Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
EP. 61 Reuni


"Sialan bener kamu, Rey. Diem-diem ga taunya udah yudisium. Kalah nih kita," seru Rosa yang terlihat begitu geregetan.


"Udah punya laki,"


"Udah punya anak lagi, he..... menang banyak teman kita ini," gerutu teman-temannya yang begitu kesal pada Rey. Selama ini ia menghilang, kecuali Dian tidak ada yang tau keberadaannya.


Rey hanya tersenyum, ia terima dengan lapang dada segala sumpah serapah teman-temannya itu.


Meskipun Rey sempat masuk grup alumni, namun ia tidak pernah ikut komentar, lebih memilih menjadi pengamat sejati.


"Malah senyum-senyum lagi. Kau memang keterlaluan,"


"Terus aku harus gimana? Kalian tanya sudah aku jawab, kurang apa coba?" protes Rey karena merasa terpojok.


"Siapa suamimu? Dimana dan bagaimana kalian bisa ketemu?" Rosa menghujaninya pertanyaan.


"Kayaknya wajah suamimu cukup familiar, tapi siapa ya? Aku pernah liat DP WA kamu waktu itu, bakhan sempat aku SS dan ku kirim ke grub. Tapi hingga sekarang aku gagal meningkatnya," sahut Dian. Kontan saja pernyataannya ini mengundang keingintahuan teman-temannya yang lain.


"Emang iya, aku sempat liat, cuma ga kenal. Kayaknya bukan orang sini,"


"Nanti aku kenali. Dia lagi bawa anak-anak turun ke air," Rey menunjuk tepi sungai, dari tempat duduk mereka bisa dilihat seorang pria yang tengah merendamkan kali di pinggiran sungai. Duduk di atas batu besar bersama sepasang anak kecil.


"Anakmu dua?" tanya Rosa lagi.


Rey menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Ia menyedot air kelapa muda yang ada di depan dan sesekali menyendok daging kelapa muda itu.


"Tapi kok yang perempuan sudah besar, usianya berapa?" Rosa makin penasaran. Meskipun jarak mereka cukup jauh tapi bisa ditebak usia anak itu.


"8,5 tahun," sahut Rey singkat.


"Hem....... ," Rosa sudah menampilkan ekspresi nakalnya. Sementara Dian yang sudah tau semuanya hanya senyum-senyum saja melihat Rey diintrogasi teman-temannya.


"Kamu dapet duren ya?" tanyanya lagi.


"He...eh," sahut Rey lagi.


"Sialan banget nih anak. Pantesan tajir melintir. Ternyata suamimu sudah mapan toh," sahut Rosa kesal.


"Kamu hebat Rey, bisa kuliah di universitas XX yang biayanya super mahal, jadi direktur di perusahaan suami lagi. Sementara kami uang jajan aja masih minta orang tua. Belum juga lulus kuliah harus cari-cari kerjaan biar ga dimarahi emak karena tanah warisan sudah abis buat kuliah. Kapan mau mempercantik diri kalau begini ini. Iri aku, apalagi muka dan kulitmu sekarang begitu glowing pasti perawatannya mahal," Rosa makin putus asa.


""Ehem ... simpan perasaan iri kalian. Rezeki, jodoh, dan maut setiap orang sudah di atur sejak lahir. Banyak-banyak berdoa saja supaya kita segera dapet kerjaan begitu lulus kuliah dan dapet jodoh yang tajir pula,"


"Aku mau duren montong kayak punya Rey. Kalo yang single pasti kere kecuali kalau orang tuanya kaya dan punya banyak warisan,"


"Hush, ngomong pada ga di ayak,"


"Ya ela Dian, orang ngomong bener kok pake di ayak. Yang namanya cowok seumuran kita bisa keukur isi kantongnya kecuali yang aku sebutkan tadi,"


"Serah deh, suka-suka kak Ros, deh," sahut Dian pasrah. Ia sadar sejak dulu memang tidak pernah menang jika adu pendapat dengan Rosa.


******


"Ma, adek main air. Enak...," Nathan yang baru saja muncul di tengah kerumunan segera memeluk Rey dan minta pangku.


"Rey, anakmu ganteng banget. Kecil-kecil begini dandanannya usah keren,"


"Nathan, Salim sama tante," Rey minta anak itu untuk mengalami satu persatu temannya yang ada di kafe itu.


"Aku mau dapet bonus dari kamu. Peluk sama cium," Rosa yang memegang tangan Nathan segara meraih bocah kecil itu dan mendaratkan bibirnya ke pipi chubby milik Nathan.


Untung anak itu tidak keberatan melayani permintaan teman-teman mamanya yang begitu aneh-aneh. Selesai menyalami teman Rey satu persatu, Nathan mengambil tisyu basah yang ada di tas mamanya. Ia mengelap bersih tangan dan pipinya. Kontan saja kelakuannya ini membuat para wanita itu semakin gemas.


"Nathan, kenapa di elap," protes Rosa.


"Kata papa kalau mau makan harus cuci tangan dulu. Aku mau itu?" Cowok gemes itu menunjuk es kelapa yang ada di atas meja.


"Sini, sama Tante," buru-buru Rosa memangku anak itu dan memberikan kelapa muda miliknya yang belum tersentuh.


Tak lama kemudian, muncul Wibie dan Devara dengan es krim di tangannya. Kedua orang itu juga menghampiri Rey dan bergabung dengan temannya yang lain.


