Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
EP. 45 Pak Gun


Rey," Pak Gun memeluknya dari belakang. Dia tidak memberikan kesempatan pada Rey untuk


membalikkan tubuhnya.


"Waktunya hanya sedikit, sayang. Ayolah," Pak Gun mendadak menyerang Rey tengah menyaksikan tayangan baksos di laptopnya.


"Pak," seru Rey kaget. Ia tidak menduga Pak Gun akan menyerangnya seperti itu.


Pria itu merapatkan dekapannya pada Rey . Ibarat tentara yang yang sedang perang, melakukan penyerangan, memberikan ciuman bertubi-tubi pada tengkuk wanita itu.


Tidak tinggal diam, tangannya juga sudah menelusup di balik blus yang di kenakan Rey, menjangkau bukit kembar yang masih bersembunyi di balik sarung pengamannya.


"Pak," seru Rey makin bingung.


"Ayolah, Rey. Jangan jual mahal begitu," ujar pria itu dengan nafas yang terus memburu. Kini tangannya sudah melepas kait pengamannya, sementara bibirnya terus saya menyelusuri bagian leher belakang wanita itu.


"Pak," pekik Rey. Ia mulai berontak ketika laki-laki itu sudah mulai mencari-cari kancing pakaian yang dikenakan Rey dan berusaha menjangkau bibirnya Rey dengan paksa


"Jangan Pak. Lepaskan!" pinta Rey dengan begitu memelas.


Pak Gun tidak menggubris elakan dan teriakan Rey. Terus saya ia menyerang mahasiswanya itu dengan ciuman yang membabi buta. Bahkan ia sudah berhasil mendekap tubuh Rey dengan kedua kakinya hingga Rey makin sudah bergerak.


"Ayolah, jangan tolak aku! Kau akan tahu akibatnya," bandot tua itu mulai mengancam.


"Jangan, Pak," Rey berusaha menjauhkan wajah yang penuh nafsu itu dengan kedua tangannya. Sementara kakinya terus meronta-ronta agar kedua kaki pak Gun yang mengunci dirinya bisa terlepas.


"Jika kau melawan, aku akan menggunakan cara kekerasan," ancamnya lagi.


"Layani aku!" perintahnya dengan kasar.


"Jangan, Pak. Istighfar,"


Pak Gun mendengus, ia mendorong tubuh Rey dengan menekan sekuat tenaga. Rey tidak bisa bertahan, kini posisi sudah terbaring di lantai hotel. Pak Gun bisa menguasai tubuh itu karena posisinya yang ada di atas Rey.


"Ayolah, sekali ini saja,"


Tubuhnya yang besar dan tinggi tidak dengan mudah bisa di lawan. Meski Rey sudah sekuat tenaga meronta agar bisa terlepas dari sekapannya, namun pria itu lebih kuat dan tak terkalahkan.


Pak Gun menggunakan tubuhnya untuk menekan Rey, sementara bibirnya sudah menyapu bagian tubuh Rey dengan liar.


"Pak, tolong lepaskan aku," pekik Rey yang tidak bisa menahan air matanya.


"Aku sudah lama ingin mencicipi tubuhmu, sayang. Kenapa harus aku lepaskan kesempatan ini? Berlakulah semanis mungkin, aku akan membantumu hingga kau bisa wisuda dan mendapat nilai yang bagus," pak Gun terus saja merancau.


"Ayolah, waktu kita terbatas. Kau bisa menikmati kepuasan yang berbeda dari biasanya," setelah bicara begitu, mulut pak Gun segera menangkup bibir Rey dengan paksa. ********** dengan liar hingga Rey tidak bisa lagi bicara atau berteriak.


"Bug," satu tendangan dengan sisa kekuatan yang Rey miliki mendarat di bagian alat vital laki-laki tua itu.


"Ah...," pekik pria itu kaget.


Sesaat ia menahan sakit namun ia tetap mengunci Rey dengan kedua tangannya. Senyum sinisnya makin mengembang. Sebentar saja ia sudah mampu menguasai dirinya kembali, penyerangannya kini makin ganas.


