Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
EP. 14 Kita Berteman


"Luar biasa, aku benar-benar salut. Kalian memang luar biasa?" Puji Alex dengan wajah takjubnya.


"Lex, loe di sini. Di cariin juga," tegur salah satu cowok yang tiba-tiba berdiri di depan Alex.


"Sejak kapan loe tertarik dengan seminar yang beginian?" lanjutnya lagi.


"Temanya menarik, Key note speaker nya juga alumni Eropa, aku jadi daftar dadakan," Alex memberi alasan. Ia mencoba menyakinkan temannya itu bahwa ia ikut seminar karena alasan yang logis.


Cowok itu memandang wajah Alex dan merasa kurang yakin akan jawaban, kemudian ia beralih ke Rey yang masih duduk di samping Alex dengan senyum ramah dan menundukkan kepalanya sedikit begitu ia sadar pria itu mengamatinya.


"Ini Rey, dia anak kelas karyawan. Satu jurusan sama aku," Alex memperkenalkan Rey pada temannya. Sekali lagi Rey tersenyum dan menundukkan kepalanya sesaat sebagai salam perkenalan.


"Rio," pria itu memperkenalkan diri tanpa mengulurkan tangannya ke arah Rey. Mimik wajahnya tiba-tiba menjadi aneh begitu Alex menyebutnya sebagai anak kelas karyawan.


"Ih, meremehkan sekali," gerutu Rey dalam hati.


Beberapa saat mereka berbincang-bincang, sebelum ia meninggalkan ruangan pria itu sempat tos dan menjabat erat tangan Alex. Ia keluar dan melambaikan tangan ke Alex tanpa basa-basi ke Rey. Keberadaan Rey di situ tidak dianggapnya.


Rey sudah terbiasa dengan hal itu, ia juga segera mengabaikannya. Kini pandangan tertuju ke arah podium karena dua dari pembicara yang dijadwalkan sudah hadir di tengah mereka.


"Tadi itu Rio, dia anak Teknik industri," Alex kembali membuka pembicaraan begitu temannya itu pergi. Ia juga merasakan jika Rio bersikap cuek pada Rey, untuk itu ia buru-buru mengklarifikasi agar Rey tidak tersinggung.


"Rio itu anaknya cuek, apalagi sama perempuan. Selain kuliah dan aktif organisasi waktunya ia manfaatkan untuk membaca buku di perpustakaan. Mungkin sudah begitu kali, ya karakter anak teknik?"


"Mungkin! Aku sendiri kurang faham. Setiap harinya cuma ketemu sama teman satu angkatan. Jika ada satu dua dari jurusan yang lain juga sama, kan di kelas karyawan ga ada jurusan Teknik,"


"Saya iri dengan kalian, apalagi sama kamu, Rey. Masih muda sudah mempunyai penghasilan sendiri, membiayai kuliah dengan hasil keringat sendiri. Bisa meringankan beban orang tua juga, bahkan ada yang bisa nabung buat nikah muda. Wew... Amazing sekali,"


"Ha...ha.....justru saya yang iri sama kalian, mahasiswa reguler. Kalian masih punya kesibukan di batas wajar. Kuliah,pulang,ngerjain tugas, repeat. Masih bisa hang out, jalan-jalan ke mall, nguliner. Senin hingga Jumat kita fokus kerja dari pagi hingga sore lanjut kuliah di malam hari. Sabtu Minggu lebih dimanfaatkan untuk mengerjakan tugas karena kalau tidak segera di selesaikan bisa menumpuk dan bikin mumet sendiri,"


"Kapan mainnya? Kapan liburannya? Kapan seneng-senengnya? Hampir tidak ada waktu sama sekali,"


"He...he....berarti hidup itu saling sawang sinawang, ya?" ujar Alex berusaha bijak.


"Apa itu?" tanya Rey.


"Orang hidup di dunia itu saling memandang satu sama lainnya. Saling menilai, menakar, menduga. Mungkin pandangan atau cara melihat mereka benar, namun belum tentu sempurna. Contohnya seperti kita ini, saya menilai kalinan sebagai pribadi yang mandiri dan lain-lain namun kurang faham dengan perjuangan kalian untuk bisa bertahan seperti ini,"


"Iya, kamu benar. Serasa ngobrol sama mbah-mbah saat ini," gumam Rey.


