
Program bakti sosial ini melibatkan banyak pihak, baik petugas kesehatan setempat, maupun warga yang mau menyumbangkan tenaganya. Alex juga minta bantuan khusus pada kelompok dua agar hari ini mereka menjadwalkan tugas bersamanya.
Pengobatan gratis ini sepenuhnya di dibiayai oleh pihak kampus. Mereka akan memberikan layanan cek gula darah, kolesterol, asam urat dan tekanan darah secara gratis. Tidak dipungut biaya sedikitpun, bahkan jika ada pasien yang butuh pemeriksaan umum dan obat-obatan juga diberikan secara cuma-cuma. Jauh sebelum berangkat ke sini, Alex sudah mengajukan proposal untuk bantuan obat-obatan dan vitamin pada perusahaan farmasi yang menjadi rekanan pihak kampus.
Berhubung Risya satu-satunya mahasiswa kedokteran,dia yang ditunjuk oleh Alex sebagai ketuanya agar mempermudah koordinasi dengan petugas kesehatan setempat.
Sore itu, Alex datang ke balai desa untuk mengecek kesiapan Risya dan teman-temannya. Mereka harus berbagi tugas karena program yang sudah mereka susun tidak akan berjalan dengan baik jika harus dikerjakan dalam satu waktu dan bersama-sama, harus ada pembagiannya agar bisa berjalan dan memberikan tindak lanjut.
"Sudah berapa yang daftar?'' tanya Alex begitu ia sudah menghampiri Risya yang tengah menyiapkan perlengkapan medis yang akan dibutuhkan besok pagi.
"Rame, Lex. Yang cek kesehatan ada 300 orang sedangkan yang punya keluhan sekitar 97. Kita masih buka sampai besok pagi, jam 09.00 sesuai jadwal,"
"Untuk balita?" tanya Alex lagi.
"Sekitar 200,"
"Banyak juga, ya. Kita harus bagi-bagi tugas nih siapa yang di bagian cek kesehatan, layanan umum,dan balita?"
"Sudah aku susun. Masing-masing kelompok di dampingi petugas kesehatan dari puskesmas,"
"Sip, berapa alat yang kita punya?"
"Ada 10. Cukup kok, satu orang tidak lebih dari 5 menit untuk cek kesehatan satu paket. Semua masih segel, nanti sore kita sempatkan untuk cek alat itu satu persatu,"
"Liar biasa Bu dokter ini. Sudah bisa jadi kepala puskesmas ini," puji Alex.
"Hemmm......bisaan aja, Lo. Kerjaan ini bakal gua hadapi setiap hari, dua/tiga tahun mendatang. Jadi harus bisa membiasakan diri sejak sekarang,"
"Sip, gua sependapat kalo begitu,"
"Besok Pak Kades yang membuka acara, didampingi langsung oleh Pak Gun,"
"Deg," Alex kaget mendengar apa yang dikatakan Risya barusan.
"Dapet info dari mana?" tanya Alex begitu penasaran.
"Grup angkatan. Temanku yang KKN di Banten cerita. Tadi pagi saat Pak Gun kunjungan ke mereka dia bilang mau langsung terbang ke Belitung. Mau melihat bakti sosial yang kita laksanakan sekaligus memantau sejauh mana program kita dilaksanakan?"
"Kok dia ga bilang, ya?" tanya Alex nyaris tidak terdengar oleh Risya.
"Bisa jadi dia mau kasih kita kejutan, bisa jadi dia akan memberitahu kita setelah sampai di sini. Ini kan masih wilayah kerja dia, suka-suka dialah, yang penting 80 persen dari program kita sudah dilaksanakan,"
"Iya juga, sih" Alex berusaha menutupi kegusarannya karena ia yakin dari semua teman yang ikut KKN di sini belum tahu trade record bandot tua itu.
"Jadi apa yang perlu dibantuin nih?" tanya Alex, berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Semuanya sudah, tinggal ngecek alat aja. Barangnnya masih di rumah semua,"
"Minum dan snack untuk tamu dan panitia?"
"Sudah, Tega yang urus semua,"
"Alhamdulillah, berarti kita bisa kembali ke rumah lebih sore. Badan rasanya sudah pengen istirahat," keluh Alex.
"Elo kurang tidur dan siang juga terlalu memaksakan diri untuk menangani segala sesuatunya sendiri. Kau tidak memberikan hak tubuhnya untuk istirahat," oceh Risya.
"Rasanya aku sedang tidak berkonsultasi dengan dokter, kenapa kok dapet ocehan seperti ini," guman Alex.
"Ini ada vitamin, minumlah," Risya mengambil box yang ada di sisi meja dan mengeluarkan satu strip kapsul berwarna oranye. Setelah membukanya, ia mengulurkan benda itu ke mulut Alex.
