Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
Asisten Pribadi


Selepas magrib, sepanjang jalan sekitar Serdang semakin macet. Menjelang sore pedagang kaki lima yang mulai menata gerobaknya di bahu jalan, semakin sore jumlah mereka semakin bertambah.


Para pengendara roda dua yang melintasi wilayah itu juga tak kalah ramainya. Baik pengendara yang melintas maupun mereka yang berwisata kuliner.


Keadaan diperparah oleh pengendara yang melakukan transaksi dengan pedagang tanpa mau turun dari kendaraannya. Drive true istilah kerennya.


Wibie yang melalui jalanan itu, mau tidak mau juga harus bersabar. Membaur dengan angkutan umum yang saling berdesakan dan pejalan kaki yang hilir mudik, menyebrang, menyalib sembarang saja.


Berbelok menuju ke pertigaan arah Cempaka Putih, kembali ditemui sekumpulan pejuang hidup. Mulai dari pengemudi ojek online maupun pedagang yang berkumpul di pangkalan.


Jalanan semakin kusut. Kendaraan hanya bisa melaju dengan kecepatan 20 hingga 30 saja. Sungguh situasi yang membosankan, menembus jalanan yang kian padat.


Mungkin alasan inilah yang menyebabkan Devara tidak bisa lagi menikmati perjalanan nya. Ia mulai gelisah dan sebentar-sebentar bertanya pada papanya.


"Masih lama ga, Pa?" tanya anak itu untuk yang kesekian kalinya. Mukanya yang terlihat mulai suntuk mendongak ke arah Pak Wibie.


"Harusnya sebentar lagi, sayang. Cuma jalanannya kan padat, jadi kita harus bersabar. Mengendarai motornya harus pelan-pelan," jelas pria itu sembari mengelus rambut anaknya dengan sebelah tangannya.


"Hidung aku gatel, Pa" keluhnya lagi. Kali ini ia terlihat mulai mengucek-ucek hidungnya dengan gerakan yang cukup kencang.


Wibie merapatkan motornya ke pinggir jalan. Sepertinya ia baru menyadari akan sesuatu.


"Maaf, sayang. Papa lupa, kamu tidak menggunakan masker. Pindah ke tengah, ya?" tanpa menunggu jawaban gadis kecilnya itu, Wibie mengangkat tubuh montok Devara turun dari motornya.


"Rey, kamu bisa geser sedikit, kan? Biar Devara duduk di tengah. Kasian jika ia kena asap jalanan," pinta Wibie sembari menggeser pantatnya agar bagian belakang lebih lega.


"Bisa pak," sahut Rey dengan gesitnya.


Tanpa menunggu aba-aba lagi, ia segera turun dari motor itu dan membantu Devara duduk di belakang papanya.


Motor yang mereka tumpangi segera melaju setelah Rey siap di tempat duduknya kembali.


Sesaat Devara memalingkan kepalanya ke arah Rey. Senyumnya sedikit mengembang. Rey membalas senyum itu tak kalah ramahnya. Rey memeluk pinggang anak itu dan mengelus-elusnya dengan pelan.


Rey senang, rona ketus dan cuek dari wajah Devara yang imut itu sudah sedikit berkurang. Sebuah perubahan yang baik untuk kedepannya


Dari Serdang ke Penggilingan sebetulnya tidak terlalu jauh. Yang membuat perjalanan semakin lama karena macetnya jalanan di Kemayoran itu sendiri.


Setelah keluar dari kamayoran, Wibie mengambil arah ke jalan perintis kemerdekaan. Meskipun banyak pengendara yang pulang kerja menuju Bekasi, namun arus jalan cukup lancar.


Terdengar senandung kecil yang dilantunkan oleh Devara setelah ia melintasi wilayah Pulo gadung. Sepertinya ia sudah menikmati perjalanan nya kembali usai lepas dari kemacetan. Sesekali ia juga terlibat pembicaraan dengan papanya.


Rey lebih banyak diam. Ia mengamati rute yang sudah ia lalu dan merekamnya dalam ingatan. Mungkin sewaktu-waktu jika ia akan ke rumah tantenya, ia bisa melalui jalan yang sama. Begitu pikirnya.


