Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
Hati Seorang Ibu


Sebelum subuh aku sudah terbangun. Namun kepalaku begitu berat dan aku merasa kedinginan. Tubuhku menggigil meski pagi ini tidak lagi hujan.


Aku masih berdiam diri di tempat tidurku. Aku mendengar ibu memanggil-manggilku dari dapur.


"Rey, sudah subuh!" panggil ibu.


"Sebentar,Bu,"


Rupanya sahutanku tak terdengar olehnya hingga ketika panggilan berikutnya suara ibu sudah meninggi.


Tak lama pintu kamarku terbuku. Ibu datang menghampiriku. Ia cukup panik, katanya aku terlihat pucat. Bergegas ia meraba keningku


"Kamu demam Rey. Pasti karena kau membiarkan tubuhmu terguyur hujan," ujarnya panik


Ia bergegas meninggalkan kamar. Tak lama ibu datang lagi dengan segelas air putih hangat dan obat demam di tangannya


"Minumlah ini. Jika kau tidak kuat ke sekolah, ibu akan meminta izin pada walikelasmu. Istirahatlah dulu,"


"Tidak Bu. Hari ini terakhir ke sekolah. Akan ada doa bersama dan pengarahan dari kepala sekolah. Rey harus datang. Senin sudah ujian nasional. Rey tidak ingin ketinggalan informasi yang berhubungan dengan ujian"


"Oh. Jika kau mau tetap ke sekolah, ibu tidak akan melarang. Istirahatlah dulu. Ibu akan siapkan air hangat untukmu,"


Ibu segera meninggalkan Rey seorang diri. Rey tak ingin membaringkan tubuhnya lagi. Ia hanya duduk di tempat tidurnya sembari istiqfar. Ia tak ingin sakit. Hari ini harus ke sekolah


Setelah dirasa cukup kuat untuk berjalan, Rey beranjak dari tempat tidurnya dan pergi ke dapur. Ia tidak lagi melihat tumpukan piring kotor. Sarapan sudah tersaji di atas meja. Rey sedikit mengembangkan senyum. Pagi ini ibu menyelesaikan tugasnya membereskan dapur dan menyiapkan sarapan.


"Mandilah, Nak. Ibu sudah menyiapkan air hangat. Setelah itu jangan lupa sarapan agar engkau kuat. Jangan lupa bawa susu yang sudah ibu siapkan dan beberapa potong roti yang ada di taperware itu. Bawa ke sekolah untuk bekal. Pastikan minum obatnya sebelum makan siang. Ibu mau beres-beres di ruang laundry dulu" ibu segera berlalu dari dapur begitu menyelesaikan wejangannya.


Rey menyapu meja makan. Benar saja, disitu sudah ada satu kotak susu instan dan kotak makanan yang disiapkan ibu. Bak mandi yang telah berisi air hangat masih terlihat mengebulkan asap tipisnya. Rey tersenyum atas kebaikan ibu padanya


******"


Setelah siap dengan seragam sekolahnya, Rey mohon pamit pada ayah dan ibunya. Ayah terlihat sudah duduk di kursi rodanya dan ingin menghirup udara segar. Rey membantu ayah dengan mendorong kursi roda itu hingga ke teras depan. Ibu yang melihat mereka berdua keluar dari rumah segera keluar dari ruang kerjanya.


"Ibu pesankan grab ya. Biar kamu lebih santai sampai di sekolah. Ingat, siang nanti jangan lupa minum obatnya"


Ayah segera mengamati wajah putrinya itu setelah mendengar ucapan ibu


"Kamu sakit, Nak?" Tanya ayah dengan suara yang sedikit terbata


"Cuma demam sedikit, Yah. Bentar lagi juga sembuh. Badanku mulai berkeringat setelah mandi air hangat yang disiapkan ibu dan mantel ini" ujar Rey sembari memamerkan switer tebal yang dikenakannya


Setelah grab yang dipesan ibu datang, Rey segera mencium tangan kedua orang tuanya dan meninggalkan mereka yang terus memandang Rey dari kejauhan.


Rey mengernyitkan keningnya mengingat sesuatu. Sebelum tidur, ibu mengingatkan Rey untuk mampir ke toko harapan sepulang sekolah. Namun pagi ini ibu lupa mengingatkannya kembali.


Ah, aku punya alasan untuk tidak menemui Aldy hari ini. Karena kondisiku yang kurang sehat, sepulang sekolah aku akan beristirahat di rumah. Hari ini tidak ada kegiatan apapun kecuali pengarahan dari kepsek. Bisa jadi anak-anak bisa pulang lebih awal. Rey akan istrihat di rumah agar kondisinya segera pulih dan bisa ikut ujian dalam kondisi yang fit.


