Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
EP. 23 Pembekalan KKN


Sedih boleh saja tapi aktivitas tetap berlanjut. Sudah menjadi aturan hidup bahwa manusia itu tidak selamanya berada dalam kesukaan atau senantiasa dalam kedukaan. Keduanya menghampiri silih berganti, mungkin porsinya saja yang beda. Lebih berat yang mana? Tergantung perbuatan yang sudah kita lakukan sebelumnya.


Seperti Rey, kali ini ia sedang ada dalam masalah Urusan toko online dan orderan fiktif yang dilakukan orang tidak di kenal masih saja menghantui Rey. Namun ia belajar iklas dari musibah ini. Untuk sementara, atas saran Wibie ia menutup tokonya selama 10 hari ke depan sambil menunggu hasil kerja teman Pras dan tanggapan dari costumer servis.


"Rey," panggil teman-temannya yang sudah lebih dulu berkelompok di salah satu sudut ruang auditorium.


Rey yang berdiri di pintu mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan segera mengenali suara temannya. Ia segera menghampiri teman-teman angkatannya dan bercengkrama dengan mereka.


Pagi ini mereka ada pembekalan KKN. Mau tidak mau semua mahasiswa yang sudah mendaftar harus hadir pada karena akan ada pengarahan dari rektor dan pembimbing lapangan.


"Pras, mana?" tanya salah satu temannya.


"Ga tau. Aku berangkat dari rumah,"


"Bukannya kalian tetangga satu tembok?" canda temannya itu lagi.


"Iya, Pras tetangga sebelah rumah ibu mertuaku. Istrinya sudah dianggap seperti anak sendiri oleh ibu. Jadi sejak dulu ada pintu khusus yang menghubungkan dua rumah itu,"


"Oh, pantes saja kalian begitu dekat. Dulu aku kira kalian pasangan kekasih," sahut Devi.


"Ngawur aja. Elo sih kalo kuliah cuma numpang molor jadi ga update gosip emak-emak milenial," sahut yang lainnya.


"Ha...ha....," tawa yang lainnya.


Memang Devi di kenal sebagai ratu tidur di kelasnya. Kehadirannya di kampus hanya untuk numpang tidur. Pekerjaannya sebagai Costumer servis di bank asia membuatnya harus siap melayani nasabah 1x24 jam. Tidak ada kata santai untuknya kecuali bisa bernafas lega saat jam istirahat dan makan siang.


"Kita ada yang satu kelompok ga ya? Rasanya bete banget kalo ga ada temen senasib saat di lokasi. Lihat aja noh, anak-anak kelas reguler itu gayanya minta ampun. Mana ada yang mau duduk deket kita begitu mereka mengetahui kelompok ini isinya kelas karyawan semua. Kita dianggap parasit saja di kampus ini" oceh Devi.


"Kok parasit, sih?" protes yang lainnya.


"Lalu apa?"


"Lebah madu," Ujar Rey.


"Kenapa begitu?"


"Secara umum citranya kurang baik tapi ia berperan penting sebagai serangga penyerbukΒ 


utama," lanjutnya.


"Ha...ha.....Kamu bisa aja menghibur diri, Rey,"


"Udah, ga usah risau sama sikap mereka. Toh kita ga bergantung sama mereka," lerai yang lain.


"Tapi kesel aja bawaannya. Mereka beranggapan bahwa diri mereka lebih segala-gala dari kita. Lihat aja tatapan mereka,"


"Sttt, jangan keras-keras. Jangan cari ribut," Rey berusaha menenangkan teman-temannya yang cepat terpancing dengan cara anak reguler melihat kehadiran mereka di ruang itu.


Tawa mereka terhenti begitu ada seorang pria yang datang menghampiri kelompok mereka. Pria muda, tampan dengan penampilan yang sportif.


"Hay, kok mojok di belakang," sapa pria itu begitu sudah tinggal satu langkah lagi tepat berada di dekat Rey berdiri.


"Iya, aku baru dateng. Karena teman-teman sudah lebih dulu di sini, ya udah. Aku gabung dengan komunitasku,"


"Kamu bisa aja. Kesannya seperti ada kelompok-kelompok di sini,"


"Faktanya begitu," Rey mengangkat kedua bahunya dan tersenyum hambar pada Alex yang masih berdiri di depannya.


