Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
EP. 55 Acc Judul


Seminggu ini, Wibie terus menghubungi no ponsel Alex namun hasilnya sama saja. Panggilannya tidak dijawab dan WA juga tidak aktif.


Rey juga bilang, orang itu tidak pernah nongol di grup KKN lagi. Menurut Teta, Alex sejak pulang dari KKN berangkat umroh bersama keluarga besarnya.


Untuk membenarkan informasi itu, Wibie juga pernah datang ke kampus tanpa sepengetahuan istrinya. Ia mencari tahu informasi dari satpam dan akhirnya bisa ke BEM. Kabar yang didapat juga tidak jauh beda, Alex belakang tidak pernah datang ke kampus karena ada urusan keluarga.


Wibie akhirnya memilih untuk menunggu sampai dia bisa punya kesempatan untuk mengucapkan terimakasih secara langsung pada orang yang sudah menyelamatkan istrinya.


Karena Pak Gun tidak hanya melakukan pelecehan seksual pada Rey, dia juga sudah berusaha mencemarkan nama baik istrinya, Wibie akhirnya meneruskan perkaranya untuk memberikan pelajaran pada laki-laki tua itu.


Melalui kuasa hukumnya, ia mengirimkan somasi pada Pak Gun dan dari situ ia punya bukti untuk membuat laporan polisi. Menurut penyidik, perbuatan yang dilakukan Pak Gun murni tindak pidana percobaan perkosaan karena semua unsur-unsur yang terdapat didalam Pasal 53 KUHP semua nya terpenuhi dan Pasal 285 KUHP yang menjelaskan adanya perbuatan perkosaan yang mana perbuatan tersebut dilakukan dengan cara memaksa perempuan diluar perkawinan untuk melakukan hubungan.Sehingga dari kejadian tersebut korban mengalami kerugian dan dengan demikian terdakwa dijatuhi pidana penjara selama 4 (empat) bulan 6 (enam) hari. Belum lagi pencemaran nama baik, usaha Pak Gun yang menjatuhkan usaha online Rey, dan penyalahgunaan jabatan.


Tujuan Wibie hanya ingin memberikan shock terapi pada Pak Gun, ia tidak benar-benar ingin menjebloskannya ke penjara. Meskipun marah dan sakit hati, Wibie masih mempertimbangkan keluarga Pak Gun. Ia kasihan dengan istri dan anak-anaknya jika Pak Gun tidak bisa mencari pekerjaan lagi karena statusnya sebagai mantan napi.


Untuk itu mereka sepakat membuat perjanjian perdamaian secara tertulis di kantor polisi dengan syarat yang sudah disepakati kedua belah pihak.


*******


Meskipun harus bolak-balik ke kantor polisi, Rey berusaha untuk kuat dan menjalani aktifitasnya seperti biasa. Karena Pak Gun menang sudah tidak di kampus itu lagi, jadi tidak ada yang tahu jika saat ini Rey dan Pak Gun sedang bersengketa di kantor polisi.


Rey tetap kuliah, menyelesaikan tiga mata kuliah yang diambilnya semester ini sembari mulai menggarap skripsinya.


"Judul mana yang di setujui?" tanya Pras ketika melihat Rey keluar dari ruang kaprodi, menghampirinya yang duduk di koridor.


"Judul yang kedua, cuma ada perbaikan sedikit,"


"Wah, keren ini. Apalagi pembimbingnya baik-baik," seru Pras lagi sambil melihat isi map yang diperlihatkan oleh sahabatnya itu.


"Semoga judul kamu juga cepat di acc,"


"Aamiin, terimakasih ya, Rey. Katanya satu dua hari ini bisa ditanyakan lagi," sahut Pras.


"Sabar, Ya. Semoga kita bisa sidang dan wisuda bareng,"


"Aamiin," seru Pras lagi.


Sore itu, Rey dan Pras sengaja datang ke pusat administrasi untuk menemui Mbak Wike, salah satu staf administrasi yang menangani pengajuan judul skripsi. Rey bisa sedikit lega karena berkas usulan judulnya sudah di acc, sedangkan Pras harus sabar. Menurut informasi mbak Wike, berkasnya belum turun.


"Dah, yuk!," ajak Rey.


"Langsung pulang?" tanya Pras, ia beranjak dari tempat duduknya, mengikuti Rey yang sudah lebih dulu melangkah meninggalkan tempat itu.


"Emang mau ngapain lagi?" tanya Rey mamasang wajah bingung. Mereka berjalan beriringan menelusuri koridor menuju ke lift.


"Tadi Dhiza nitip minta beliin pizza Mozarella tuna dan spaghetti. Temeni, ya!" Pras memasang wajah memelas.


