
Rey yang sudang menyandang tas ranselnya melangkah menuju ruang tamu.
Wibie dan Devara yang tengah nonton tv tidak melihat kedatangan.
"Pak, aku berangkat dulu, ya! Mata kuliah pertama aku ijin, yang ketiga juga. Kalo yg abis magrib ini kuliah akuntansi dasar. Penting banget buat aku, aku harus belajar dari awal karena SMA aku jurusan IPA," ijin Rey pada Wibie yang masih bercanda dengan Devara.
Anak itu tidak mau turun dari gendongan papanya meskipun berkali-kali Wibie bilang mau sholat.
"Kakak berangkat kok malem?" tanya gadis kecil itu karena biasanya Rey berangkat kuliah pukul 4 sore.
"Iya, kan tadi udah ijin sayang," jawab Rey sambil mencubit pipi anak itu yang gempi.
"Aku anter ya," ujar Wibie
"Ga usah, buru-buru nih. Lagian kamu juga belum sholat," elak Rey.
"Ya udah, naik Grab aja. Nanti aku jemput. Kan kita belum beli cincin kawin," tambah Wibie mengingatkan calon istrinya itu
"Ya udah. Aku mau ijin sama Ayah dan ibu dulu," Rey meninggalkan Wibie yang masih digelayuti oleh Devara.
Setelah mengetuk pintu kamar tamu, Rey menekan handel pintu. Ia melihat ayah dan ibunya sedang duduk di pinggir spring bed ukuran de Lux itu. Sementara Kak Nay dan Doni tengah asik dengan ponselnya masing-masing.
"Ayah, ibu, Rey pamit dulu mau kuliah sebentar,"
Ayah baru saja ingin mengucapkan sesuatu, keburu ibu yang nyerocos ga karuan.
" Kamu ini gimana sih. Lusa mau nikah kok masih keluyuran. Kamu ini orang Jawa loh, Rey tapi tidak ada tata kramanya sama sekali," ujar ibu bak petasan tongkat yang meledak-ledak hingga isinya yang terakhir.
"Hanya satu mata kuliah, Bu. Rey tadi sore juga sudah bolos begitu juga mata kuliah yang ketiga. Ini penting sekali untukku, makanya aku tidak ingin meninggalkannya," Ucap Rey dengan nada yang begitu hati-hati agar ibunya itu tidak lekas menjadi amaranya.
"Apapun itu, namanya calon pengantin itu harus pingitan. Apa tidak ada yang memberitahukan ini padamu. Ibu bener-bener ga faham deh sama pemikiran kalian," sahutnya lagi dengan nada ketus.
"Sudahlah Bu. Kita yang salah. Kita sudah tau anak kita akan menikah, tapi kita menganggap dia terlalu dewasa hingga kita lupa mengingatkan hal-hal seperti ini. Sebagai orang tua, sudah menjadi tugas kita untuk mengingatkan anak prihal tata krama dan adat istiadatnya," sahut Ayah. Lagi-lagi ia berusaha bijak jika Rey dan ibunya sudah mulai berseteru.
"Nah ini, dia. Aku paling ga suka jika ayah selalu bela-belain anak yang jelas-jelas melanggar aturan," sahut ibu yang tidak terima mendengar ucapan suaminya yang tidak berpihak padanya.
"Maaf Bu, Rey memang tidak banyak tahu tentang adat-istiadat atau ritual calon pengantin. Namun Rey sudah puasa seminggu ini. Bu Fat yang memberi saran agar Rey puasa sunah semingu sebelum akad nikah,"
"Jadi kau menganggap babu itu lebih perhatian kepadamu daripada ibumu?" Kali ini suara ibu lebih kencang dan nyaris berteriak. Ia begitu jengkel dibanding-ba dinginkan dengan orang lain.
"Bukan begitu Bu. Jika Rey salah, Rey minta maaf. Rey baru kuliah dua Minggu ini, ga enak kalo mau bolos. Jadi dipilah-pilah mana yang kira-kira ilmunya sangat Rey butuhkan untuk pekerjaan Rey, sebisa mungkin Rey akan hadir. Rey mulai bekajar akutansi dari dasar. Jadi perlu belajar banyak. Jika tidak hadir takut ketinggalan," Rey berusaha membela diri dan mendapatkan ijin dari ibunya
"Berangkatlah, Nak. Hati-hati ya," Ayah buru-buru memberikan izin sebelum ibu emosi lagi
"Terimakasih, Yah. Bu Fat sedang menyiapkan makan malam, ada pak Wibie yang akan menemani kalian. Rey ijin dulu,"
Rey segera meninggalkan kamar itu sebelum ibunya berkata-kata lagi. Tak lupa ia mencuim tangan kedua orang tuanya.