"Ha...ha....Mbah Alex nan Tampan," Alex memuji dirinya sendiri.


Rey hanya tersenyum, kini ia makin fokus ke depan. Sepertinya acara segera dimulai.


"Seneng bisa ketemu kamu. Ternyata kamu teman yang menyenangkan," bisik Alex.


"Begitu?"


"Iya, baru dua kali ketemu ternyata aku sudah bisa membuka mata bahwa hidup ini memang begitu banyak warna. Ketika sebagian dari pemuda seusia kita masih bermalas-malasan, menghabiskan waktu untuk memburu kesenangan disaat itu pula ada pemuda yang sedang bekerja keras untuk mencapai cita-citanya,"


"Kau bijak sekali, teman," Rey tersenyum geli ke arah Alex.


"Seperti itu? Mungkin sejak ketemu dirimu,"


"Ah, bisa aja,"


"Serius,"


"Baiklah, kita berteman," sahut Rey. Pandangannya tetap tertuju ke depan.


Setelah itu tidak ada yang bersuara lagi. Pembawa acara sudah membacakan susunan acara dan memimpin perserta untuk berdoa. Kemudian ia meminta salah satu peserta untuk memimpin lagu Indonesia sebelum acara di buka oleh wakil Rektor 3 yang sudah hadir dan duduk di samping keynote speaker hari ini.


Usai menyanyikan lagu Indonesia raya, peserta di persilahkan duduk kembali. Saat itu hp yang ada di saku Rey bergetar, sepertinya ada pesan yang masuk.


Dengan menyembunyikan Hp miliknya di balik tas, Rey membaca pesan itu. Ternyata dari Pras. Beberapa pesan sudah terkirim untuknya.


"Rey,"


"Kamu di mana? Aku sudah ada di depan pintu. Di dalem penuh sekali, aku tidak mengenal satupun dari mereka,"


"Aku di belakang, masuk lewat pintu yang di depan pohon mangga, ya? Aku duduk tidak jauh dari pintu,"


"Ok, aku masuk," Pras segera membalas pesan itu.


Tak lama, pintu yang sudah di tutup rapat oleh panitia terbuka sedikit. Kepala Pras menyembul di balik pintu. Rey segera melambaikan tangannya karena Pras menyapukan pandangannya pada peserta yang begitu padat untuk menemukan dirinya.


"Siapa?" tanya Alex.


"Teman satu kelas,"


Sekejap kemudian Pras sudah berdiri di depan Rey, ia mencari bangku yang masih mungkin untuk meletakkan bokongnya yang mulai pegel karena naik ojek agar bisa segera tiba di tempat ini. Semua bangku penuh, akhirnya dengan berat hati Alex menawarkan tempat duduknya.


"Disini aja, Mas. Silahkan. Saya bisa cari tempat yang lain," Alex segera berdiri dan mempersilahkan Pras menempao kursinya.


"Serius?" tanya Pras.


"Iya, biar kalian bisa saling bertukar pikiran. Rey bilang sejak tadi belum ketemu temannya," ujarnya bijak.


"Kalian sudah saling kenal rupanya,"


"Iya, sambil nunggu acara di mulai kita sudah ngobrol banyak. Aku permisi dulu, ya!"


"Terimakasih ya, Lex" ucap Rey seketika sebelum pria itu melangkah.


"Ok, aku masih bisa nyelip di tempat yang lain kok. Ga masalah," ujarnya sembari meninggalkan Rey dan Pras yang sudah menempati kursinya.


"Baik sekali anak itu," gumam Pras.


'"Dia kan anak reguler, semua yang di sini banyak yang kenal sama dia. Baguslah jika dia mau kasih bangkunya ke kamu. Teman yang pengertian,"


"Iya, ya"


Pras sepertinya ingin bertanya sesuatu pada Rey namun Rey segera memasang telunjuknya di depan bibir, memberi isyarat lada Pras agar tidak lagi bersuara. Wakil rektor 3 sedang memberikan sambutan, Rey khawatir suara mereka yang berisik di belakang bisa mengganggu konsentrasi peserta lainnya yang sedang menyimak apa yang di sampaikan oleh petinggi kampus ini.


Happy reading all! Author tidak bosan-bosan minta dukungan. Mohon untuk tinggalkan


✓ LIKE


✓ KOMENTAR


✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏


Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