Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
Deret Matematika


Hari ketiga setelah pernikahan mereka, Rey berhasil membujuk suaminya agar memberikan izin masuk kuliah.


"Kamu kan punya hak izin 20-25% dalam satu semester. Gunakan kesempatan itu untuk menikmati masa-masa indah kita. Mumpung aku lagi cuti," Wibie memberikan alasan yang cukup logis ketika istrinya itu pamit akan berangkat kuliah.


"Please, Say. Ada kuliah matematika ekonomi. Aku ga mau ketinggalan pelajaran,"


"Dengan satu syarat!" akhirnya Wibie mengalah juga. Ia tidak tega melihat semangat belajar istrinya yang begitu menggebu-gebu.


"Apa?" Rey begitu serius menangapi angin segar dari suaminya.


"Sini," wibie meminta Rey mendekatkan telinga ke arahnya. Kemudian ia membisikkan sesuatu.


Meskipun Rey menunjukkan mimik keberatan, dalam beberapa saat saja ia sudah bisa tersenyum.


"It ok," ujarnya dengan riang.


"Gak lama kok, sebelum magrib udah selesai," tambah Rey lagi


*****


Tiba di kampus jam sudah menunjukkan pukul 16.05. Rey melangkah menelusuri koridor kampusnya yang sudah mulai sepi.


Beberapa kelas sudah tertutup rapat dan terdengar suara dosen yang memberikan perkuliahan.


Pintu kelas yang akan dimasuki Rey tertutup rapat. Namun ia sedikit lega karena dari sela pintu yang dipasang oleh kaca, ia bisa melihat belum ada dosen di kelas itu.


Rey masuk dari pintu belakang dan menyapu seluruh temannya yang telah hadir lebih dulu, mencari Pras.


Karena Pras belum hadir, Rey mengambil tempat duduk yang masih kosong. Ia letakkan tas ranselnya di bangku sampingnya.


"Alhamdulillah belum telat," ucap Rey dalam hati.


Tadi ia begitu terburu-buru khawatir terlambat. Tidak biasanya sang dosen datang tidak tepat waktu.


Rey mengambil HP dari saku tasnya, kemudian ia mengirimkan pesan WA pada suaminya,


"Dosennya belum dateng. Tunggu di situ aja ya. Kalau 15 menit dia ga hadir, aku pulang,"


Pesan dikirim. Beberapa saat kemudian Wibie sudah mengirimkan balasan untuknya.


"Ok,"


Rey menyimpan kembali hp itu ke tempatnya semula. Kali ini ia mengeluarkan notebook dan alat tulisnya. Rey membaca kembali mata kuliah minggu yang sudah ia cacat dengan rapi di bukunya.


"Kosongkan?" tanya seorang perempuan yang masing mengenakan seragam merah dan perlengkapan kerjanya.


"Iya," Rey segera mengambil tas ranselnya dan memberikan tempat duduk itu pada temannya.


"Tumben dosennya belum dateng," ujar temannya itu sembari meletakkan pantatnya di kursi.


"Iya, aku juga baru dateng kok. Ku kira juga terlambat," sahut Rey ramah.


"Sudah dua hari ga keliatan. Kemana aja?"


"Ada urusan penting," jawab Rey sekenanya.


"Oh," gumam wanita itu.


Obrolan mereka terhenti karena dosen yang ditunggu-tunggu sudah datang. Wanita berusia sekitar 50 tahun itu memberi salam dengan ramah kepada mahasiswa.


"Selamat sore semuanya. Mohon maaf saya terlambat. Baru selesai menghadiri rapat dengan ketua jurusan," ujarnya memberi penjelasan prihal keterlambatannya.


Ia meletakkan tas kerjanya di atas podium kemudian mengeluarkan laptop. Beberapa saat kemudian tayangan materi perkuliahan hari ini tampil di layar in focus "Penerapan Baris dan Deret Dalam Teori Ekonomi"


Suasana menjadi hening. Semua mahasiswa antusias menyimak materi perkuliahan yang dianggap sulit bagi mereka yang sudah lama meninggalkan bangku sekolah, apalagi yang usianya sudah mendekati kepala empat.


Saat Rey begitu serius mengikuti kursi yang ia duduki didorong oleh kaki yang duduk di belakangnya.


Awalnya Rey pura-pura tidak peduli, ia tetap konsentrasi menyimak materi di depan. Namun dorongan kaki dari arah belakang cukup kuat sehingga kursinya sedikit bergeser ke depan.


Rey menengok kebelakang, ia melihat Pras yang memasang senyum dan memainkan kedua alis matanya. Pras memberi kode agar Rey pindah ke belakang dengan mengarahkan bola matanya.


Rey tidak menggubris permintaan itu. Ia kembali mengalihkan pandangannya ke depan dan mulai serius mengikuti kuliah lagi.


