
"Kamu dijemput?" tanya Pras begitu mereka meninggalkan ruang seminar. Jam sudah menunjukkan pukul 12.20 ketika seminar itu selesai.
"Ga, aku bawa motor,"
"Bukannya Wibie lagi off,"
"Iya, tapi ada beberapa barang yang harus dikirim siang ini. Ia membantu Fauzan mengemas paket,"
"Oh, baguslah kalau begitu,"
"Maksudnya?" tanya Rey heran. Pandangannya sekilas mengarah ke Pras yang cengar cengir.
"Aku bisa nebeng sampe kantor," sahutnya tanpa merasa berdosa.
"Hemm....emang ga bawa kendaraan?"
"Enggak, tadi aja ngumpet-ngumpet mau pergi. Bos lagi darah tinggi, pagi-pagi karyawan sudah di minta berkumpul untuk briefing, ngoceh-ngoceh ga karuan. Aku jadi was-was takut telat. Begitu ia selesai aku langsung naik ojek Pengkolan yang mangkal deket kantor,'
"Ha..ha...begitu loe sampe kantor ia sudah nunggu di ruang kerjamu. Tamatlah hidupmu saat ini juga," ledek Rey.
"Ga apa, puas-puasin aja dia ngomel. Bentar lagi gua juga bisa jadi bos begitu sudah wisuda. Gantian, aku tindas tuh si botak yang ga pernah senyum,"
"Ha...ha... lagi-lagi mulai menghalu. Emang kayak sinetron aja gitu, selesai kuliah ujuk-ujuk jadi bos, terus mecatin karyawan yang selama ini iri sama dia, balas dendam sama bos yang sudah menindasnya. Halumu itu enggak mendasar, bro," sahut Rey lagi dengan terkekeh.
"Ga apa-apa, buat nyenengin diri,"
"Beli minum dulu yuk, aku haus. Itu seminar apaan? Kita udah bayar mahal cuma dapet kue dua biji sama air seteguk. Mana cukup buat basahi tenggorokan selama empat jam. Kasih air mineral yang botol, kek. Pelit banget," oceh Pras.
Rey tidak menjawab, ia hanya tersenyum mendengar ocehan temannnya itu. Ia ikut saja begitu Pras berbelok ke arah koperasi untuk membeli air.
Selang beberapa langkah menuju koperasi, Rey melihat Pak Gun sedang berbincang-bincang dengan salah satu mahasiswa yang menghadangnya. Terlihat pria itu masih menjinjing tas dan hendak menuju ke ruangannya. Sebelum Rey mebalikkan tubuhnya, Pak Gun sudah lebih dulu melihat Rey menuju ke arahnya. Mau tidak mau ia harus meneruskan langkahnya, berjalan di sisi Pras.
Pras yang menyadari kehadiran dosennya itu lekas menghampiri dan memberi salam padanya. Rey juga melakukan hal yang sama.
"Tumben siang ada di kampus," pria itu langsung mengenali Pras yang mengulurkan tangan ke arahnya.
"Iya, Pak. Abis ikut seminar akutansi," sahut Pras
"Oh, yang di gedung G ya? tanyanya lagi untuk meyakinkan.
"Iya, pak,"
Kini Rey juga mengulurkan tangannya ke arah Pak Gun, memberi salam pada sang dosen yang sejak tadi tidak melepaskan pandangannya ke arah Rey. Entah apa yang ada dipikiran saat itu, sejak keusilan Wibie malam itu, Rey tidak pernah komunikasi lagi dengannya.
"Siang, Pak," sapa Rey lebih dulu.
"Siang, kalian berdua saja," tanyanya lagi. Tangannya tetap memegang erat tangan Rey, bahkan bisa dikatakan mulai jahil. Rey merasakan tangan itu meremas lembut ujung-ujung jarinya.
Rey menarik tangannya namun pria itu tetap menahannya, begitu Pras mohon izin jika mereka harus buru-buru baru ia melepas tangannya dengan pelan.
"Maaf, Pak. Kami masih ada urusan di kantor. Jadi harus segera kembali,"
"Kalian, satu kantor?" tanya pria itu pura-pura tidak tahu.
"Maksud saya, saya harus segera kembali ke kantor karena saya ikut dia jadi nasib saya tergantung sama dia," jawab Pras sembari menunjuk ke arah Rey.
"Oh. Baiklah. Sukses ya," ucapnya begitu bijak.
"Terimakasih, pak. Mau beli minum dulu. Haus. He. He....," Ujar Pras lagi.
