Wibie menggandeng anaknya menuju tangga eksalator.
Devara juga memegang erat tangan kiri Rey seolah ia tak ingin lepas dari perempuan muda ini. Sungguh suatu pandangan yang indah. Devara layaknya menikmati kasih sayang kedua orangtuanya. Berjalan dan diapit orang-orang tersayang yang begitu erat memegang tangannya.
Chipmunks Playland adalah tempat yang dimaksud oleh pak Wibie untuk bermain anaknya. Di sini, Devara bisa mencoba beragam permainan seru seperti Adventure Bridge dan Bumper Cars, atau meluncur dari seluncuran setinggi 7 meter.
Area bermain dikelilingi oleh tempat duduk dan kafe yang nyaman, sehingga bisa mengawasi Devara sambil menikmati secangkir kopi. Chipmunks Playland tempatnya anak-anak yang berusia dibawah 12 tahun