*********


Hanya dengan membunyikan klakson beberapa kali, pintu gerbang itu tergeser. Cukup untuk dilalui motor yang dibawa pak Wibie. Seorang perempuan separu baya menghampiri mereka dan tersenyum ke arah Devara.


"Jalan-jalan kemana sih, kok sampai semalam ini?" tanyanya pada Devara yang langsung bergelayut di tangan perempuan itu.


"Dari rumah temennya, papa," sahut Devara seraya memonyongkan bibirnya ke arah Rey.


Seketika Rey menundukkan badannya dan memberi salam pada perempuan itu.


"Deva belum maem, kan? Kita maem dulu yuk. Ibu sudah masak sop sama ayam goreng," ajak wanita itu lagi. Ia menuntun Devara menuju ke salah satu ruang, di samping garasi rumah itu.


Wibie mempersilahkan Rey masuk ke bangunan berukuran 4m2 yang ada di bagian depan rumah itu, seketika setelah ia selesai memarkirkan motornya. Rey mengikuti langkahnya dari belakang.


Ternyata, di ruang itu ada perempuan muda yang sedang duduk di meja kerjanya dan terlihat sedang menyelesaikan sesuatu.


"Fan, ini Rey yang akan menggantikan tugasmu disini. Aku harap kamu bisa membimbingnya selama tiga hari ini agar semua pekerjaan yang kau handle selama ini dapat ditanganinya," Wibie memperkenalkan Rey pada wanita muda itu.


Pak Wibie mempersilahkan Rey duduk di kursi yang ada di depan karyawannya itu. Fanny yang sedang fokus pada pekerjaannya segera berdiri begitu menyadari ada yang datang ke ruangannya.


Rey mengambil posisi duduk di kursi yang masih kosong. Wibie tetap berdiri diantara kedua wanita itu.


"Kamarmu ada di atas. Sementara kalian berbagi tempat tidur dulu ya," ucapnya.


Kemudian, Pak Wibie menjelaskan sesuatu dengan suara yang sedikit pelan pada Fanny. Sepertinya prihal apa yang harus dilakukan Fenny agar Rey bisa menggantikan tugas-tugasnya sebagai asistennya. Fenny mengangguk-anggukan kepalanya tanda ia faham dengan apa yang dikehendaki bosnya itu. Tak lama kemudian, Pak Wibie mohon diri untuk meninggalkan mereka berdua.


Tak banyak yang bisa dijelaskan oleh Fanny karena sudah waktunya mereka beristirahat. Fanny mengajak Rey ke lantai atas untuk membereskan barang-barangnya. Di bagian atas toko itu terdapat satu kamar tidur yang dilengkapi dengan kamar mandi. Selain itu juga ada ruang terbuka untuk menjemur pakaian. Fanny sudah menempati ruang ini hampir empat tahun.


"Kita mulai besok aja, yah. Bawa tasmu ke atas. Aku akan menutup toko dulu," Fanny segera menutup laptopnya setelah beberapa saat yang lalu ia matikan.


Kemudian ia menutup rolingdoor ruang itu dan menguncinya. Setelah semuanya dirasa aman, ia menyusul Rey yang sudah lebih dulu ke atas.


Selama tiga hari itu, Fanny membimbing dan mendampingi Rey melakukan pekerjaan yang akan menjadi tanggung jawabnya dikemudian hari.


Tidak terlalu susah bagi Fanny untuk melakukan itu semua karena pada dasarnya Rey punya otak yang cerdas dan cekatan. Rey bisa memahami apa yang akan dilakukan sehari-hari sebagai asisten pak Wibie yang merangkap juga sebagai admin, akuntan dan juga penjaga toko.


*******


Menurut penjelasan Fanny, usaha konveksi warisan keluarga yang saat ini dikelola oleh pak Wibie memang bukan perusahaan konveksi besar. Namun hasil produksi mereka sudah merambah beberapa pasar terbesar di Jakarta.


Hampir semua supplier pakaian safety yang membuka toko di Tanah Abang, Pasar Senin, Pasar Cipulir, dan Mangga Dua sudah menjadi langganan mereka sejak usaha itu masih dikelola oleh orang tua pak Wibie.


Karena pak Wibie satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga itu, ia yang diminta oleh ibunya untuk meneruskan usaha itu setelah ayahnya meninggal dunia karena penyakit jantung.