Mereka menuju koperasi, Pras mengambil dua botol minuman segar dan buru-buru ke kasir dan meninggalkan tempat itu.
Saat Pras membayar belanjanya, Rey sempat melihat ke arah Pak Gun yang masih berbicara dengan mahasiswanya yang tadi. Pandangan mereka bertemu, dengan senyum genitnya dia tetap memandangi Rey dengan seksama.
"Ayo," ajak Pras sembari memberikan sebotol minuman itu kepada Rey. Mereka meninggalkan tempat itu setelah lebih dulu tersenyum dan menundukkan kepalanya ke arah Pak Gun. Pak Gun membalas dengan lambaian tangannya.
"Bener kata Wibie, pria itu benar-benar genit,"
"Apa? Mas Wibie cerita apa tentang Pak Gun?" tanya Rey kaget. Ia tidak mengira jika Wibie menceritakan hal memalukan itu pada Pras.
"Hus, jangan keras-keras. Malu kalau sampai di dengar orang," Rey mengingatkan Pras yang bicara begitu semangat hingga cukup menarik perhatiannya orang yang berpapasan dengan mereka.
"Hati-hati, Rey. Sepertinya dia tidak takut meskipun Wibie sudah memberi peringatan halus padanya,"
"Iya," sahut Rey singkat.
"Sepertinya dia sudah pengalaman menggoda mahasiswanya. Kelihatan sekali dari muka mesumnya saat dia meremas tanganmu,"
"Ah,kau liat ya?" Rey menepuk pundak Pras dengan keras. Ia malu adegan memalukan itu diketahui orang lain.
"Taulah, aku rasa cewek tadi juga lihat. Dia senyum-senyum aja sejak tadi,"
"Ya ampun. Malu banget aku. Nanti orang berpikir aku yang genit dan berusaha menggoda Pak Gun,"
"Sudahlah, ga usah dipikirin soal itu. Kau harus lebih hati-hati padanya mulai sekarang,"
"Bener-bener apes nih aku," keluh Rey.
"Untung kita sudah menyelesau semua mata kuliah yang dia ampu. Kalau tidak mampuslah aku," lanjutnya lagi.
"Iya sih, berdoa saja semoga skripsi nanti tidak ketemu dia sebagai pembimbing atau ketemu dia saat ujian," tegas Pras.
"Wah...kau bikin aku semakin takut," pekik Rey.
"Satu sama,"
"Sialan,"
Sebelum menyalakan motornya, Rey meneguk habis minuman dari Pras. Kaleng minuman yang sudah kering itu ia buang ke tempat sampah yang ada di dekat parkiran.
"Siapa yang bawa?" tanya Pras dengan muka polosnya.
"Kamulah, enak aja. Masa aku yang mboncengin laki-laki,"
"Ha..ha....segitu ngegasnya. Aku bukan Pak Gun. Biarpun di bonceng gak akan ngapa-ngapain," seru Pras membela diri.
"Ah ..jangan bahas itu lagi. Aku mulai merinding kalo ingat mukanya malam itu. Begitu menjijikkan,"
"Ha...ha.....kalo inget terus berarti mukanya ngangenin," canda Pras.
Rey menepuk Pras dengan keras hingga pria itu kaget dan teriak cukup keras.
"Busyet, segitu galaknya nih cewek kalo marah,"
"Diem. Buruan pergi atau mau aku tinggal," ancam Rey lagi.
Pras segera mengambil posisi, ia menyalakan mesin motornya dan segera tancap gas ketika Rey sudah duduk manis di belakangnya.
Mereka meninggalkan parkiran kampus ditengah terik matahari yang begitu menyengat. Baik Rey maupun Pras tidak menyadari jika sejak tadi ada sepasang mata yang tidak lepas mengamati keakraban mereka.
"Ada hubungan apa keduanya? Sejak tadi mereka begitu akrab," bisik Alex dalam hati. Ia begitu cemburu melihat kehadiran Pras, apalagi keakraban mereka sejak meninggalkan ruang auditorium tadi.
"Pria itu terlalu tua untukmu, Rey!" Bisiknya lagi.
Setelah yang diamati menghilang dari pandangannya, Alex membalikkan tubuhnya. Ia yang sejak tadi berdiri di depan pintu BEM, kini melangkah masuk. Bergabung dengan teman yang lain. Mereka ada agenda rapat, menyusun program BEM yang akan di selipkan pada program KKN yang akan dilaksanakan dua bulan mendatang.
Happy reading all! Author tidak bosan-bosan minta dukungan. Mohon untuk tinggalkan
✓ LIKE
✓ KOMENTAR
✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏
Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