
Sepeninggal Wibie, Ray tidak melanjutkan tidurnya lagi. Ia segera beranjak dari kamarnya untuk menunaikan sholat subuh di mushola hotel. Ia tidak membawa perlengkapan sholat, jadi ia harus ke mushola terdekat untuk melaksanakan ibadah.
Setelah bertanya pada petugas hotel yang sedang membersihkan ubin di depan kamarnya. Rey menghampiri pria itu dan menyapanya dengan ramah.
"Permisi, Pak,"
Pria yang sedang berjibaku dengan sapu pel itu menoleh ke arah Rey, menundukkan tubuhnya dan tersenyum ramah pada tamu hotelnya.
"Iya, mbak,"
"Saya mau ke mushola. Disebelah mana ya?"
Pria itu menunjuk kearah yang harus di lalui oleh Rey.
Rey mengikuti pentunjuk arah menuju keberadaan musholah yang ditunjukkan oleh pria berseragam cleaning servis warna merah itu.
Keadaan musholah begitu sepi. Ruangan yang berukuran sekitar 3x4m2 itu begitu bersih dan wangi. Karpet yang terhampar masih terlihat baru. Beberapa mukena yang tergantung di sudut ruang juga bersih dan wangi. Rey sholat subuh seorang diri di sini.
Setelah menyelesaikan rakaatnya, Rey masih duduk di atas sejadah yang lembut dan wangi itu. Dengan khusyu gadis itu berdoa. Ia memohon ampunan kepada Allah SWT karena sudah meninggalkan kedua orangtuanya yang begitu ia cintai. Air bening yang keluar dari ujung matanya tiba-tiba telah membasahi wajahnya.
"Ya Allah, aku tak ingin berbuat durhaka pada ibu dan ayahku. Aku terpaksa melakukannya, karena aku sudah tidak punya kemampuan untuk menolak keinginan ibu. Maafkan aku, ya Allah. Jaga mereka baik-baik. Lindungi hambamu ini. Berikan hamba kemudahan hingga sampai ke tujuan,"
Rey menutup doanya dan mengusap mukanya dengan kedua tapak tangannya. Ia juga menyeka air matanya hingga benar-benar yakin, ia tidak terlihat sedang menangis.
Kemudian ia meninggalkan mushola itu dan kembali menuju kamarnya dengan menggunakan lift. Suasana hotel masih begitu sepi, ia tidak menemui satu orangpun kecuali petugas hotel yang ia tanyainnya tadi.
Sesampai di kamar, Rey menyalakan tv. Ia memilih beberapa saluran untuk mencari acara yang bagus. Berita tentang merebaknya virus Corona di negara China dan beberapa wilayah lainnya cukup menarik perhatiannya. Akhirnya ia terhenti di saluran Apa Kabar Indonesia Pagi dan menyimak berita itu.
"Berita aja,"
"Ternyata virus Corona sudah menyebar ke Indonesia?"
Dari pemberitaan di kabarkan bahwa dua warna negara Indonesia dinyatakan positif terinfeksi Corona setelah melakukan kontak fisik dengan warga negara asing.
"Ya, Allah. Sebahaya itukah virus itu hingga semua pemangku jabatan di negeri ini angkat bicara di berbagai media,"
Iseng-iseng, ia membuka HP barunya yang sejak semalam masih ada di dalam tas, tersimpan rapi dalam boxnya. Ia hendak mendownload aplikasi yang sangat ia butuhkan saat ini selain WA yang sudah terunduh di HP-nya.
Ia melihat notif di HP-nya, tidak ada pesan yang masuk. " Ya iyalah, no kontak yang ada di sini kan cuma satu doang" batin Rey dalam hati. Ia akhirnya tersenyum sendiri.
Ia cek WA pak Wibie, terakhir dilihat pukul 06.30. Berarti sudah sekitar sejam yang lalu. Tak lupa, Rey juga mengintip foto profil pria itu.
"Ah, hanya tampak dari belakang," ujar Rey lagi. Dalam hati.
