
Tiba di sekolah Devara, mereka bertiga langsung ke ruang tata usaha. Dalam pemberitahuan yang dikirim oleh kepala sekolah melalui pesan WA, ruang pengukuran baju ada di lantai satu, sebelah timur pintu gerbang.
Awal berangkat dari rumah sebenarnya perasaan Wibie sudah nggak enak, tapi ia berusaha untuk cuek. Ia pasti harus bertemu dengan orang tua murid yang lebih di dominasi oleh ibu-ibu muda. Namun apa daya, mau tidak mau ia harus melakukan semuanya demi Devara tercinta.
Begitu sampai sekolah dan masuk kelas, hala dalah...!
Bener! Wibie harus berada satu ruangan dengan calon orang tua murid baru berkumpul di satu ruangan. Rombongan ibu-ibu milenial yang belum apa-apa sudah sibuk dengan selfie dan update status.
Hari ini, Wibie merasa menjadi orang paling ganteng di ruang itu. Gimana gak ganteng, lha wong yang datang ibu-ibu semua.
"Ini baru permulaan, Wibie. Masih ada hari-hari berikutnya yang tak kalah serunya. Engkau akan semakin sering bertemu mereka. Nikmati masamu, dimana engkau akan menjadi pria paling tampan diantara mereka," gumam Wibie yang mengutuk dirinya sendiri.
"Waduh, jangan-jangan aku bisa dipilih jadi ketua komite jika begini!" Serunya lagi. Tubuhnya mendadak bergidik.
Satu persatu orang tua murid yang ada di ruangan itu maju ke hadapan petugas seragam bersama anaknya. Setelah mengukur lingkar pinggang, tinggi badan dan ***** benggek lainnya, mereka meninggalkan ruangan itu.
Rey yang sejak tadi hanya mengikuti Wibie dan lebih banyak berbicara dengan Devara jadi ingat sesuatu. Map yang dititipkan Wibie padanya tertinggal di jok mobil. Map itu berisi formulir pendaftaran yang sudah diisi beserta lampiran surat-surat yang diperlukan.
Rey membisikkan sesuatu di telinga Wibie, pria itu mengeluarkan kunci kontak mobilnya dan menyerahkan pada Rey.
Tak lama, Rey meninggalkan Wibie dan Devara ditengah sekumpulan ibu- ibu itu. Ia menuju ke parkiran mobil untuk mengambil map yang ia selipkan di jok belakang.
Kini giliran Wibie. Saat ia akan melangkah ke petugas yang sejak tadi melakukan pengukuran, seorang wanita dengan pakaian resmi layaknya pimpinan masuk ke ruang itu. Ia mengucapkan salam kemudian tersenyum ramah dengan ibu-ibu yang masih ada di ruang itu.
Menghampiri mereka dan menyalami satu persatu. Tiba giliran Wibie, wanita itu seketika terperangah.
"Kamu......!" Suaranya yang cukup keras hampir mengalihkan pandangan ibu-ibu muda yang masih setia menunggu giliran.
Wanita itu memandangi Wibie dengan seksama dan dengan tatapan penuh pengamatan.
Wibie hanya tersenyum. Menyambut uluran tangan perempuan yang ada di depannya.
"Iya. Wibie Dzakwan Bahtiar!" Sahut Wibie kemudian menyebutkan nama lengkapnya.
Perempuan itu tersenyum. Masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya hari ini. Kini pandangannya tertuju pada Devara. Ia memandang gadis kecil ini dan Wibie secara bergantian seolah-olah sedang melakukan perbandingan.
"Ini anakmu?" selidik perempuan itu lagi.
"Iya, Devara Faradhilah Azmi,"
"Cantik sekali. Mirip sekali dengan ibunya,"
"Halah...kamu bisaan saja. Gombalanmu itu tetap kau pakai kemana-mana" cetus Wibie. Dibilang seperti itu membuat ia tertawa seketika.
"Gimana-gimana? Anakmu mau sekolah di sini?" selidik perempuan itu setelah menguasai dirinya kembali.
Kini ia melepaskan tangannya dan mempersilahkan Wibie duduk di kursi dekat tempatnya berdiri. Sementara Devara sudah berdiri di depan petugas itu, memutar ke kanan dan ke kiri mengukur badannya.
Wibie yang awalnya begitu kaget, segera menguasai diri. Ia duduk di samping wanita itu.
"Ya, ampun! Kenapa aku harus bertemu dengan Dhiza setelah waktu berlalu sekian lama!" Wibie seolah menyesali pertemuan ini.
Kini ia sadar, kenapa sejak berangkat tadi perasaan ga begitu enak.
"Iya. Anakku sudah daftar sekolah di sini. Karena ini sekolah yang paling dekat dengan tempat tinggalku"
"Wah, aku baru tau jika kau tinggal di sekitar sini. Bagaimana dengan mama, apa dia masih tinggal di rumah yang dulu?" Tanya perempuan itu lagi.
