
βJalani aja dulu. Tetep semangat dengan kesibukan ini," Begitu pikiran yang terlintas di benak Rey ketika ia memutuskan untuk kuliah, menikah, dan mengurus usaha keluarga suaminya.
Kesempatan belum tentu akan terulang, mumpung masih muda, itung-itung cari pengalaman dan relasi.
Dengan modal kalimat itulah Rey bisa menjalani semuanya hingga kini ia sudah menyelesaikan lima semester dengan lancar walaupun tenaga dan pikirannya terkuras habis.
Pilihannya tidak pernah salah, meskipun hanya bisa menjadi mahasiswa kelas karyawan, Rey tidak patah semangat. Ia mempunyai jutaan alasan untuk menangkal logika orang yang menganggap sebelah mata terhadap statusnya ini.
Harus diakui, meskipun tidak berlaku untuk semua mahasiswa kelas karyawan, mereka merasa di anak tirikan. Pihak kampus lebih memprioritaskan kelas reguler dalam kegiatan-kegiatan internal kampus. Jarang sekali mereka ikut dilibatkan, meskipun sebagian mereka bekerja dan tidak punya waktu namun mereka pasti merasa dihargai jika sesekali dilihatkan dalam kegiatan resmi.
Meskipun tidak ada yang menjamin mereka bisa andil dalam kegiatan, paling tidak mereka bisa membantu pikiran atau materi. Dengan adanya undangan, atau sentilan sedikit saja, mereka sudah senang. Keberadaan mereka di kamlus ini masih diperhitungkan.
Pagi ini Rey ikut seminar akuntansi, salah satu syarat yang diwajibkan bagi setiap mahasiswa sebelum mereka mengajukan judul. Rey duduk di bangku paling belakang. Meskipun sudah hampir sepuluh menit ia duduk di situ, sembari sibuk dengan pikirannya, ia juga mengamati mahasiswa yang mulai mengisi bangku-bangku yang masih kosong. Diantara ratusan mahasiswa yang ada di ruang itu, Rey belum mendapatkan wajah yang dikenal, yang bisa menemaninya. Rey hanya mampu menghela nafas panjang melihat mereka yang bercengkrama dengan teman-temannya.
Bukan Rey tidak pandai bergaul, ia sudah mencoba menegur beberapa orang yang ditemui, memberikan senyum termanisnya agar satu dari mereka ada yang duduk di sampingnya agar ia tidak bengong sendirian. Namun usaha itu sia-sia, rupanya mereka sudah lebih dulu punya janji dengan yang lainnya. Begitu masuk ruangan langsung menuju ke teman atau kelompoknya yang sudah menunggu.
Teman satu angkatan pun belum ada yang hadir. Padahal di grub WA sudah janjian mau datang. Beberapa orang siap hadir pagi ini.
"Mungkin mereka terkendala dengan izin," Rey hanya mampu mengangkat kedua bahunya jika itu yang menjadi alasan mereka tidak bisa mengikuti perkuliahan atau acara lainnya di lagi hari.
Rey jadi merasa sangat beruntung jika mengingat itu semua. Ia bekerja mengelola usaha keluarga suami. Meskipun kadang ada saja kendalanya namun untuk urusan waktu masih lebih pleksibel. Tidak harus izin, apalagi dipotong gaji karena dianggap tidak hadir.
"Hey," seseorang yang baru muncul dari pintu mengangetkan Rey. Lamunannya buyar seketika itu juga.
"Hay," sahut Rey dengan senyum yang mengembang di sudut bibirnya.
"Alhamdulilah...akhirnya ada juga yang menyapanya," seru Rey begitu girang. Tentu saja ia tidak mengungkapkannya di depan orang itu.
"Ikut seminar juga," tanyanya lagi,
"Iya, masih kurang satu. Syarat untuk lulus kuliah seminar akuntansi kan harus mengikuti minimal 3 seminar,"
"Iya, ya. Tapi bagus juga udah dapet 3. Aku baru ikut kali ini," Alex terpaksa berbohong, padahal ia tidak ada minat untuk ikut seminar yang diadakan oleh kampus bekerja sama dengan Kepertis, namun karena ia melihat Rey melintas di BEM menuju ruang auditorium ini, mendadak Alex mendaftarkan diri menjadi peserta.
