Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
H-2


[ Di rumah Rey]


Mimpi ibu mendapatkan menantu yang kaya di bayar kontan. Tidak perlu menunggu lagi, Wibie sudah memenuhi apa yang menjadi kriteria ibu. Kaya dan mapan yang utama, perkara dia tampan dan duda beranak satu itu tidak menjadi pertimbangannya. Yang penting calon mantunya ini baik dan sangat sopan padanya.


Tiga hari yang lalu, Wibie menepati janjinya. Ia datang kembali ke rumah Rey, saat senja menjelang isya.


Wibie tidak hanya memberikan uang 20 juta sesuai kesepakatan untuk melunasi hutang pada Aldy, tapi ia menbahkan 30 juta lagi untuk keperluan calon keluarga barunya ini.


Ia tidak menganggap ini sebagai mahar, namun rasa kekeluargaan agar calon mertua dan saudara iparnya ini bisa berbelanja untuk acara nikahannya.


"Barangkali mereka butuh uang untuk membeli pakaian, dll," pikir Wibie.


Meskipun sudah mendekati hari H, seperti tidak terjadi pesta pernikahan di rumah Rey. Ibu tetap mengurus pekerjaan, menerima laundry dari para pelanggannya. Namun ibu juga sudah menempel pengumuman pada kaca jendelanya jika layanan jasa itu akan tutup mulai besok hingga dua hari ke depan. Jadi usahanya ia liburkan selama tiga hari.


"Sebelum dhuzur semua harus sudah diantar. Jadi tidak ada lagi pakaian pelanggannha yang sudah sudah ia terima tertahan," ucap ibu pada dirinya sendiri.


Nayla sejak pagi juga membantunya mempersiapkan segala sesuatu yang akan dibutuhkan selama di Jakarta. Mulai dari seragam keluarga yang sudah dibeli ibu kemarin dan perlengkapan lainnya.


Doni masih sekolah seperti biasa, karena mereka akan di jemput Wibie sore ini. Pesawat yang akan membawa mereka ke Jakarta akan berangkat pukul 8 malam.


Tiket pesawat untuk berangkat dan kembali lagi ke sini sudah dipesan oleh Wibie, semua Wibie yang melunasi.


Ibu memang tidak mau berlama-lama di Jakarta, selain karena usaha laundry kiloannya, Doni tidak bisa meninggalkan sekolahnya. Anak itu bilang, akan ada ujian.


*******


[Di kantor Wibie ]


Surat cuti sudah diajukan seminggu yang lalu dan hari ini sudah disetujui. Wibie mendapatkan cuti selama satu Minggu.


"Lumayan nih, satu minggu of ditambah cuti satu Minggu,"


"Aku akan memberikan kejutan pada Rey, bulan madu pertama untuknya," bisik Wibie lagi.


Dia keluar dari ruang bosnya dengan senyum yang begitu mengembang. Beberapa teman yang berpapasan dengannya sempat menggoda.


"Di acc ya bos,"


"Iya, kan cuti tahunan saya belum diambil,"


"Wah mantap nih. Belah duren terus," goda temannya.


"Ah bisa aja,"


"Rencana bulan madu kemana?" Tanya temannya lagi.


"Belum diputuskan,"


"Wkkk....payah kau, teman," ujar temannya. Ia meninggalkan Wibie yang masih berdiri di depan ruang pimpinannya.


Wibie melangkah ke mejanya. Mengambil tas yang la letakkan di bawah meja kemudian ia mengeluarkan handuk dan pakaian ganti.


Ia melangkah ke arah kamar mandi yang ada di ruang itu. Wibie memang tidak akan kembali ke mess.


*****


[ Di rumah Rey]


Tiba di rumah Rey, Wibie di sambut oleh seisi rumah. Rupanya mereka memang sudah rapi, lengkap dengan barang-barang yang akan didibawa.


Satu koper ukuran besar, dan tas kecil yang dijinjing oleh masing-masing empunya.


"Sudah suap, kan?" seru Wibie begitu turun dari mobilnya. Menghampiri kedua orang tua Rey dan bersalaman dengan mereka.


"Sudah, kita sudah siap sejak tadi,' sahut ibu. Diringi tatapan yang lainnya.


"Maaf, tadi saya menunggu surat cuti dulu. Masih ada waktu kok," seru Wibie. Sekilas ia melihat arah jarum jam di tangannya.


Wibie membatu ayah menuju ke mobil dan memapah pria itu di bantu Doni. Agar lebih leluasa, ayah duduk di samping sopir.