"Masih,"
"Syukurlah," balasnya lagi. Kali ini ia menyapu seluruh penghuni ruang itu. Seperti sedang ingin menemukan sesuatu.
"Dimana, Kinan?"
Karena ritual ukur mengukur sudah selesai dan Devara juga sudah menghampiri Wibie, perempuan itu segera mohon diri. Endingnya, mereka tuker-tukeran nomor WA sebelum berpisah dan saling melambaikan tangan.
Rey hanya melihat semua drama itu dari kejauhan. Melihat mereka yang begitu serius membuat Rey mengurungkan niatnya mendekati Wibie. Ia memilih menunggu hingga urusan keduanya selesai.
Dalam perjalanan menuju pulang, Wibie lebih banyak diam. Rey dan Devara yang duduk di kursi belakang asik dengan obrolan mereka. Membahas tentang yotuber cilik yang bernama Zara Cute.
Saat berhenti di lampu merah, Wibie membuka HP.
"Dhiza," Wibie senyum sendiri saat melihat nama itu ada di no kontaknya. Setelah itu, ia berusaha untuk membuka kontak WA. Pilih edit, trus mengganti namanya.
Wibie tidak sadar jika lakunya ini tidak luput dari tangkapan Rey dan merekamnya dalam ingatan.
****
Wibie berhenti di salah satu universitas yang menjadi tujuan pertama Rey. Setelah memarkirkan mobilnya, mereka menuju ke ruang informasi. Rey berjalan dengan menggandeng tangan Devara, Wibie mengikuti kedua gadis itu dengan tetap menjaga jarak. Pikirannya masih tertuju pada insiden di sekolah Devara tadi.
Rey mendekati salah satu petugas informasi. Setelah bertanya beberapa hal, ia mengucapkan terima kasih dan mohon pamit.
Ia menghampiri Wibie dan Devara yang duduk di bangku panjang di depan petugas informasi itu.
"Kuliahnya dimulai Minggu depan. Syarat minimal harus membayar 20% uang pendaftaran. Batas waktu pelunasan hingga agustus. Jadi masih ada waktu sekitar 3 bulan," jelas Rey begitu ia sudah berada di samping pak Wibie
"Saya sih oke saja. Terserah kamu. Jika mau di kampus ini, kita bisa membayar uang pendaftarannya sekarang," Wibie mencoba berlaku bijak dan menawarkan solusi.
"Tapi biayanya selisih 10 juta dari yang satunya lagi, Pak," sela Rey.
"Lokasinya lebih jauh. Jika dihitung-hitung. Tenaga dan transportasi dalam setahun sama saja, kok," Wibie memberi penjelasan
"Yang ini akreditasi jurusan A, yang ono saya belum tau. Karena jurusan yang akan kamu ambil baru mereka buka 2 tahun ini," Wibie memperkuat argumennya lagi
"Kalau menurut aku sih, baiknya di sini saja. Pilihanmu sudah tepat ketika kau bilang ini prioritas pertama," tegas Wibie
Mendengar alasan -alasan yang dikemukakan Wibie, Rey semakin yakin dengan pilihannya. Akhirnya ia memutuskan untuk mendaftar kuliah di sini.
"Baiklah pak, aku di sini saja. Uang tabunganku masih bisa untuk membayar uang mukanya. Aku yakin bisa melunasi pendaftaran jika batas waktunya hingga Agustus nanti,"
"Sudahlah. Semua biaya pendaftaran aku yang tanggung. Uangmu buat bayar semesteran saja,"
"Beneran, Pak?" Tanya Rey penasaran.
"Apa aku pernah bohong padamu?" Wibie tidak menjawab pertanyaan Rey, justru ia bertanya balik yang membuat Rey makin tidak berkutik.
Rey jadi malu. Ia tak berani menantang pria itu. Rey segera mengurus administrasi yang diperlukan, termasuk mengisi formulir yang di berikan oleh petugas itu.
"Reyna Anggra," Wibie mengeja nama lengkap Rey yang ditulisnya dalam formulir itu dengan bersuara. Ia sengaja melakukan agar bisa terdengar jelas oleh Rey.
Rey semakin malu. Selama hampir 3 bulan lebih mereka kenal bahkan sudah tinggal serumah namun selama itu pula Rey tidak pernah memberi tahu identitas lengkapnya pada pak Wibie.
"Salahnya sendiri. Dia juga ga pernah Nanya"
Rey segera memberi alasan pada dirinya sendiri untuk menghilangkan rasa bersalahnya
Setelah semuanya selesai dan Wibie juga sudah menyelesaikan transaksi, mereka pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30.
***Ilustrasi Rey saat mendaftar kuliah***