Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
Perdebatan Om dan Tante


Seminggu di Jakarta, Rey belum pernah keluar rumah. Hari-hari nya sibuk membantu pekerjaan tantenya di warung. Dari mulai membuka mata hingga kembali lagi ke tempat tidur, waktunya habis di warung, membantu tante di dapur hingga menunggu warung.


Jam sepuluh pagi hingga jam sepuluh malam sebagai pelayan, terutama saat jam makan siang atau sore hari banyak pengunjung yang datang. Apalagi akhir pekan, biasanya Tante menyiapkan dagangan lebih banyak. Paginya ia membantu racik-racik bumbu dan pelengkap bakso lainnya.


Kadang juga menenani Tante ke pasar membeli rempah-rempah dan sayuran.


Wilayah ini begitu padat penduduk. Tidak heran jika warung tantenya selalu ramai. Apalagi menjelang sore hingga malam. Kendaraan tumpah di jalanan yang hanya cukup dilintasi dua kendaraan roda empat ini. Pedagang kaki lima juga banyak yang menggelar lapaknya di sisi-sisi jalan. Sore hingga malam daerah ini menjadi wisata kuliner bagi penduduk setempat atau orang yang sengaja datang untuk mencari makanan.


Berbagai kuliner bisa ditemukan di sepanjang jalan Serdang ini. Mereka yang rela menembus jalan yang menjadi padat dan macet itu hanya untuk berburu kuliner.


Tantenya cukup menghargai tenaga keponakannya itu. Setiap hari Rey diberi uang saku sebesar Rp.100.000. Uang itu Rey simpan karena makan dan kebutuhan lainnya juga disediakan oleh tantenya.


"Alhamdulillah, bisa punya uang sendiri," bisik Rey dalam hati


"Mudah-mudahan bisa untuk biaya kuliahku," lanjutnya lagi.


Meski sudah mempunyai penghasilan, namun Rey masih berpikir keras. Bagaimana caranya bisa mendapatkan pekerjaan dan bisa melanjutkan kuliah.


"Bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan pekerjaan. Aku harus punya uang lebih jika ingin melanjutkan kuliah," pikir Rey sengan keras.


Tujuan utama ia melarikan diri ke Jakarta adalah agar bisa merubah nasibnya. Namun rencana itu tidak dengan mudah bisa ia jalankan, mengingat ia tidak punya relasi yang bisa membantunya mendapatkan pekerjaan hanya dengan selembar ijazah SMA. Rey juga sadar, ia tidak mempunyai keahlian apapun.


"Apa aku harus mengirim beberapa surat lamaran kerja? Tapi bagaimana aku bisa tau alamat-alamat perusahaan yang membutuhkan karyawan? Selama sepekan ini aku belum menemukan orang yang menjual koran," Rey bertanya pada dirinya sendiri. Ia bingung. Dari mana harus memulai semuanya?


Rey sudah mengungkapkan keinginannya itu pada tante Rohmah dan tantenya tidak keberatan akan hal itu. Justru ia begitu baik pada Rey. Sementara belum mendapatkan pekerjaan, Rey bisa bantu-bantu dulu di warungnya.


"Jika kau ingin mencari pekerjaan, Tante tidak melarang. Itu pilihanmu untuk masa depan. Selagi belum dapat yang cocok, betah-betahlah di sini. Uangmu bisa kau tabung untuk tambahan biaya kuliah. Tante tidak bisa membantu apa-apa. Hanya ini yang bisa Tante lakukan untukmu," ujar Tante Rohmah suatu sore ketika warung mereka sudah legang.


"Terimakasih, Tante. Ini sudah sangat luar biasa sekali. Aku bisa mendapatkan tempat tinggal dan juga penghasilan. Terimakasih untuk semuanya,"


"Jangan merasa tidak enak. Kita ini keluarga. Selagi Tante bisa membantu, akan Tante lakukan,"


Ujar Tante sambil menepuk bahu keponakannya itu. Ia begitu kasihan pada ponakannya itu.