"Iya, disempet-sempetin pokoknya. Biar cepet selesai,"
"Kosong?" tanya pria itu. Pandangannya mengarah pada kursi di samping Rey yang belum terisi.
"Iya,"
"Aku duduk di sini. Tidak sedang menunggu seseorang, kan?"
"Tadinya udah janjian sama temen, mereka juga sudah daftar. Mungkin mereka terkendala dengan izin atasan, jadi ga bisa dateng," keluh Rey
"Ribet juga , ya?" Alex menunjukkan wajah prihatinnya.
"Kamu sendiri gimana? Kenapa kok milih kelas karyawan?"
tanya Alex, kali ini ia memasang mimik yang penuh dengan keingintahuan.
Alex manggut-manggut mendengar penjelasan Rey. Sebenarnya ia ingin tahu lebih lanjut tentang Rey, namun keinginan itu ditahannya agar tidak terkesan menyelidiki.
"Jujur saya, awalnya aku ga percaya kalo kamu di kelas karyawan,"
"Memang kenapa?" tanya Rey penasaran.
"Sejauh yang aku tahu, anak-anak kelas karyawan usianya di atas kita-kita. Kalau aku tebak, seperti kira seumuran,"
"Iya sih, aku jadi satu-satunya mahasiswa yang pres graduate SMA, usianya masih di bawah dua puluh tahun waktu semester satu," Rey tersenyum geli jika mengingat bagaimana ekspresi pertama kali melihat teman-teman kuliahnya.
"Teman-teman di kelas itu rata-rata memiliki usia di atas rata-rata mahasiswa reguler. Latar belakang pekerjaan mereka juga beraneka ragam. Mukai dari karyawan perusahaan, BUMN, pegawai negeri sipil, pelaku usaha, bahkan pengemudi ojek online,"
"Wah seru itu, berarti bisa bertukar informasi tentang banyak hal,"
"Betul banget. Salah satu sisi positifnya, karena mereka sudah dewasa jadi saat perkuliahan berlangsung situasi jadi kondusif. Kami lebih solid dalam menyelesaikan tugas. Karena faktor pekerjaan, komunikasi langsung to the point, tugas bisa selesai dalam waktu singkat. Tidak ada waktu bagi kami untuk bercanda, apalagi Hang out layaknya mahasiswa lainnya," jelas lagi.
"Menarik sekali,"
"Ada lucunya juga tau, mungkin karena kondisi mereka yang sudah lelah di tempat kerja, saat kuliah jam terakhir banyak yang tertidur bahkan sampai pulas. Waktu istirahat sholat magrib mereka banyak yang menyempatkan diri makan malam. Lengkap banget kan, badan capek plus perut kenyang. Pules-pules deh,"
"Ha...ha.....ga ditegur sama dosennya?"
"Nah itu sisi positifnya lagi. Banyak dosen di kelas karyawan itu punya toleransi di atas 100 persen, baik hati dan sangat faham dengan kondisi psikologis mahasiswa. Jadi sebagian dari mereka cukup toleransi dengan aturan, kehadiran,"
"Sebagian?"
"Iya, ada juga yang killer. Mungkin memang bawaan orok sudah disiplin jadi apapun kondisi mahasiswa tetap berlaku sanksi,"
"Ha...ha.....kamu lucu Rey. Emang ada orang sudah killer dari sejak mereka lahir?"
"Bisa aja," Jawab Rey singkat.
Rey tidak beberapa dosen kerap tidak hadir tanpa pemberitahuan padahal mereka sudah duduk manis di kelas meskipun dalam keadaan ngantuk, lelah setelah seharian bekerja, atau rindu yang begitu berat dengan apa yang di sebut istirahat.
Belum lagi dosen yang tidak mempertimbangkan kesibukan mahasiswanya sehingga mereka kerap memindahkan jadwal kuliah di pagi hari, belum lagi harus mengikuti seminar, praktik akuntansi dan sebagai yang bersifat wajib sehingga mereka harus disibukkan dengan izin dari tempat kerja dan terpaksa meng-cancel beberapa urusan penting yang sangat berpengaruh pada pekerjaan mereka.
Rey sangat mempertimbangkan hal itu karena bisa mencemarkan nama baik sang dosen.
Happy reading all! Author tidak bosan-bosan minta dukungan. Mohon untuk tinggalkan
β LIKE
β KOMENTAR
β VOTE -nya yaπππ
Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih πππ