"Jangan melawan. Aku bisa lebih kuat dari suamimu," ancamnya lagi.


"Ayolah cantik. Layani aku. Sebentar saja,"


"Sebentar saja, kau bisa merasakan juniorku, kan? Ia sudah sangat ingin merasakan sentuhanmu. Ayolah...." Pak Gun menggesek- geseknya bagian vitalnya yang sudah mengeras agar Rey bisa merasakan kekuatan benda ajaib itu.


"Pak, lepaskan,"


Rey meronta- ronta. Berusaha menggunakan kakinya untuk melakukan tendangan lagi. Namun percuma, Pak Gun telah menguncinya lebih kuat lagi. Tidak ada kesempatan lagi untuk melepaskan diri.


"Cukup diam jika kau tidak mau membalas. Aku akan melakukan dengan cepat,"


Tangannya menjelajah dengan berani, mengangkat blus yang dikenakan Rey hingga menutup mukanya. Kini gundukan yang putih dan kenyal itu makin membuat nafsunya terbakar. Mulutnya tidak lagi menyerang bibir Rey, ia sudah beralih pada dua benda yang semakin memacu birahinya untuk segera diselesaikan.


Gunung putih dengan puncak yang menantang. Pak Gun menghisapnya, mencium, bahkan menggigit pucuk-pucuknya yang berwarna merah muda itu dengan ganas. Rey menjerit, menahan sakit, mulutnya segera dibungkam dengan tangan kanan pak Gun.


Pak Gun mengabaikan tangisan perempuan yang ada di bawahnya, pikirannya sudah tidak jernih lagi. Keinginan hanya satu, bagaimana nafsunya yang sudah tertahan sekian lama pada wanita ini bisa tersalurkan.


"Rasakan, tidak ada satu perempuanpun yang boleh menolakku," gumamnya lirih di telinga Rey.


Pak Gun menindih tubuh itu kian keras dan menutup tubuh Rey dengan tubuh gagahnya.


"Sebentar lagi.....kau tidak akan bisa melupakanku,"


"Kau akan mencariku setelah ini,"


Saat ia ingin melepas celana Rey, saat itu pula panggilan telpon dari ponsel berdering. Tidak hanya sekali, meski pak Gun mengabaikan namun panggilan itu diulang lagi.


"Sialan!" bentaknya kasar, masih dalam posisi menindih Rey ia berusaha meraih hp yang diletakkannya di atas kasur.


Matanya terbelalak, membentuk bulatan penuh. Seketika itu juga ia berdiri dan membiarkan Rey bangkit dari lantai kamar hotel itu.


"Iya, Pak," sahut pak Gun masih dengan suara yang tidak teratur.


"Kembali ke kampus sekarang juga!" Perintah seseorang dari seberang.


"Tapi saya sedang ada di Belitung, Pak," sahut Pak Gun dengan gagap.


"Kembali sekarang atau kau tidak akan menginjak kampus lagi,"


"Baik ....baik, Pak," saya segera ke bandara sekarang.


Pak Gun tidak mengindahkan Rey yang terus menangis. Wanita itu menangkup kedua kakinya dan memegang lutut dengan kedua tangannya. Rey menyembunyikan wajahnya, tidak mau menatap pak Gun barang sebentar saja.


Setelah merapikan pakaian dan tas kerjanya, pak Gun bergegas meninggalkan kamar. Ia pergi setelah membanting pintu itu degan keras.


Tinggal Rey di kamar itu. Ia mengisi dirinya yang telah dilecehkan oleh dosen pembimbingnya.


*****


Alhamdulillah bisa update lagi Happy reading all! Jangan lupa tinggalkan


✓ LIKE


✓ KOMENTAR yang banyak, spam juga boleh.......


✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏


Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih.


Kunjungi juga novelku yang lainnya ya, yang berjudul :


I am Feeling Blue


Temani Aku, Ken!


Barangkali kalian berkenan. Terimakasih!!!