"Eh, di kira aku anak kecil apa kok diperlakukan seperti ini," protes Alex.
"Udah, minum aja. Ini bukan vitamin sembarangan loh. Semua obat yang dikirim di sini punya kualitas yang baik dan harganya cukup mahal. Bukan kaleng-kaleng,"
"Ha...ha.... Bisa aja, lo,"
Risya akhirnya memberikan kapsul itu pada Alex berikut air mineral yang di kemas dalam gelas kecil.
"Sebenernya aku lebih suka istirahat dan minum air kelapa kalau sudah capek. Ga pernah makan yang beginian. Demi Bu dokter, tak apalah,"
Alex memasukkan kapsul itu ke dalam mulutnya kemudian minum air putih untuk mendorong benda itu agar sukses masuk ke perutnya.
"Alex....," teriak Teta begitu mengejutkan ketika ia masuk ruangan, ada Alex di situ.
"Glekkk," Alex tersedak. Kapsul itu nyangkut di tenggorokannya. Dengan muka kesal ia memandang ke arah Teta.
"Maaf, aku tidak lihat jika kau sedang minum," ujar Teta penuh sesal.
Risya berusaha mendorong Alex agar terus batuk untuk membersihkan penyumbatan nya dan memuntahkan makanan itu jika masih ada di mulutnya. Karena Alex tetap tidak batuk, ia memukul bagian belakang punggungnya untuk membantunya batuk. Setelah mendapat lima kali pukulan yang cukup keras, akhirnya pria itu bisa batuk dan memuntahkan vitamin itu dari mulutnya.
"Nih, minum lagi," Risya yang sudah membuka gelas berikutnya, mengulurkan air minum itu ke arah Alex.
Teta tidak suka melihat pemandangan itu, seketika itu juga ia memasang muka jutek pada Risya.
"Dia bilang lagi capek, jadi aku kasih vitamin biar cepat pulih. Besok kan ada acara besar, jangan sampai ia terkulai di tempat tidurnya," Risya berusaha menjelaskan pada Teta kenapa Alex minum vitamin. Ia bisa membaca jika Teta tidak suka dengannya. Apalagi jika mendapati dirinya sedang bicara dengan Alex.
"Kenapa harus klarifikasi sama dia?" protes Alex.
"Aku tidak tega melihat mukanya yang begitu cemas. Kau harus bersyukur ada yang begitu perhatian padamu," ujar Risya dengan ekpresi sewajarnya.
"Kita semua teman, tidak ada sesuatu antara aku dan Teta juga yang lainnya. Aku tidak suka jika ada yang bicara mengarah pada hal yang bukan-bukan,"
"Maaf, aku salah bicara ya?" Buru-buru Risya menyadari kesalahannya dan minta maaf.
"Ga apa, tapi lain kali jangan di ulang,"
"Iya,deh. Maaf pak ketua," seru Risya lagi. Dalam hatinya gadis ini jadi bingung. Kenapa Alex bisa bersikap seperti itu? Mudah tersinggung dan terlihat sedang ada hal yang dipikirkan. Kemarin-kemarin pria ini begitu enjoy.
"Bukankah dia juga tau kalau Teta suka cari perhatian padanya? Biasanya juga cuek. Kenapa sekarang jadi jutek?"
"Ah, sudahlah. Bukan kapasitas saya mikirin itu. Mungkin dia lagi ada masalah," Risya berusaha berpikir positif.
"Lex, aku ke depan dulu. Mau liat meja pendaftaran sudah siap atau belum," Risya pamit sambil melangkah ke luar, meninggalkannya bersama Teta di ruang itu.
Teta hanya berdiri di sisi meja, ia tidak berani bicara lagi pada Alex. Teta pura-pura sibuk membereskan obat-obatan yang sudah ia rapikan jauh sebelum Alex datang.
"Kalo ada yang nanya, aku balik duluan ya," Alex bicara pada Teta namun pandangannya tidak pada gadis itu. Ia seolah hanya memberi tahu bahwa sudah tidak ingin di ruang ini lagi.
Teta tidak menjawab. Ia hanya memandangi punggung Alex yang sudah melangkah meninggalkan ruang itu lewat pintu belakang, di mana ia memarkirkan motor sewaannya.
"Dasar apes, belum apa-apa sudah kena sembur," gerutu Teta pada dirinya sendiri.
*******
Happy reading all! Jangan lupa tinggalkan
✓ LIKE
✓ KOMENTAR
✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏
Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih.
Kunjungi juga novelku yang lainnya ya, yang berjudul I am Feeling Blue dan Temani Aku, Ken! Barangkali kalian berkenan. Terimakasih!!!