
Setelah Rey pergi, menghampiri Risya di balai desa kemudian menuju ke hotel XX, Alex juga pamit pada Pandu dan yang lainnya dengan alasan istirahat sebentar di rumah yang mereka singgahi.
"Aku pengen tidur sebentar, kepala dan berat banget,"
"Udah pulang aja duluan, ini juga udah selesai kok," sahut Pandu.
"Thanks ya, maaf banget nih ga bisa nemenin sampe selesai,"
"Udah, yang penting kamu istirahat dulu biar besok kita bisa tempur habis-habisan,"
"Lah, tempur? Kayak mau ngadepin musuh," protes Alex
"Besok kita pasti sampe sore. Jadi butuh tenaga ekstra,"
"Ok...ok...ane faham. Aku jalan dulu ya,"
"Ok. Hati-hati,"
Alex memang pergi, awalnya memang ingin istirahat karena badannya berasa tidak enak dan kepalanya yang begitu berat. Namun sepanjang perjalanan ia kepikiran Rey. Sepertinya ia masih ragu jika Pak Gun tidak punya rencana yang jahat pada wanita itu.
"Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Rey,"
Karena kegusarannya lebih besar dari sakit kepala yang dirasakannya, akhirnya Alex putar haluan. Ia tidak jadi pulang ke rumah pak Haji tapi membelokkan motor yang ditumpangi itu ke arah menuju hotel XX.
Dari informasi google map, jarak yang harus ditempuh sekitar 9km dengan waktu tempuh sekitar 15-20 menit.
"Baiklah, Rey! Aku akan menyusul mu," bisiknya dalam hati.
Alex sudah menenggelamkan rasa sakitnya, yang ada dalam pikirannya saat ini bagaimana ia bisa sampai di lokasi sebelum terjadi sesuatu pada wanita yang masih menempati hatinya hingga saat ini.
******
Tiba di hotel XX, Alex segera menuju ke parkiran roda dua. Ia cukup susah menemukan motor yang dikendarai oleh teman-temannya. Selain karena jumlah motor yang terparkir di halaman belakang gedung itu cukup banyak,Alex juga tidak mampu mengingat nomer kendaraannya.
Ia bergegas ke ruang resepsionis, namun dari jauh ia melihat Rafa dan Teta keluar dari lobi hotel menuju ke parkiran.
"Mau kemana mereka?" Alex merapatkan tubuhnya pada dinding pembatas dekat lapangan. Ia tidak ingin keberadaan di sini diketahui oleh dua temannya itu.
Setelah yakin Teta dan Rafa menuju parkiran, Alex mengendap-endap menuju ke lobi hotel. Alex mengedarkan pandangannya, seolah-olah sedang menunggu seseorang agar keberadaan tidak di curigai.
Namun ia dibuat kaget begitu melihat Risya keluar dari lift seorang diri. Alex tidak menghampiri gadis itu, ia hanya mengamati dari jauh. Kemana perginya calon dokter muda itu?
"Toko hp?"
Alex masih menunggu dan mengamati Risya dari tempatnya berdiri, kemudian dia melihat Risya keluar dari toko itu tanpa membawa sesuatu. Gadis itu mengedarkan pandangannya beberapa saat, setelah lama dia menghampiri petugas keamanan yang ada di toko itu.
Sepertinya ia sedang bertanya sesuatu karena petugas keamanan itu menunjuk arah yang cukup jauh.
"Sepertinya ada yang tidak beres. Kemana Rey?"
Alex mumutar tubuhnya, kembali ke lobi hotel. Ia menghampiri petugas resepsionis dan menanyakan keberadaan tamu dengan nama Gunawan Andika yang berasal dari Jakarta.
Karena Alex memberikan alasan ia sudah membuat janji dengan dosennya itu dan sedang ditunggu kedatangannya, pihak hotel tidak keberatan saat Alex tidak mengizinkan resepsionis itu menghubungi Pak Gun. Ia yakin karena Alex menunjukkan pesan WA yang dikirim dosennya itu.
