
Jumat sore, Wibie mendapat kabar dari Oma. Adiknya sudah datang beserta suami dan anaknya. Oma minta agar malam ini mereka kumpul di rumah.
"Adekmu sudah dateng, Mas. Baru aja sampe. Anaknya lagi makan tuh sama suaminya," suara Oma terdengar begitu bahagia.
"Iya, Bu. Abis Azhar kita berangkat. Rey lagi beres-beres di toko,"
"Nginep, ya. Biar Devara dan Nathan bisa lebih deket dengan Aulia. Mereka kan jarang ketemu,"
"Iya, Bu. Kita sudah siapkan kok. Mau dibawain apa buat Witha?"
"Terserah aja, dia kan suka asinan yang deket PN itu. Kalo sempet mampir. Beli beberapa bungkus sekalian buat Dhiza,"
"Iya, Bu. Rey juga sudah bikin pindang iga sapi dan pepes ikan mas buat makan malam. Dari pagi dia sudah siapkan. Tinggal diangkut,"
"Walah, apa dia ga repot. Kok nyempet-nyempetin masak segala,"
" Dia yang mau, sudah Wibie ingatkan tapi masih juga masak. Ya itu, mondar-mandir aja dapur toko, toko dapur. He..he....,"
"Ibu jadi ga enak. Kasian istrimu. Dia sudah capek kuliah, ngurus usaha, belum lagi Nathan yang lagi usil-usilnya. Apa saja mau di coba,"
"Dia bilang mumpung kumpul, pengen masakin buat kekuarga,"
"Ya Allah, Rey itu kok ga kebal capek. Sering-seringlah diingatkan, kasian. Nanti dia capek,"
"Iya, Bu. Besok-besok Wibie akan lebih memperhatikannya,"
"Udah, ya. Ibu tunggu nih. Udah kangen sama cucu Oma yang paling ganteng. Assalamualaikum," terdengar suara Oma yang mengakhiri panggilan telpon dari seberang.
"Iya, Bu. Waalaikum salam,"
"Adek Aulia udah dateng, ya?" tanya Devara yang menguping pembicaraan papanya sejak tadi.
"Iya, baru aja sampe,"
"Ayuk, Pa. Buruan! Kita ke rumah Oma!" ajak Devara tidak sabar.
"Kita sholat dulu, sebentar lagi sudah masuk Azhar,"
"Okeh,"
"Ayok dek, kita beresin mainannya. Kita mau ketemu Aulia," Devara mengajak Nathan membereskan fazle yang berantakan di ruang itu.
"Anak pinter," seru Wibie sembari mengelus halus rambut Devara dan Nathan bergantian.
"Papa mau bantuin Mama dulu, ya. Setelah beres kamu mandi duluan,"
"Iya, Pa,"
Wibie hendak melangkah ke toko, namun Bu Fat yang ada di dapur lebih dulu memanggilnya.
"Mas, ini sudah siap semua. Iga sama kuahnya saya pisahin supaya ga tumpah. Kalo mau dipanasin nanti dijadiin satu lagi. Pepesnya di box yang ini," ujar Bu Fat. Ia melihat iga yang sudah terpisah dari kuahnya dan box berisi pepes ikan mas.
"Mau di taro di mobil sekarang?" tanya Bu Fat.
"Iya, Bu. Sini saya bantu,"
Wibie menenteng termos nasi yang berisi iga berikut kuahnya yang sudah dibungkus dalam plastik besar. Bu Fat ikut dari belakang membawa box berisi ikan mas.
"Bentar, kuncinya mana ini?" tanya Wibie begitu mendapati pintu mobilnya masih terkunci.
"Pake mobilmu aja, Mas. Biar ga capek ngeluarin lagi,"
"Oh, iya. Ayo Bu. Bawa ke depan," tanpa harus membuka pintu gerbang, Wibie melewati toko menuju mobilnya yang masih terparkir di depan bangunan itu.
"Makan besar, nih," seru Fadlan ketika mencium aroma pindang yang menggugah selera makannya.
"Tar mau pulang makan dulu, udah di sisain kok,"
"Terimakasih, Kak. Kakak faham betul maksudku,"
"Lah iya, sudah mau dua tahun kita kerja sama. Sudah fahamlah aku," sahut Rey lagi.
"He..he....," Fadlan dan Fauzan hanya tersenyum bahagia karena bos nya ini begitu pengertian pada mereka.
"Mas, baju ganti anak-anak juga sudah siap. Ada di kamar Devara,"
"Iya, nanti aku masukin sekalian,"
Rey kembali menyelesaikan tugasnya. Ada beberapa email yang harus di balas sebelum ia menutup toko. Sementara Fadlan dan Fauzan sedang menyusun pakaian yang baru diambil dari konveksi pada rak yang tersedia.
Hari ini barang dari konveksi menumpuk, pesanan beberapa konsumen juga belum di packing.
"Hari ini lembur?" tanya Rey pada kedua karyawannya itu.