Sementara Nayla sudah langsung menepati tempat duduknya di kursi tengah.


*****


Pukul empat sore mereka tiba di bandara Silampari. Mereka bergegas ke boarding pass untuk memeriksa barang bawaannya.


Wibie memarkirkan mobilnya di tempat penitipan sementara ayah dibantu oleh petugas bandara menuju ruang tunggu.


"Alhamdulillah, semua lancar," ucap Wibie setelah ia sudah berada di ruang itu dan duduk disamping ayah.


"Alhamdulillah," sahut Ayah seketika dikuti oleh ibu.


Mereka tidak menunggu terlalu lama karena dari pengeras suara yang terdengar, pesawat mereka akan segera berangkat.


Tidak lama, pesawat yang ditumpangi lepas landas membawa mereka menuju Jakarta


******


Usai magrib mereka semua sudah tiba di rumah Wibie. Rey dan Devara yang sudah sejak tadi menunggu, langsung menghambur keluar.


Rey memeluk ibunya. Air matanya seketika itu tumpah, sambil tak henti-hentinya memohon maaf.


Ayah yang ada disitu segera meraih tangan Rey. Gadis itu menunduk tubuhnya dan memeluk erat pria yang begitu dikasihinya.


"Maafkan, Rey Ayah. Maafkan Aku, hanya kata-kata itu yang dia ulang-ulang. Baru berhenti ketika ayah mengelus lembut rambutnya dan berucap dengan bijak.


"Tidak ada yang salah. Semua sudah garis hidup yang ditetapkan Allah pada keluarga kita,"


Drama pertemuan itu seketika bubar ketika Devara yang sudah digendongan ayahnya bertanya dengan polosnya.


"Papa, mereka siapa. Kenapa menangis tak henti-henti"


Seketika itu pula mereka tertawa. Rey mencubit pipi gadis itu dan dibalas elakan olehnya.


"Mulai hari ini, mereka ini kakek dan nenek Devara. Ini om Doni dan yang ini tante Nayla," ayah memperkenalkan mereka satu persatu.


Devara mengulurkan tangan ke arah mereka satu persatu dan dengan sopan ia mencium tangan seluruh keluarga barunya itu.


Bu Fat datang dari arah dapur, mengambil tas yang dibawa oleh tamunnya itu ke kamar tamu yang ada di lantai bawah. bersebelahan dengan kamar Devara.


"Maaf Bu, tasnya saya bawa dulu ke kamar ya?" ujar Bu Fat begitu ia meraih koper yang ada di samping ibunnya Rey.


"Silahkan, " sahut ibu seketika itu juga.


"Perkenalkan, saya yang bantu-bantu di rumah ini. panggil saja Bu Fat," ujarnya sambil mengulurkan tangannya ke arah wanita yang masih berdiri. Bertegur sapa satu dengan lainnya.


"Permisi," ujar Bu Fat lagi setelah mengalami satu persatu orang yang baru datang. Ia menarik koper itu ke arah kamar.


"Maaf, saya mau ke kamar dulu," kali ini Nay yang bersuara


"Sepertinya aku mabuk, sejak tadi ingin muntah," tanpa menunggu reaksi dari yang lainnya ia langsung berlari ke kamar yang dimaksud Bu Fat.


"Maaf, Non. Kalau mau ke kamar mandi letaknya ada di sebelah sana," Bu Fat menunjuk ke arah kamar mandi yang ada di lantai bawah.


Letaknya terhalang oleh dapur..


"Oh, maaf. Saya kira ada kamar mandi di dalam," ujar Nay.


Bu Fat hanya tersenyum dan memandang langkah gadis itu hingga menghilang di balik tembok.


Bu Fat sudah merapikan kamar dan mengganti seprey yang ada di kamar itu. Ruang ini sudah begitu bersih dan sangat layak untuk ditempati oleh besan keluarga ini.


Tak lama, ibu dan Ayah jika masuk ke kamar itu. ibu sekilas menyapu isi ruangan. sedangkan ayah secepatnya memukul pelan tangan istrinya agar ia segera sadar dengan tingkah lakunya yang membuat Bu Fat merasa heran.


"Apa kami berempat tidur disini?" tanya ibu pada Bu Fat.


"Nayla dan Doni bisa tidur di kamar depan. kamar yang selama ini ditempati oleh Rey,"


"Di mana?" selidik ibu lagi.


"Ada di luar Bu. Di kamar atas yang ada di depan dapur ini," jelas Bu Fat lagi.


"Oh...." ujar ibu dengan nada yang panjang, diikuti mulutnya yang membulat dan maju ke depan.