"Tubuhnya begitu atletis dengan kulit yang sedikit gelap,"
Dari foto yang tampak, terlihat seorang pria dengan topi proyek berwarna putih dan seragam warna merah, berdiri di gundukan tanah hasil galian tambang. Ia memang terlihat sangat atletis. Tubuhnya tinggi dengan postur tubuh yang seimbang. Kulitnya coklat khas warna kulit orang Indonesia membuatnya semakin keren.
"Keren," ujar Rey lagi.
Rey tersenyum sekilas. Ia merasa begitu beruntung bisa dipertemukan dengan orang sebaik pak Wibie.
****
Usai sarapan, Rey kembali meninggalkan kamarnya lagi. Kali ini ia akan pergi ke pusat pertokoan yang ada di seberang hotel ini. Ia akan membeli baju sesuai yang diminta oleh Wibie.
Pria itu meninggalkan uang sebesar dua juta rupiah di atas nakas. Jumlah yang cukup banyak untuk membeli baju bagi Rey.
"Banyak sekali,"
Rey juga masih menyimpan uang pemberian pak Wibie beberapa waktu yang lalu, ketika ia membantu membersihkan rumahnya. Lima lembar pecahan seratus ribu itu Rey simpan tanpa sepengetahuan ibunya. Uang itu sengaja ia sembunyikan sebagai bekal ia kabur dari rumah.
"Aku akan membelajakan uangku saja. Dua juta ini akan aku simpan agar beban hutangku padanya tidak menumpuk,"
Rey membeli dua blues dan satu celana panjang. Ia juga tidak lupa membeli beberapa potong pakaian dalam.
"Cukup ini dulu. Aku harus berhemat. Sebelum mendapatkan pekerjaan, aku tidak boleh menyusahkan Tante Ros," ujar Rey dalam hati. Ya, ia harus bisa membelanjakan uangnya dengan bijak.
Mengingat ia jauh dari orang tua dan belum punya penghasilan sendiri. Barang yang ia dapatkan di toko baju yang berada di komplek pertokoan seberang hotel itu sudah menghabiskan uang yang didapatnya dari hasil membersihkan rumah pak Wibie. Uang dua juta milik pria itu masih untuh. Rey berencana akan mengembalikan uang itu pada pemiliknya
Saat sedang melakukan transaksi di kasir, tiba- tiba ada yang bergetar dari saku celana.
"Rey"
Sebuah pesan masuk. Sesat setelah hp yang ada di saku ia buka. Pesan singkat dari pak Wibie.
"Ya pak" jawab Rey seketika itu juga.
[Online, terlihat sedang mengetik]
"Jangan untuk membeli baju gantimu"
"Sudah pak. Saya sedang di toko yang ada di seberang hotel sekarang," jawab Rey lagi.
"Jangan lupa makan siang ya"
"Iya, pak"
"Ingatkah petugas hotel jika jam satu makananmu belum sampai ke kamar!" Katanya lagi.
"Iya, pak,"
"Jaga diri baik-baik. Jangan keluar kamar," perintahnya lagi.
"Iya, pak"
Tidak ada pesan lagi setelah jawaban yang terakhir dari Rey.
Pesan itu sudah centang dua dan berwarna biru. Berarti sudah diterima dan dibaca oleh si penerima. Beberapa saat Rey menunggu, seperti pak Wibie sudah tidak online lagi.
Rey menyimpan kembali hp itu ke dalam saku celananya.
"Perhatian sekali dia,"
"WA hanya untuk mengingatkan aku agar tidak lupa membeli baju dan makan siang. hemmm....,"
"So sweet banget,"
Tiba- tiba ada aliran darah Rey mengalir begitu deras. Ada suatu perasaan yang susah untuk dijelaskan. Rey menjadi tersipu dan tersenyum sendiri.
Rey membayar menyodorkan sejumlah uang pada petugas kasir sesuai dengan nominal yang tertera dalam struk belanjaannya. Setelah menyelesaikan transaksi, ia langsung kembali ke kamarnya, sesuai pesan Pak Wibie.
"Kembali ke kamar. Meski tidak ada pekerjaan yang bisa aku lakukan, aku harus mengikuti perintah Pak Wibie,'
"Dia mengkhawatirkan diriku, untuk itu aku harus bisa menjaga diri,"