******
Tiba di kampus, Rey bergegas ke ruang kuliah yang ada di lantai 5. Untuk saat itu lift yang ditunggu sedang menuju ke bawah, hingga tidak butuh waktu yang lama untuknya segera tiba di ruang yang akan dituju.
Benar saja, begitu ia masuk ruangan, dosen pengampu mata kuliah akuntansi sudah ada di kelas. Rey melihat pria yang berusia kira-kira 50 tahun itu tengah menyiapkan sambungan telponnya ke infocus.
"Dateng juga, Kau. Baru mulai kuliah udah bolos aja," ujar pria itu begitu Rey sudah duduk manis di tempatnya.
"Orang tuaku dateng dari kampung, masa iya mereka datang aku tidak menemuinya," jawab Rey sambil menyiapkan buku dan alat tulisnya.
"Jadi beneran kamu mau nikah?" tanya Pras Kali ini wajahnya menatap tajam ke arah Rey.
"Sssttt....pelankan suaramu. Aku tidak mau yang lain mendengar obrolan kita," sahut Rey sembari menempelkan telunjuk ke bibirnya.
"Eh,maaf. Suaraku kekencengannya?" tanyanya tanpa merasa bersalah.
"Banget," jawab Rey ketus.
Hening!!
Pak Hugua sudah membuka perkuliahannya. Semua mahasiswa yang masih berbisik-bisik tiba-tiba menghentikan obrolannya. Memperhatikan dosen yang sudah menayangkan slideshow kuliah akuntansi diikuti penjelasan darinya.
"Aku salut padamu, kamu sudah berani memutuskan untuk menikah diusia yang masih begitu muda," ujar Pras setengah berbisik. Ia menggeser kursinya agar suaranya tidak menggangu mahasiswa yang lain.
"Ngomong-ngomong suamimu ga lebih muda darimu kan?" Kali ini Pras berusaha menggoda Rey. Karena selama ini Rey hanya bilang mau menikah tapi ia belum cerita siapa calon suaminya.
"Atau Kakek-Kakek kaya raya yang meminangmu dengan mahar milyaran rupiah?" selidik Pras lagi. Ia makin penasaran. Selama Rey tidak menjawab pertanyaan, ia akan terus menerornya.
"Sssttt..... pelankan suaramu. Lihat ke depan, Pak Hugua sudah melihat kita" Rey memberi peringatan pada Pras yang selalu berkicau ga karuan.
Rey tidak menjawab pertanyaan Pras, namun dia juga tidak akan membiarkan temannya yang super kepo dan bawel ini terus berkicau. Selain mengganggu konsentrasi Rey dalam memahami kuliah yang sedang berlangsung, mereka sudah dilihat oleh dosen karena suaranya bisa saja terdengar ke telinganya.
Rey mengeluarkan hp dari sakunya. Tak lama setelah ia menekan beberapa tombol, Rey menunjukkan sebuah foto yang tersimpan di galerynya pada Pras. Foto Wibie, calon suami Rey yang ingin sekali diketahui oleh Prasetyo.
Foto Wibie yang dipeli
"Hemmm....pantes saja kau ngebet sekali mau nikah. Rupanya ia tampan dan mempesona," puji Pras setelah ia melihat foto dari ponsel Rey.
Rey tidak menjawab. Ia mencatat point-poitn penting yang ditayangkan oleh dosen agar ia bisa mempelajarinya sewaktu-waktu.
"Tapi kok aku belum dapat undangan. Apa kau tidak menganggaku sebagai teman,"
Rey mengambil paksa notebook Pras dan menuliskan sesuatu di lembar yang sudah terisi resume perkuliahan hari ini.
[ Minggu, 28 Agustus 2019 Jln. Raya Penggilingan No. 19 ]
"Datang saja jika kau merasa teman baikku," ujar Rey sambil menyerahkan buku itu pada pemiliknya.
"Apa-apaan ini. Model undangan apa yang begini ini?" tanya Pras. Kali ini dia melihat Rey dengan muka yang penuh keheranan.
Rey tersenyum. Ia membiarkan Pras dengan pikirannya sendiri. Ia terus menyimak penjelasan yang disampaikan oleh dosennya.
Hingga kuliah berakhir, Rey segera kabur dari ruang kelas. Ia langsung pamit pada Pras karena Wibie sudah memberitahu melalui pesan WA bahwa ia sudah menunggunya di lapangan parkir.