Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
Oma Datang


Devara sudah siap berangkat, namun sang Papa belum juga keluar dari kamar sang Nenek.


Devara mengetuk pintu dengan pelan, tak lama pintu dibuka oleh Neneknya.


"Katanya mau pergi! Papa kok malah diem di sini," protes anak itu.


"Maaf sayang, kakek tadi jatuh. Papa harus bantuin kakek yang lagi sakit. Kita nungguin Oma di sini saja, ya?" bujuk Wibie pada Devara yang sudah pasang cemberut.


Anak itu melangkah mendekati papanya. Dengan sikap manjanya, ia segera nemplok dipangkuan Wibie yang duduk di samping Ayah mertuanya.


"Kakek masih sakit?" tanya anak itu manja.


"Enggak sayang. Nih kakek mau buktikan," sahut ayah.


Ayah mengambil posisi untuk berdiri. Dengan ditopang kedua tangannya, ayah bangkit dari tempat tidur.


"Tuh kan. Kakek sudah bisa berdiri," pamer Ayah.


Tak lama ayah kembali pada posisinya semula. Dengan pelan ia kembali duduk di kasur yang empuk itu.


"Jangan dipaksakan, Yah. Pelan-pelan dan sering dicoba. Semoga Ayah makin sehat," ujar Wibie.


"Aamiin," sahut Rey dan Ayah nyaris berbarengan.


Ibu yang masih berdiri di membelakangi pintu, tidak berani untuk mendekati ayah.


"Kenapa kakek sudah tua kok baru belajar jalan," tanya Devara dengan polosnya.


Mendengar pertanyaan itu, Ayah terkekeh. Ia acak-acak rambut anak itu.


"Kan kaki kakek sakit, sayang," sahut Ayah.


Devara turun dari pangkuan Papanya dan memegang dengkul kakeknya.


"Tapi kaki kakek tidak berdarah," Anak itu mengamati kaki Ayah Rey yang sejak kemari akan dipanggilnya dengan sebutan Kakek.


Semua yang ada dikamar itu tertawa melihat keluguan Devara. Ayah yang dielus-elus kakinya sejak tadi balik mengacak-acak rambut anak itu.


"Kusut, Kek," protesnya.


Rumah Wibie yang biasanya sepi, hanya ada Bu Fat, Rey, dan Devara kini menjadi ramai.


Oma datang bersama Witha dan suaminya. Anaknya yang baru berumur seminggu juga tak ingin absen di acara pernikahan pamanya itu.


Melihat Oma dan Tantenya datang, Devara senang sekali. Apalagi ketika melihat bayi mungil yang ada di gendongan Omanya.


"Lucu sekali, Oma," seru Devara kagum. Namun ia hanya memandangi bayi itu tak berani menyentuh nya


"Dicium dong dedek bayinya," seru Witha setelah duduk di sofa tamu. Ia segera ambil posisi santai karena setelah melakukan perjalanan jauh merasa jahitan pasca melahirkan masih berasa nyeri.


"Kamu sakit, dek?" tanya Wibie ketika melihat adik perempuannya itu tersandar di sofa.


"Enggak, cuma karena terlalu lama di jalan aku sedikit lelah," sahutnya.


Wibie duduk disamping Witha dan ingin memastikan jika kondisi adiknya itu baik-baik saja.


"Harusnya ga usah dipaksakan datang. Kan bisa ke Jakarta di hari yang lain. Kamu kan dapat cuti 3 bulan, bisa ke sini jika sudah kering jahitannya," ujar Wibie


"Ngak apa, Insyaallah baik-baik saja kok," sahut adiknya itu. Ia tersenyum manis pada kakaknya yang sudah begitu perhatian dan sayang padanya sejak mereka masih kanak-kanak.


"Mana Kak Rey?" tanya suami Witha.


"Sebentar, tadi ia baru selesai mandi. Mungkin masih di kamarnya," jawab Wibie sembari menengokkan wajahnya ke arah kamar Devara.


