
Jalanan ibu kota negara begitu legang. Sedan limo berwana biru yang mereka tumpangi melesat menebus jalanan yang begitu sepi. Beberapa ruas jalan ditutup. Konon diperuntukkan untuk car free day.
Tampak barisan pedagang kaki lima dan pejalan kaki memadati ruas jalan itu. Ada yang berlari, mengayuh sepeda, senam sehat, bahkan ada yang sekedar memilah-milah dagangan yang di gelar di sepanjang ruas jalan itu.
Rey melepaskan pandangannya ke arah jalan, melihat begitu dekat segala aktivitas waru ibu kota negara yang selama ini hanya bisa ia sanksi dari tayangan televisi.
"Sepagi ini mereka sudah giat beraktivitas,"
"Hari libur tetep semangat," gumamya lagi
Tidak seperti yang Rey ketahui dari pemberitaan di televisi. Jakarta dikenal sebagai kota yang macet dan polusi udara yang sudah melebihi ambang batas. Apa karena akhir pekan? Pagi ini langit begitu cerah. Udara diluar tampaknya belum terkontaminasi dengan asap kendaraan.
"Tampaknya udara begitu sejuk," pikir Rey lagi
Ia melihat orang- orang yang sedang berlari kecil sesekali mengambil nafas di udara dan menghembuskan nya kembali dengan pelan.
Wibie menghentikan taxi itu pada sebuah kedai bubur ayam Jakarta. Kedai yang terletak dipinggir jalan sekunder. Rey melihat beberapa orang sedang antri menunggu pesanannya. Sepertinya kedai ini cukup ramai pengunjungnya.
"Apa kita sudah sampai?" tanya Rey pada Wibie yang sedang membayar ongkos taxi yang mereka tumpangi. Dari tempat duduknya, Rey melihat argo yang tercantum dalam layar depan senilai Rp.67.000.
Wibie tidak menjawab. Setelah ia mengulurkan uang ke arah pak sopir, ia segera membuka pintu dan segera keluar dari mobil sedan itu. Rey hanya bisa mengikuti apa yang dilakukan oleh Wibie. Begitu juga ketika langkah kaki laki-laki itu masuk ke kedai bubur ayam tersebut.
Wibie memilih tempat duduk paling pojok. Ternyata tidak banyak pengunjung yang memilih makan di tempat. Mereka justru antri ingin membungkus makanannya untuk dibawa pulang.
"Kita sarapan dulu. Aku sudah lapar," Wibie membuka pembicaraan.
"Di sini buburnya enak. Cabangnya ada di beberapa tempat. Aku sering sarapan bubur ayam jika ada di Jakarta," jelasnya lagi.
Rey hanya tersenyum dan menunggu pesanan yang sebelumnya sudah diminta Wibie pada pelayan kedai itu. Tak lama datang dua mangkuk bubur ayam dan satu piring aneka sate. Ada sate telur puyuh, usus ayam dan juga ati ampela.
"Wow sepertinya lezat sekali," air liur Rey mendadak mencair.
Baru kali ini ia melihat sajian bubur ayam yang begitu lengkap. Kacang kedelai goreng dan taburan daun bawang seledri diatasnya membuat selera makannya bangkit seketika.
Sebelum menyantap bubur ayam yang tersaji di depannya, Wibie meraih botol air mineral yang tersedia di atas meja dan meneguknya pelan.
"Kamu mau minum apa? Pesan saja sekalian," Menutup kembali botol minumannya dan meraih sendok yang tersusun di sebuah tempat plastik berwarna hijau yang ada di atas meja itu. Ia mulai menyendok bubur yang masih hangat tanpa mengaduknya lebih dulu.
"Tidak. Cukup air menaral aja, Pak" jawab Rey singkat.
"Air teh hangat mungkin?" Wibie coba menawarkan kembali.
"Tidak. cukup ini saja," sahut Rey, matanya mengarah pada air mineral yang ada di depannya.
Rey juga melakukan hal yang sama, mulai menyantap bubur yang masih hangat itu dengan nikmatnya. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya hingga mangkuk kering tak bersisa.
"Alhamdulillah, tenyata rasanya lebih nikmat dari tampilan," gumam Rey.
