
Sore itu, usai sholat Ashar, atas izin kepala desa setempat mereka mengumpulkan pemuda kampung di balai pertemuan.
Jadwal pertama yang akankah segera mereka realisasikan adalah pembinaan generasi muda agar mereka menjadi generasi yang melek IT.
Mereka sadar, penggunaan hp sebagai media komunikasi sudah menjangkau semua kalangan, tidak terbatas usia dan wilayah. Berdasarkan data sementara yang mereka peroleh, semua pemuda di daerah ini mayoritas mempunyai barang ajaib tersebut, namun penggunaan masih sebatas sebagai alat komunikasi dan bermain game.
"Hp mereka canggih-canggih tapi belum dimanfaatkan dengan maksimal," bisik Rey pada Alex yang duduk di sampingnya.
"Hemmm," Alex tidak menanggapi, ia hanya bergumam sembari membuka rencana kerja yang sudah mereka cetak dan di jilid dengan rapi.
"Kita mulai saja, keburu magrib belum selesai takutnya," Pandu mengingatkan Alex dan teman-temannya yang lain.
"Iya. Ayo lah. Dibuka dulu," Risya menimpali.
"Lex," Pandu menepuk bahu Alex dengan pelan.
"Lah, gua kira elo mempelajari program kerja kita, ternyata ngelamun. Duh ....duh.....," Pandu jadi geleng-geleng kepala mendapati kelakuan ketuanya ini.
"Sabar, Pak. Masih ada 9 hari lagi. Tahan rindumu," canda Pandu lagi.
"Ah....bisaan aja. Rupanya ketua kita ini sedang memikirkan sesuatu toh?" timpal Risya.
"Enggak, aku hanya ingin memastikan poin-poin yang harus kita sampaikan pada pertemuan kita kali ini" dalih Alex, namun dari ekpresi wajahnya sangat terlihat jika ia sedang menyembunyikan sesuatu.
"Ya, udah. Kita mulai aja. Ayo dibuka, Bung!" pinta Alex pada Dion.
Dion yang mendapat perintah dari ketuanya itu segera membuka acara dengan seremonial nan santai penuh kekeluargaan. Bahasanya yang tegas dan merakyat itu cukup menarik perhatian pemuda desa yang mereka kumpulkan.
"Kamu sakit?" tanya Rey pada Alex.
"Enggak," sahutnya. Dalam hatinya justru berkata lain, "gua sakit.....sakit hati karenamu. Ga peka banget, sih!"
"Dari tadi aku liat kok murung aja?"
"Masa?"
Rey mengangkat kedua bahunya dan tersenyum simpul pada Alex. Rey faham, sepertinya Alex tidak mau membahas soal ini.
Dion tengah menyampaikan maksud dan tujuan mereka ada di sini. Sepertinya niat itu di sambut baik oleh pemuda yang hadir dalam ruangan itu.
"Abis mandi kok gerah lagi," gumam Rey pada Risya yang ada di samping kirinya.
"Kipas yang nyala cuma satu. Wajar aja," sahut Risya setengah berbisik.
"Lupa bawa kunciran lagi," Rey tengah mencari sesuatu dari tas kecil yang di selempangkan di bahunya.
"Ini! Pake aja," Risya memberikan jepitan rambut pada Rey.
Setelah menerima benda itu, Rey menggelung rambut panjangnya yang mulai basah oleh keringat kemudian menjepitnya.
Cukup dengan lirikan matanya, Alex bisa melihat apa yang dikerjakan oleh Rey. Ternyata apa yang diributkan oleh Rara di kamar mandi beberapa saat yang lalu memang benar. Pada leher bagian belakang Rey, terdapat tanda-tanda merah. Alex bisa faham apa penyebabnya.
"Hemmm..... Sepertinya kau tidak harus menggelung rambutmu. Tengkukmu sangat tidak enak di lihat," ditegur Alex dengan suara yang berbisik.
Kontan saya muka Rey merah merona saat itu juga. Tanpa mau melihat ke Alex, ia buru-buru membuka kembali gelungan rambutnya dan membiarkannya terurai hingga melewati bahu.
"Tanda perpisahan?" tanya Alex masih dengan suara yang masih berbisik.
"Dari siapa?" tanyanya lagi. Kali ini dengan senyum yang sudah dimaknai.
Rey tidak menjawab, ia hanya tersenyum menahan malu.