Rey tidak mengindahkan panggilan itu.


"Rey," panggil Pras lagi. Kali ini dengan suara yang sedikit keras.


Merasa tidak digubris, Pras mengalihkan perhatian ke temannya yang duduk disamping Rey.


Seperti yang dilakukan sebelumnya, ia mendorong kursi yang diduduki wanita itu hingga empunya mengarah pandangannya ke arah Pras.


Pras cukup memberi satu kode, ketika sang dosen sedang serius menghadap ke layar slide perempuan itu langsung beranjak dari tempat duduknya dan melangkah ke belakang.


Pras memberi senyum ramah atas kebaikan temannya itu. Kini ia sudah duduk manis di samping Rey sesuai keinginannya.


"Reseh banget sih, loh," bisik Rey dengan nada ketus ke arah Pras.


Pria itu hanya tersenyum puas. Niatnya untuk bisa duduk di samping Rey diluruskan oleh temannya yang baik hati.


"Kok udah masuk. Kirain aku kamu bakal cuti seminggu ini?" tanya Pras dengan sedikit penasaran.


"Aku ga mau ketinggalan kuliah matematika. Setelah ini aku pulang," ujar Rey masih dengan suaranya yang pelan.


"Emang udah bisa jalan?" tanyanya lagi. Kali ini dikuti tatapan yang menguliti Rey dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Sembarangan aja. Emang selama ini aku ngesot?" sahut Rey sedikit kesal namun ia masih mampu menahan diri untuk tidak berucap dengan nada yang keras.


Pras sedikit terkekeh kemudian buru-buru menunduk dan menutup mulutnya.


"Nih, biasanya penganten cewek itu rata-rata ga bisa jalan kalo abis ritual malam pertama,"


"Apalagi suamimu sudah lama libur, bisa digempur siang malem kan dirimu?" tambahnya lagi.


Rey melotot sempurna ke arah Pras. Ingin sekali ia melemparkan pulpen yang dipegangnya ke arah pria yang tidak henti-hentinya berkicau.


Pras akhirnya memilih diam dan menahan tawanya karena ia berhasil membuat Rey marah bercampur malu.


"Nanti aku titip absen, ya!" Rey membuka pembicaraan setelah cukup lama mereka diam.


"Oh. Ga ikut Pendidikan agama?" tanya Pras tanpa mengarahkan pandangannya ke Rey.


"Kuliah umum kan di aula. Mahasiswa rame. Ga mungkin diabsen satu persatu. Aku titip aja ya," pinta Rey syarat dengan permohonan.


Kali ini Rey melirik ke arah Pras dan tersenyum tipis sembari menggerak-gerakkan alisnya


Pras mencibir sesaat kemudian matanya tertuju pada tayangan di depan.


"Kalau ga mau ya udah. Aku bisa absen sendiri kok," guman Rey sedikit keras agar Pras bisa mendengar ucapannya itu.


Mahasiswa diminta untuk membentuk kelompok kecil untuk menyelesaikan tugas yang telah di tayangkan oleh Bu Dosen.


Masing-masing kelompok diminta untuk membahas penerapan baris dan deret pada teori ekonomi khususnya dari sisi model perkembangan usaha.


Mereka hanya diberi waktu 10 menit untuk melakukan diskusi kecil, setelah itu perwakilan kelompok diminta untuk menyampaikan hasil diskusi mereka.


Rey dan Pras bergabung dengan teman terdekat. Mereka yang terdiri dari 6 orang itu dengan sigap mengerjakan tugas sesuai instruksi sang dosen.


Mereka cukup beruntung, Rey yang cerdas dan masih begitu menguasai tentang deret dan baris yang ia dapat waktu di SMA bisa menyelesaikan tugas itu dalam sekejap. Sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama, mereka sudah mencatat point-point penting yang akan disampaikan sebagai hasil kerja


"Keren kamu Rey, bisa dengan gampang menyelesaikan tugas ini,"


"Kebetulan otakku masih mengingat tentang deret dan ukur dengan baik," sahut Rey merendah.


"Thanks ya," ujar temannya yang lain.


"It ok. Biar aku yang mewakili kelompok," ujar Rey lagi.


"Untung banget bisa satu kelompok sama yang muda. Otaknya masih encer," seloroh satu temannya lagi yang sudah berusia hampir 40 tahun itu


Sepuluh menit berlalu, diskusi kelompok sudah selesai. Kini tiba waktunya sang dosen meminta satu perwakilan kelompok untuk maju ke depan menyampaikan hasil diskusinya.


Rey mengangkat tangan, ia ingin mewakili teamnya menyampaikan hasil diskusi mereka. Rupanya, selain Rey, ada beberapa kelompok yang melakukan hal yang sama.


Sang dosen mengedarkan pandangannya, akhirnya ia memilih 3 perwakilan kelompok untuk maju ke depan.