"Siapa, Rey? Kamu kok nemu aja yang model beginian," selidik temannya.


"Dia anak akutansi juga, sementer lima tapi di reguler,"


"Hem...," wajah-wajah yang tadi begitu ingin tahu mendadak memilih membuang muka.


"Pras, kita di sini," panggil salah satu dari kelompok mereka begitu melihat Pras yang mencari-cari kursi kosong.


"Mas," sapa Alex begitu melihat Pras sudah berdiri di dekatnya.


"Eh, kamu. Kita ketemu lagi," dengan ramah Pras mengulurkan tangannya ke arah Alex.


"Iya, sepertinya kita ditakdirkan untuk selalu bertemu akhir-akhir ini," human Pras.


"Kan satu kampus, Mas," sahut Alex.


"He...he.....anda cerdas bung," Pras menepuk pundak Alex, kemudian duduk di bangku terdekat yang masih kosong.


"Saya ke situ dulu," Alex mohon diri dan menunjuk ke arah kanan dimana seseorang sejak tadi sudah menunggunya.


"Ok, sampai jumpa," sahut Rey dan Pras nyaris bersamaan. Sedangkan teman yang lain mengabaikan Alex yang pergi meninggalkan kelompok mereka.


"Mungkin begini perasaan mereka ketika berada di tengah-tengah mahasiswa reguler," gumam Alex. Ia merasa sedih ketika pamit tidak ada yang perduli padanya kecuali Rey dan Pras.


"Kenapa harus ada kelompok- kelompok begini, sejak kapan satu sama lain menjadi tidak harmonis," pikirannya lagi.


Mungkin jika ia tidak kenal dengan Rey, ia tidak akan mengetahui jika hubungan anak reguler dan kelas karyawan sampe separah ini. Yang ia tahu mereka hanya saling mengabaikan satu sama lainnya. Dan itu masih terbilang wajar karena mereka tidak pernah ketemu dalam satu kelas. Anak reguler bubar, mereka baru datang untuk kuliah.


"Pras, sudah ada kabar dari temanmu? Kapan toko online bisa operasi lagi," tanya Rey begitu serius. Ia mulai duduk di samping Pras agar bisa membicarakan hal itu tanpa harus di ketahui yang lain.


"Oh, iya. Aku lupa kasih tau. Saat ini orangnya lagi ada di luar kota, urusan kantor. Dia janji, begitu sampai ke Jakarta akan dibereskan,"


"Oh, masih lama?"


"Lusa dia sudah kembali,"


"Hem..... Lama!"


"Sabar," Pras berusaha menghibur. Jika aku bisa sudah aku beresin dari kemaren,"


"Iya, Mas Wibie juga bilang seperti itu,"


"Ha..ha....kita memang laki-laki yang payah," Pras menertawakan dirinya sendiri yang merasa tidak berguna.


"Dari CS gimana?"


"Kan diminta menunggu 2x24 jam. Cuma masalahnya tokonya aku tutup atas saran anda, Tuan dan bos besar,"


"Oh iya, ya. Berarti kita tunggu lusa aja. Insya Allah dia bisa menangani. Kemampuan sudah tidak diragukan lagi untuk urusan IT dan sekutunya,"


"Iya,"


"Jangan sedih!"


"Siapa yang sedih, asal aja," elak Rey.


"Maksudku jangan sedih jika kau harus melihat dia lagi," sahut Pras sembari menunjukkan ke depan. Di barisan dosen yang duduk di atas podium, ada Pak Gun yang duduk dengan tenang. Ia tampak begitu berwibawa jika dalam situasi resmi seperti ini.


Rey memukul pundak Pras. Kali ini cukup keras. Tanpa diingatkan, Rey juga sudah melihat kehadiran dosennya itu namun ia tak ambil pusing. Sejak tadi ia pura-pura tidak melihat keberadaan di ruang itu.


Happy reading all! Author tidak bosan-bosan minta dukungan. Mohon untuk tinggalkan


βœ“ LIKE


βœ“ KOMENTAR


βœ“ VOTE -nya yaπŸ™πŸ™πŸ™


Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