"Iya, ga apa. Ga ada yang nungguin juga kalo pulang cepet," sahut Fadlan dan diiyakan juga oleh Fauzan.
"Belum ada yang cocok, Kak,"
"Susah kalau cari yang cocok 100 persen, mah,"
"He..he....nantilah. Nabung dulu,"
"Nah kalau itu aku baru setuju," sahut Rey menimpali.
******
Usai sholat, mereka berangkat. Bu Fat tinggal di rumah, suster Nisha yang ikut serta dengan mereka.
Devara, Nathan dan suster Nisha duduk di bangku penumpang, sementara Rey menemani pak Sopir di depan.
"Kita ambil arah ke sini, kan mau beli asinan dulu," Rey mengingatkan suaminya agar jangan salah jalan.
"Iya, ya. Mau bablas aja,"
"Semakin tambah usia, kemampuan untuk mengingat menang makin berkurang,"
"Eh, aku belum 30 tahun loh. Sembarang aja bilang sudah tua," Wibie pura-pura ngambek mendengar ucapan istrinya.
"Enam bulan lagi kepala tiga," ujar Rey menahan tawa.
"Masih muda di banding Mr. Gun,"
"Jleb," Rey terdiam seketika itu juga. Ia tiba-tiba kesal jika Wibie sudah menyinggung perkara dosennya itu.
Suster Nisha yang ada di belakang pura-pura tidak mendengar ketika suami istri itu saling membuly satu sama lain. Ia memangku Nathan dan melihat jalanan yang mulai sesak. Sementara Devara sibuk dengan gadget mamanya, ia membuka YouTube dan nonton Doraemon the movie.
"Semester ini cuma KKN, ya?" tanya Wibie mencoba mencairkan suasana. Ia melirik Rey yang membuang mukanya ke arah jalanan.
"Masih ada Manajemen Strategi dan Auditing 2. Empat mata kuliah yang lainnya kan sudah diambil di semester pendek," sahut Rey menjelaskan.
"Sudah tau belum tempat tujuan KKN-nya?"
"Belum, denger-denger ada yang di luar kota. Pastinya sih belum tau,"
"Yang sudah-sudah di sekitar Tanggerang dan beberapa wilayah di pulau seribu. Ada juga yang di kampung nelayan Jakarta Utara,"
"Kok, Mas tau?" tanya Rey penasaran.
"Aku suka baca jurnal kampus online. Dari situ banyak berita yang terkait dengan kegiatan dan program kampus,"
"Oh," Rey manggut-manggut. Rupanya suaminya ini cukup perhatian juga. Sampe mengikuti jurnal kampus yang selalu di perbarui setiap Senin dan Kamis.
Padahal Rey sudah tau tujuan KKN tahun ini, namun ia belum terima pembagian lokasi. Hanya daftar peserta KKN yang sudah di publis di mading kampus A.
"Semua kelas karyawan ikut KKN, kan?"
"Sepertinya begitu. Sebagian masih urus cuti dan perizinan dari tempat kerja,"
"Kenapa harus cuti, bukannya mahasiswa kelas karyawan tidak wajib hadir di lokasi seratus persen. Mereka hanya diwajibkan satu dua kali hadir pada hari kerja dan wajib hadir pada Sabtu dan minggunya. Itu yang aku tau,"
"Buat antisipasi kali, siapa tau kalau dapet izin bisa ikut yang di luar kota,"
"Emang ada lokasi baru selain sekitar Tanggerang?"
"Itu dia, belum fix lokasi yang baru ini. Masih di rapatkan oleh pihak kampus,"
"Eh, udah sampe tuh. Biar aku yang turun. Mas menepih aja, ga usah cari parkir," Rey menunjuk ke arah toko yang menjual asinan langganan ibu mertuanya.
"Ok,Jangan lupa bawa dompet," Wibie mengingatkan istrinya yang sudah memegang handle pintu namun melupakan tasnya.
"Oh, iya," sahut Rey malu.
"Ternyata mau tua atau muda sama aja. Urusan lupa mah ga kenal usia," gumam Wibie sembari melirik istrinya.
Rey tersenyum geli melihat ekspresi suaminya, memang sudah menjadi kebiasaan dia jika mendadak turun ketika dalam perjalanan, ia nyelonong saja. Melupakan barang bawaannya.
Pernah suatu ketika, saat ia berbelanja di minimarket tanpa Wibie, Rey harus menitipkan terlebih dahulu keranjang belanjaan ke kasir karena ia melupakan dompetnya yang ada di mobil.
Akhirnya ia harus bersusah payah keluar untuk mengambil dompet padahal sudah hampir 20 menit ia antri di kasir untuk mendapatkan giliran. Setelah itu, ia harus antri lagi dari barisan yang paling belakang.
Happy reading all! Author tidak bosan-bosan minta dukungan. Mohon untuk tinggalkan
✓ LIKE
✓ KOMENTAR
✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏
Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