Tak lama, Rey keluar membawa minuman untuk mereka. Rey segera memberi salam kepada Oma dan calon adik iparnya itu.


"Kak Rey cantik sekali. Pantes aja Mas Wibie buru-buru mau menikah," puji Witha sembari memeluk calon kakaknya itu.


Oma dan suaminya hanya tersenyum mendengar pujian yang dilontarkannya Witha pada Rey. Lain halnya dengan Wibie, ia segera menggeser pantatnya agar Rey bisa duduk di sampingnya.


Wibie meraih tangan Rey dan menggenggam tangan itu dengan erat.


"Gimana ga buru-buru dinikahi, dia nyamperin saya terus," canda Wibie. Kali ini ia melirik wanita yang ada di sebelahnya itu untuk melihat ekspresinya.


Dituduh seperti itu, Rey langsung protes. Namun Wibie sudah lebih dulu bicara


"Pasti ga ngaku dia Udah ga usah malu-malu. Kalo sama Witha santai saja. Dia bisa menjadi teman baikmu," seru Wibie.


"Tapi ingat ya, meski Rey usianya lebih muda dari kalian tetap panggil dia kakak. Karena ia akan menjadi istriku sebentar lagi," tambah Wibie lagi.


Witha dan suaminya tertawa mendengar ocehan kakaknya itu. Begitu juga ibu yang masih tidak bisa bergerak karena Devara masih ingin melihat adiknya itu.


Rey hanya tersenyum, ia urung menanggapi ocehan Wibie yang menganggap nya ia minta dinikahi secepatnya.


"Maaf, Ayah lagi sarapan di kamar, ibu yang menyuapi beliau. Jadi belum bisa menemui Oma dan Witha,"


Rey tiba-tiba ingat sesuatu. Ibunya belum keluar dari kamarnya sejak Oma dan keluarga Witha datang.


Saat ia mandi, memang ibu sedang menyuapi ayah.


"Mungkin belum selesai makan," pikir Rey dalam hati


"Ga apa-apa, Nak. Kita ini sekarang satu keluarga. Kami faham kok kalo kalo Ayah butuh perhatian khusus. Dia bisa hadir ke Jakarta sudah suatu yang luar biasa sekali," ibu menimpali.


"Oma, kenapa adeknya kok merem terus?" tanya Devara


"Nama adeknya siapa, Tante?" tanya Devara lagi.


"Aulia Zahra, dipanggilnya Aulia sayang," jawab Witha.


"Dedek Witha bobok sama aku aja, ya. Di kamar aku," ujar Devara menawarkan kamarnya untuk sepupu mungilnya itu.


"Bie, malam ini kita nginep di sini. Usai acara kita pulang ke Duren Sawit. Witha sekalian ingin istirahat di rumah," kata Ibu.


"Iya, Mas. Witha mau ngabisin cuti di rumah ibu. Biar mas Ardi pulang sendiri aja," sela Witha.


"Wah, kasian Ardi kalau begitu, ngejomlo di Surabaya,"sahut Wibie


"Ndak apa Mas, saya ga bisa nungguin dia seharian. Kadang kalau ada operasi bisa ga pulang seharian. Kalau sama ibu kan ada yang nemenin. Saya akan ke Jakarta sesering mungkin," sahut adik ipar Wibie.


"Iya, ya,"


"Devara ikut di rumah Oma aja. Biar bisa bobok sama Dedek bayi," seru Devara girang.


"Sekolahnya jadi lebih jauh sayang,"


"Udah, biar ibu yang urus. Biar Devara sama ibu dulu. Kamu bisa lebih banyak waktu buat menikmati masa bulan madumu,"


Perkataan ibu kali ini pipi Rey bersemu merah. Wibie dengan senyum nakalnya melirik ke arah calon istrinya itu. Mata kirinya ia kedipkan saat Rey juga balik menatapnya.