"Saya langsung saja, kan?"
"Iya naik aja. Kamarnya di sebelah kanan lift jika kita mau keluar. Nomer 606,"'
"Terimakasih, mbak,"
Beberapa saat kemudian, Alex bergegas masuk ke lift menuju lantai enam. Ia sudah tidak sabar ingin segera menemukan kamar Pak Gun.
"Sial," umpatnya kesal.
Meskipun kamar itu sangat mudah ditemukan,namun Alex sangat susah untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam. Ia sudah merapatkan kupingnya di sela-sela pintu namun tidak mendengar suara apapun dari dalam.
Alex segera menjauh dari pintu kamar 606, ia berjalan menelusuri koridor dan berharap bisa menemukan tempat yang aman untuk menelpon.
Ternyata tidak jauh dari kamar 606, menuju ke arah barat ia menemukan semacam ruang tunggu. Ruang kecil yang ada di sisi kiri anak tangga.
Di situ ada satu sofa berukuran besar yang dilengkapi meja dan beberapa majalah. Di sisi sofa juga terdapat rak kecil yang beisi koran harian dari beberapa media terkenal.
Alex duduk di ujung sofa berwarna merah marun itu, ia terlihat sedang menghubungi seseorang dari ponselnya. Sembari menunggu panggilan di angkat, ia membolak-balik majalah yang tergeletak di atas meja. Sekedar mengurangi ketenangannya.
"Halo," panggil Alex begitu ada suara dari seberang.
"Pak, tolong bantu saya. Minta pak Gun kembali ke Jakarta sekarang juga. Aku sangat marah padanya,saat ini ia sedang menyekap salah satu mahasiswa KKN dan ingin mengetahuinya di kamar. Tolong Pak! Sebelum sesuatu terjadi dan akan mencoreng nama baik kampus kita," Alex memberikan kesempatan penjelasan sedetail mungkin agar orang yang sedang dihubunginya itu mau meluruskan keinginannya.
"Saya sekarang ada di samping kamarnya, kalau bapak tidak percaya aku akan mengirim foto dan bukti-bukti lainnya," ujar Alex lagi. Ia sengaja berbohong agar tidak terjadi sesuatu pada Rey.
"Baik,saya telpon dia sekarang,"
"Secepatnya, Pak. Saya tunggu,"
"Iya, Lex,"
Alex segera mematikan sambungan teleponnya begitu tidak terdengar lagi suara orang diseberang sana. Untuk beberapa saat, Alex menunggu di ruang itu dengan sabar. Sesekali ia menyodorkan kepalanya dari balik majalah untuk mengamati keadaan kamar Pak Gun.
"Yes," Alex nyaris tidak bisa menahan kegirangannya. Ia melihat pak Gun keluar dari kamar. Tangan kirinya menenteng tas, sedangkan tangannya yang lain sibuk membenahi pakaiannya yang acak-acakkan.
"Dasar bandot tua," Alex begitu ingin menghampiri pria itu namun niatnya itu bisa ia tahan karena ia tidak ingin ada keributan di hotel ini.
Setelah Pak Gun masuk lift, Alex mengendap-endap menuju kamar 606.
"Ah, pintunya dikunci," gumannya lagi.
Dengan tenang dan pelan, Alex mengetuk pintu. Tidak ada sahutan atau pintu itu dibuka oleh seseorang. Karena ia yakin Rey masih ada di dalam, ia mengulanginya lagi. Mengetuk pintu itu tiga kaki, dengan tekanan yang sedikit keras.
******
Alhamdulillah bisa nambah update lagi Happy reading all! Jangan lupa tinggalkan
✓ LIKE
✓ KOMENTAR
✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏
Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih.
Kunjungi juga novelku yang lainnya ya, yang berjudul :
I am Feeling Blue
Bukan Yang Pertama
Barangkali kalian berkenan. Terimakasih!!!