"Salim dulu sama, Tante," Rey mengingatkan Devara juga melirik lembut pada suaminya.


"Rey, anakmu cantik sekali,"


Rosa memandang takjub pada Devara yang tengah menjabat tangannya. Begitu pandangannya tertuju pada Wibie ia juga tidak bisa mengontrol ucapannya. Spontan ia mengungkapkan isi hatinya.


"Pantes saja kau mau menikah dengannya. Suamimu tampan sekali,Rey," gumamnya tanpa rasa malu dilihat oleh orang-orang yang ada di sekitar tempat duduknya.


"Mirip artis sinetron," tambahnya lagi.


Tinggal konyolnya ini mengundang senyum Devara dan Wibie secara bersamaan. Sementara teman yang lainnya hanya bisa mengelus dada atas kelakuan Rosa yang tidak tau malu itu.


"Sebentar...... sebentar," Rosa memasang wajah serius. Sepertinya ia sedang berpikir cukup keras.


"Bener kata Dian, wajah Mas Wibie cukup fimilar," ujarnya lagi. Kali ini ia memijit-mijit kening dan memejamkan matanya beberapa saat.


"Mas Wibie pernah tugas di sini. Karyawan tambang yang di desa sebelah timur sana," Rey akhirnya memberikan kata kunci tentang misteri suaminya yang ingin sekali di ketahui oleh teman-temannya.


"Nah, kan. Aku baru ingat, dia yang pernah ketemu kamu di kafe ini juga waktu kita selesai ujian dulu, kan? Sok belagak gak ngaku lagi waktu itu," tembak Rosa.


Rey hanya tersenyum, saat temanya menyerang dengan cubitan gemes, ia juga padang badan. Justru Wibie yang mencoba membelanya.


"Waktu itu memang belum kenal banget. Saya memang langganan laundry di tempat Rey. Kami ketemu lagi saat sudah Rey sudah di Jakarta,"


Obralan mereka sore itu berlanjut hingga pukul 17.20. Karena lebaran, kafe sangat ramai, silih berganti pengunjung yang hanya ingin bersantai di tempat itu.


Setelah cukup lama melepas kangen, akhirnya mereka membubarkan diri. Rey memisahkan diri dari teman-temannya karena naik mobil bersama keluarganya.


"Jadi ini suami second mu itu?" suara yang muncul dari mobil yang terparkir, cukup mengagetkan Rey dan Wibie. Untung anak-anak sudah lebih dulu masuk ke mobil hingga tidak mendengar kalimat bar-bar itu.


"Kamu?" seru Rey yang lekas mengenali wajah pria yang berdiri di depannya itu. Rey menarik kembali tangannya yang hendak membuka pintu mobil. Sedangkan Wibie yang sudah siap masuk dari pintu penumpang juga mengurungkan niatnya.


Wibie melangkah, mendekati pria yang memasang wajah begitu angkuh. Dengan sombongnya pria itu kembali melontarkan kalimat yang begitu menyakitkan telinga.


"Bekasan aku ketemu bekas laki orang, pas deh!"


"Sudah, Mas. Jangan di ladeni," Rey menarik lengan suaminya yang ingin melemparkan tinju ke arah Aldy.


"Ayo masuk," Buru-buru Rey membuka pintu mobil dan memaksa suaminya duduk di bangku penumpang. Rey juga melakukan hal yang sama. Setelah ia duduk di belakang kemudi, Rey buru-buru meninggalkan tempat itu dan meninggalkan Aldy yang tetap melontarkan kata-kata kasarnya.


"***** apaan, Ma?" tanya Nathan begitu polosnya. Sepertinya ia menangkap makian Aldy yang dilontarkan begitu keras begitu mobil yang di kemudikan berlalu dari hadapan Aldy.


"Adek salah denger, mungkin maksudnya Lontong. Om itu jualan lontong dan mau nawarin ke kita," Rey mencoba memberikan alasan sekenannya pada Nathan.


"Lucu, kita ga mau beli lontong kok marah-marah. Di rumah Kakek kan banyak lontong,"


"Iya, di rumah banyak lontong jadi ga usah beli lontong lagi,"


"Kasian sama Om itu, dia marah karena mama ga mau beli lontong,"


"Dek, ini lucu," Devara yang sejak masuk mobil sudah memasang earphone dan buka YouTube dari hp miliknya bisa mengalihkan pembicaraan Nathan tentang lontong. Rey bisa bernafas dengan lega karena tidak harus membuat skenario kebohongan yang begitu panjang pada anaknya.


Ia melirik ke arah Wibie, dari sudut matanya Rey bisa melihat wajah suaminya yang merah padam menahan amarah. Rey bisa memahami hal itu, untuk itu dia tidak mau membahas masalah ini sebelum Wibie memulainya.


Rey mengulurkan tangan kirinya. Dengan lembut ia mengelus paha suaminya, dengan begitu ia berharap laki-laki yang sedang terbakar emisinya ini bisa sedikit tenang.


*******


Hay semuanya, maafkan diriku yang tidak sanggup update lebih dari satu bab, minggu-minggu ini ada tugas negara yang harus diselesaikan dan butuh konsentrasi penuh. Demi kesetiaanku pada kalian semua, aku sempat-sempatin nulis walau cuma satu Chapter agar target untuk menyelesaikan novel ini di bulan Juni dapat terealisasi.


Mohon maaf, ya!


Ojo lali!


VOTE, like, dan spam komentar dari kalian tetap jadi semangat untukku.