"Ah, Mas Wibie bener-bener telah membuatku malu hari ini," pekiknya dalam hati. Ia tidak
Masih dengan wajah yang murung, Alex kembali fokus pada kegiatan mereka. Kali ini ia memberi penjelasan tentang program yang akan mereka laksanakan setelah Dion memberikan pengeras suara itu padanya.
Ada dua materi yang mereka sampaikan pada saat itu, yaitu bagaimana memanfaatkan gadget sebagai media belajar/ sumber informasi dan bagaimana menghasilkan uang dari benda nan canggih itu.
Melihat potensi daerah dan hasil bumi yang melimpah mendorong para mahasiswa itu semakin erat merangkul pemuda desa untuk mengembangkan bisnis online. Seperti membuka marketplace yang dikelola bersama untuk memasarkan hasil bumi maupun produksi warga setempat.
Tanpa menunda-nunda lagi, sore itu mereka langsung praktek bagaimana caranya membuka toko, promosi agar barang yang mereka jual lebih cepat di kenal oleh masyarakat luas hingga bagaimana cara membuat website dengan mudah tanpa harus keluar biaya.
"Kamu jago IT juga ternyata," puji Risya yang sejak tadi mengamati Alex membimbing pemuda desa dengan telaten.
"Sebelum ke sini udah belajar dulu sama anak IT kampus, private," sahut Alex yang masih melayani konsultasi.
"Oh yang pernah jadi duta IT tingkat nasional itu?"
"Iya. Saya sengaja membekali diri dengan ilmu IT karena ini pasti bermanfaat di sini,"
"Kamu memang cerdas, Lex," puji Risya lagi.
"Biasa aja, Bu dokter,"
"Ih...belum sah panggilannya,"
"He .... Ya sudah di tambahi. Calon Bu dokter," canda Alex.
"Apaan, ih," Risya menepuk pundak Alex dengan pelan karena candaan yang dilontarkannya itu.
"Mereka juga harus dibekali pengetahuan bagaimana cara menangani hacker yang bisa saja menjatuhkan web mereka dalam sekejap mata," Rey mencoba mengingatkan teman-temannya.
"Maksudnya?" tanya Alex.
"Sama halnya dengan bisnis biasa, ketika kita sudah banyak pelanggan dan toko terlihat ramai biasanya akan menimbulkan konflik bagi sesama pedagang. Beberapa dari mereka yang curang, tidak akan segan memberangus toko kita,"
"Oh, iya. Waktu rapat di grup Rey pernah membahas ini, namun kita lupa mencantumkan solusinya jika terjadi hal seperti ini,"
"Iya, itu bisa ditambahkan. Yang penting sekarang kita support dulu mereka untuk membuat perubahan," Sahut Pandu menengahi.
"Ok. Kita juga membuat grup sebagai pendampingan hingga mereka bisa sukses mendapatkan pelanggan. Jadi bisa di bahas di sana jika waktu tidak memungkinkan," Alex menimpali.
"Saya juga mengundang ... Dalam grup agar bisa menyempurnakan web yang sudah di buat teman-teman di desa ini," ujar Alex lagi.
"Kamu hebat, begitu total memberikan bimbingan pada mereka," Puji Risya entah untuk kesekian kalinya.
"Agar apa yang kita kerjakan ada hasilnya. Bukan sekedar menggugurkan kewajiban saja,"
"Iya, bro. Tenang saja. Ini program kita bersama. Saya juga senang jika setelah ini kita punya andil yang besar untuk kemajuan desa ini," sahut Prabu.
Pada akhir acara, Rey berbagi cerita kepada para pemuda itu. Bagaimana ia mulai membangunkan toko onlinenya hingga bisa memperoleh omset puluhan juta rupiah dalam sebulan. Bisnis yang awalnya hanya untuk mengisi waktu luang itu, kini sudah bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain.
Rey juga menceritakan bahwa untuk mendapatkan semua itu harus berjuang keras. Termasuk ketika ada orang yang merasa dirugikan dengan usaha kita yang mulai mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.
Pengalaman Pandu yang menggunakan media sosial untuk promosi juga semakin menambah wawasan mereka tentang manfaat bersosmed. Pandu juga menceritakan bagaimana ia bisa menjalankannya profesinya sebagai penyedia jasa akuntan freelance hanya dengan modal promosi melalui dunia maya. Kini ia bisa hidup dengan layak dari bisnis jasanya itu. Bisa melanjutkan sekolah dengan biasa sendiri.
******
Happy reading all! Author tidak bosan-bosan minta dukungannya. Mohon untuk tinggalkan
✓ LIKE
✓ KOMENTAR
✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏
Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