"Pasti ga bawa kendaraan?"


"Iya,"


"Tuh, kan. Selalu begitu," gerutu Rey.


"Buru-buru, Rey. Kau tahu sendiri jalanan macetnya kayak apaan kalo jam pulang kantor. Anterin, ya? Yang di di turunan play over aja. Di situ ga serame yang di Ahmad Yani," Pras memberi alasan.


"Iya, tapi maaf. Ga bisa nganterin,"


"Emang kenapa?" tanya Pras bingung.


"Aku sama Mas Wibie, pake motor,"


"Ya..... Kenapa ga bilang dari tadi. Tau gitu duluan, deh. Mana udah jam segini. Mau sampe di rumah jam berapa?" Oceh Pras sembari melihat jam Tangannya yang sudah menunjuk ke angka 18.10 WIB.


Rey hanya senyum-senyum saja melihat Pras yang sudah menunjukkan wajah berlipatnya.


Sebelum mereka masuk, keluar Pandu yang diikuti oleh Rara. Mereka berdua begitu kaget melihat Rey yang sudah ada di depannya.


"Hayo, ketauan juga kan?" tembak Rey.


"Kebetulan ketemu, kok," sahut Rara dengan wajah yang mulai bersemu merah.


"Santai aja, aku sudah tau sejak di lokasi, kok," Rey mengedipkan matanya ke arah kedua pasangan itu.


"Dia masih malu-malu. Padahal kurang apa ya? Aku kan ga malu-maluin amat. Udah ganteng m, keren lagi," canda Pandu sambil memeriksa penampilannya.


"Apaan, sih," Rara mencubit perut Pandu cukup keras.


"Au..," teriak Pandu. Sementara Rey dan Pras hanya tersenyum melihat kelakuan mereka.


"Sepertinya aku bakal minta bantuan kalian," ujar Pandu begitu yakin.


"Bantuan apa?" tanya Pras sembari menatap Rey dan Pandu bergantian.


"Nyebar undangan,"


"Hah .... selamat...selamat....," Meskipun awalnya terkejut, buru-buru Pras memberi selamat pada keduanya.


"Kalau bantu yang ini, saya pasti mau," tegas Rey sambil memeluk Rara dan memberi selamat pada teman satu kelompoknya itu.


"Ditunggu kabar berikutnya, ya. Kami duluan. Udah ada panggilan dari nyonya besar. Gawat kalo ga buru-buru sampe rumah," Pras yang sejak tadi urung masuk lift, buru-buru memencet tombol karena istrinya sudah misscall.


"Ha...ha..... Rupanya dia takut istri," canda Pandu. Rey tidak mau ikut-ikutan. Ia hanya melambaikan tangan kearah keduanya begitu ia dan Pras sudah masuk lift yang akan membawanya ke lantai dasar.


"Da, ya. Aku duluan," Pras segera pamit pada Rey ketika mereka sudah sampai di pintu ke luar karena tujuan mereka berbeda.


"Ga mau dianterin?"


"Katanya sama Wibie, masa harus bonceng tiga? Aku naik ojek aja,"


"Udah buruan, ayo aku antar. Wibie di rumah Oma kok,"


"Ah, bikin kesel aja nih anak. Ga lucu tau," gerutu Pras.


"Aku juga mau beli pizza buat anak-anak. Kita naik motor aja pulang. Mobil biarin di kantor. Besok berangkat naik ojol," Rey memberi saran.


"Baiklah, aku ikut aja deh. Yang penting bisa sampe rumah sebelum jam makan malam nyonya besar selesai,"


"Dia ga bakal ngomel kalo dikau pulang bareng aku,"


"Iya, ya. Ha...ha...... Ya udah sono ambil motornya. Aku tunggu di sini,"


"Ga kebalik. Nih!" Rey menyerah kunci motornya pada Pras dan dengan santainya ia duduk di bangku yang ada di dekat pos satpam.


"Motornya ada di mushola," jelas Rey lagi.


Pras hanya bisa pasrah. Ia mengambil kunci motor dari tangan Rey dan bergegas menuju ke tempat parkir.


*******


Hay semuanya, maafkan diriku yang tidak sanggup update lebih dari satu bab, minggu-minggu ini ada tugas negara yang harus diselesaikan dan butuh konsentrasi penuh. Demi kesetiaanku pada kalian semua, aku sempat-sempatin nulis walau cuma satu Chapter agar target untuk menyelesaikan novel ini di bulan Juni dapat terealisasi.


Mohon maaf, ya!


Ojo lali!


VOTE, like, dan spam komentar dari kalian tetap jadi semangat untukku.