"Mau nambah?" ujar Wibie. Ia melihat Rey masih memandangi mangkuknya sudah kosong.
"Di sebrang kedai ini. Kira-kira lima rumah dari sini ada Bakso Pak Min. Bangunan dua lantai dan bercat hijau. Nah itu alamat rumah tantemu jika sesuai dengan alamat yang kau tulis," jelas Wibie setelah ia menghabiskan sarapannya dan meneguk sisa air mineral yang ada di botolnya
Rey terkejut sesat. Setelah mengingat-ingat sesuatu, akhirnya ia angkat bicara
"Iya. Aku lupa memberi tahu. Kata ayah, suami Tante Rohmah membuka usaha bakso sejak di PHK dari perusahaan tempatnya bekerja,"
Wibie mengangguk-anggukan kepalanya.
"Berarti benar ya? Aku yakin alamatnya sudah tepat. Ini yang dimaksud jalan Serdang Baru. Warung itu juga bernomor 17 sesuai alamat yang kau tulis" ujar Wibie lagi
Rey seketika begitu sumringah. Akhirnya ia bisa sampai di Jakarta dan sebentar lagi akan bertemu dengan tantenya. Ia segera menghabiskan minumannya dan sudah tidak sabar ingin segera menemui penghuni rumah itu.
"Aku hanya mengantar mu sampai di sini, ya. Dan ingat apa yang aku katakan. Jangan bilang pada siapapun jika aku yang mengantar mu kabur ke Jakarta. Terserah kau mau memberikan alasan apa pada tantemu. Tapi ingat, jangan bawa-bawa namaku," pesan Wibie
"Iya pak. Aku ingat kok"
"Dan jangan lupa. Kau berhutang cukup banyak padaku. Jangan coba-coba lari dari tanggungjawab. Sewaktu-waktu aku akan datang untuk menagih uang itu," jelasnya lagi. Kali ini dengan nada yang cukup tegas dan pandangan yang tajam ke arah gadis itu.
"Iya pak. Aku akan mencicilnya sesuai kemampuanku," Rey berusaha meyakinkan karena ia menangkap apa yang diucapkan Pak Wibie lebih sebagai peringatan.
"Pergilah, Rey! Aku akan menunggu beberapa saat di sini. Jika dalam waktu 10 menit kau tak kembali ke sini, berarti kau sudah sampai pada tujuanmu," ujarnya pelan.
"Baik pak. Terimakasih sudah begitu baik padaku. Berkat bapak aku bisa sampai di sini dengan selamat,"
"Sudahlah. Pergilah! Pastikan dulu, apa benar itu keluargamu?"
Setelah itu Wibie menatap tajam wanita yang ada di depannya ini. Cukup lama ia memandang gadis itu hingga Rey jadi tersipu malu. Kemudia Wibie meraih kedua tangan Rey dan memegangnya dengan erat.
"Jaga dirimu baik-baik,"
"Bisa membantumu, aku sudah bahagia. Jangan pernah bersedih lagi, ya!" Pinta Wibie dengan begitu pelan dan pandangan tetap melekat pada Rey.
"Iya pak. Terima kasih. Aku pamit dulu,"
Wibie melepaskan tangan Rey yang beranjak dari tempat duduk. Kini ia hanya memandangi tubuh Rey yang menghilang, terhalang barisan pembeli yang sedang mengantri menunggu pesanan mereka
Cukup lama Wibie menunggu. Setelah tidak ada tanda-tanda Rey muncul kembali di warung ini, Wibie memutuskan untuk pergi. Ia mengambil Hp dari sakunya dan memesan ojek online.
"Driver anda akan tiba dalam waktu 3 menit," notif yang tertera di layar HP-nya.
Wibie segera bersiap-siap. Ia memanggil pelayan dan membayar bubur yang sudah dimakannya bersama Rey.
Wibie segera beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri driver gojek yang sudah menunggunya di warung. Ia segera meluncur ke kediaman nya.
Ada seseorang yang begitu ingin ia temui. Orang yang senantiasa menjadi alasan bagi Wibie untuk pulang ke Jakarta begitu ia libur atau off di lapangan.