****


Benar saja, menjelang pukul sepuluh seluruh anak kelas sembilan sudah dibubarkan. Rey segera meninggalkan sekolah ketika melihat angkot berwarna coklat melintas. Tidak lebih dari 30 menit, Rey sudah sampai kembali di rumah.


Ibu tidak meminta Rey untuk membantu pekerjaannya hari ini. Rey diminta istirahat dikamarnya agar ia cepat sembuh. Rey memanfaatkan kesempatan itu untuk tidur.


Mungkin karena pengaruh obat yang diminumnya, ia bisa tertidur pulas usai sholat dhuzur dan terbangun ketika adzan magrib berkumandang. Tubuhnya sudah segar kembali dan pusingnya juga sudah hilang.


"Hallo. Laundry Bu Laura?" terdengar suara dari seberang.


"Iya pak. Ada yang bisa dibantu?" tanya Rey dengan nada lembut dan sopan.


"Maaf Bu. Ini dari mess 105. Laundry saya belum diambil. Seminggu ke depan saya akan keluar kota. Apa bisa diambil sekarang?"


" Baik pak. Akan saya ambil setelah sholat magrib"


Terdengar suara telpon ditutup dari ujung sana. "Ih....si bapak, kok ga ada basa basihnya sama sekali" bisik Rey dalam hati


Rey segera mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat magrib. Setelah itu ia segera mengambil kunci kontak motornya dan meninggalkan rumah menuju mess 105.


Ketika sampai di depan rumah dinas itu, pintunya sudah terbuka lebar. Rey segera mematikan mesin motornya dan mengucapkan salam.


Tanpa harus mengulang, si empunya rumah sudah ada di depan pintu menemui dirinya.


"Saya mau ke Jakarta hingga minggu depan. Jadi cucian ini diantar hari minggu saja ya. Ini pembayaran untuk laundrynya," pria itu. menyodorkan kantong plastik hitam ke arah Rey dan memberikan sejumlah uang yang dimaksud untuk membayar laundry.


Rey menerimanya dengan sopan.


"Bapak orang Jakarta ya? Aku ingin sekali kuliah di sana pak," ujar Rey spontan mengetahui pelanggan laundry ibunya itu orang Jakarta.


"Iya. Saya tinggal di Jakarta. Belum seminggu bertugas di sini"


"Bapak tinggal dimana? Adik ayahku tinggal di Kemayoran pak. Saya tekakhir ke sana ketika masih kelas 3 SD, waktu ayah masih sehat,"


Pria itu tidak menjawab. Ia hanya menatap Rey dan sedikit tersenyum atas ucapan gadis yang ada di depannya.


"Senin besok saya ujian nasional pak. Saya akan memohon pada ibu setelah pembagian ijazah saya akan ke Jakarta dan meneruskan sekolah di sana,"


"Oh ya. Semoga ujiannya sukses ya dan mendapat nilai yang bagus. Apa aku bisa minta bantuanmu?" Tanya pria itu lagi


"Bisa pak. Ga usah sungkan-sungkan," sambut Rey dengan ramah.


"Bisakah kau carikan orang untuk membersihkan ruaganku dan mengganti seprey di kamar. Tidak untuk sekarang. Sekalian saja hari minggu nanti sebelum aku pulang,"


"Saya saja pak. Kalau cuma bersih-bersih rumah dan ganti seprey biar saya saja. Kecuali kalau untuk membongkar rumah ini, saya ga sanggup," ujar Rey berusaha mencairkan suasana.


"Kamu yakin mau melakukan nya?"


"Yakin pak. Sudah percayakan saja sama saya. Saat bapak pulang. Rumah ini saya pastikan sudah bersih dan rapi,"


"Baiklah. Terimakasih kalau begitu. Kuncinya ada di satpam depan ya. Nanti saya pesan ke mereka jika Minggu pagi engkau akan mengantarkan laundry dan membersihkan ruangan ini. Terimakasih atas bantuannya,"


"Siap pak. Saya ijin pulang dulu," Rey mohon pamit setelah dirasa tidak adalagi yang perlu ia bicarakan.


"Hati-hati ya. Hari sudah mulai gelap. Kelihatannya kau juga kurang sehat,"


Rey sedikit kaget atas pernyataan terakhir pria itu. Ih...baik juga rupanya orang ini.


"Saya cuma sedikit demam pak. Mungkin karena terkena hujan kemarin,"


Tak ada sahutan hingga Rey membalikkan tubuhnya dan meninggalkan rumah itu. Ketika mesin motor sudah menyala dan Rey memutar kendaraan, terlihat pria itu melambaikan tangannya dan tersenyum ke arahnya.