Saat suaminya tidak di rumah, Rey bisa saja tidur bersamanya di kamar namun jika suaminya pulang, ia juga tidak mungkin meminta Rey untuk tidur di luar.


Kedua anak laki-lakinya yang sudah mulai remaja juga butuh privasi. Kamar mereka yang sempit hanya bisa ditempati berdua. Tidak bisa menambah satu penghuni lagi. Terpaksa Rey tidur di ruang sholat. Untuk sementara, mereka bisa melakukan ibadah di ruang yang digunakan untuk santai dan nonton tv.


Itu juga sudah melalui perundingan yang cukup alot dengan suaminya. Om Heru jarang pulang ke rumah. Menurut keterangan tante, ia membuka cabang di pinggiran Jakarta. Selama Rey di sini baru ketemu sekali. Itu juga cuma sebentar. Ia datang jam sembilan malam, jam tujuh pagi sudah berangkat lagi. Namun setiap pagi, asisten Om Heru selalu datang mengantarkan pentol bakso yang sudah matang berikut bumbu yang sudah ditumis. Jadi Tante hanya menyiapkan perlengkapannya saja di sini


Dari sikapnya, Om Heru merasa keberatan jika Rey tinggal di sini tanpa ada kepastian.


"Rumah ini kecil sekali, Ma. Kamar yang kita miliki juga cuma dua. Mau tidur dimana ponakanmu itu? Kita tidak mungkin membiarkannya tidur terkapar di ruang sholat. Bagaimana jika kita ingin ibadah?" Protes Om Heru malam itu yang terdengar oleh Rey saat ia hendak ke kamar mandi.


"Saya akan bicara lagi pada Rey. Semoga anak itu lekas dapat pekerjaan dan bisa kos dari gaji yang diterimanya," terdengar suara Tante yang begitu lembut menjelaskan keberadaan Rey pada suaminya.


Wanita ini tidak menceritakan sepenuhnya apa yang terjadi pada ponakannya. jika suaminya tau Rey kabur dari rumah, ia bisa sangat marah. Rey bisa-bisa dikembalikan dengan paksa ke kampungnya. Untunglah suaminya itu percaya, tujuan Rey ke Jakarta untuk mencari kerja.


"Kau pikir cari kerja di Jakarta itu gampang apa? Apalagi Rey cuma tamat SMA. Bisa apa dia?" Terdengar suara paman yang begitu pesimis.


"Rey baru juga datang , Pa. Biarkan dulu dia di sini. Mama tidak tega jika kita terburu-buru membicarakan hal ini?" Pinta Tante dengan nada memelas.


"Ya sudahlah. Biar dia membatumu di warung. Bayar sesuai jasa yang kita kasih pada pelayan lainnya agar dia punya uang untuk jajan,"


"Terimakasih, Pa. Rey pasti senang mendengar hal ini,"


Rey mendengar semuanya. Bagaimana tante berusaha meyakinkan om Heru agar ia diperbolehkan tinggal di rumahnya. Namun Rey juga tidak mau menjadi beban tantenya jika harus berlama-lama di sini.


Sejak Rey mendengar percakapan itu, ia makin berusaha dengan keras untuk mencari pekerjaan dan sebisa mungkin yang dapat menampungnya. Entah itu di asrama atau harus menginap di rumah majikan. Bahkan Rey juga berpikir, dalam kondisi seperti ini pekerjaan apapun yang ia dapat, akan diterimanya dengan senang hati.


"Walau harus menjadi pembantu rumah tangga, aku mau. Yang penting aku bisa bekerja. Tapi apa mungkin ada majikan yang mau menerima pembantu part time. Andai saja itu ada, semoga keberuntungan itu berpihak padaku," doa Rey suatu malam sebelum ia memejamkan matanya.


Ia begitu berharap, setelah bangun ada malaikat penolong yang membawanya pergi dari sini sehingga tidak menjadi beban Tantenya lagi.