"Iya, Mas. Kan ada aku juga. Dia lagi seneng-senengnya sama adeknya. Biar dia sama kita," sahut Witha


******


Ibu keluar dari kamar. Entah memang belum tau jika keluarga Wibie sudah datang atau memang ia sengaja menahan diri untuk bertemu calon besannya itu karena suasana hatinya yang lagi kurang sehat, namun ibu tersenyum ramah dan menyalami semua yang ada di situ.


"Sini, Bu. Duduk di sini," Ajak Wibie. Ia segera beranjak dari tempat duduknya dan memberikan pada ibu mertua.


Hanya ada dua sofa yang di ruang keluarga itu. Satu sofa yang hanya untuk satu orang sudah di duduki ibu yang masih memangku cucu barunya dan Devara bersandar di lengan sofa. Sebentar-sebentar ia mengelus pipi adiknya dengan hati-hati.


Sofa yang besar bisa untuk 4 hingga 5 orang karena biasanya sering digunakan Wibie rebahan saat nonton TV.


Ibu duduk di samping Rey sedangkan Wibie melangkah ke ruang ke sudut ruang, mengambil kursi lipat yang tersandar di sisi pintu keluar.


Ia ikut duduk bersama keluarganya setelah membuka lipatan kursi dan duduk dengan gagahnya


"Maaf ya, Bu. Saya baru selesai menemani Ayahnya Rey makan. Keajaiban sudah terjadi padanya. Ayah sudah bisa berdiri dan melangkah sedikit demi sedikit," cerita ibu.


"Tidak apa, Bu. Di bawa santai saja. Kita ini sekarang sudah menjadi satu keluarga. Saya senang mendapat kabar dari Wibie tadi pagi. Berarti ada sesuatu yang membuat Ayah tiba-tiba punya keberanian untuk berdiri secara tiba-tiba. Keinginan yang begitu kuat bisa melihat putri menikah, barangkali," sahut Oma dengan bijak


"Iya, Alhamdulillah sekali," sahut Ibu.


"Namun ia belum bisa memaksakan diri ke luar. Kakinya kram, Bu," tambah ibu lagi.


"Iya, ga apa. Yang penting Ayah sehat dulu. Tidak usah mikir yang macem-macem," sahut Oma sebelum ibu merasa lebih tidak enak lagi.


Obrolan mereka jadi terhenti karena terdengar suara bel yang ada di pintu gerbang berbunyi. Bu Fat yang sejak tadi sibuk di dapur buru-buru keluar untuk melihat siapa yang datang


"Pihak IO, Mas. Mereka mau pasang tenda dan menyiapkan perlengkapan makan," kata Bu Fat begitu ia sudah muncul di ruang tamu.


Wibie segera beranjak dari tempat duduknya dan menemui orang yang dimaksud.


Ternyata ada 3 orang yang datang berikut mobil box yang membawa perlengkapan tenda.


"Pasang dimana, Pak," tanya pria yang lebih dulu turun dari mobil itu.


"Di sini saja, memanjang ke sana," jawab Wibie sembari menunjuk arah samping garasi menuju ke depan Riko.


"Cukup, kan? tanya Wibie pada pria itu.


"Cukup kok, cuma .... Kok," sahut pria itu lagi.


Kemudia ia meminta teman-temannya turun dan memasang tenda sesuai dengan permintaan pemilik rumah.


Tidak lebih dari satu jam, tenda yang berukuran 4,5 x 6 meter dengan dekorasi serba putih itu terpasang di depan rumah Wibie. Berikut dua meja prasmanan yang di lengkapi dengan peralatan makan.


"Cukuplah untuk 70 undangan," ujar ibu yang berdiri di sisi Wibie sembari melihat tim pekerja yang sudah pada tahap finishing.


"Iya, Bu. Segini saja sudah cukup. Sesuai yang diinginkan Rey," sahut Wibie.


"Yang penting sah di mata Allah, Nak. Jika Rey berubah pikiran dan mau diadakan pesta di kampungnya kita ikuti saja. Bagi ibu, yang penting kalian bahagia,"


"Terimakasih, Bu," Wibie memandang sekilas wanita yang begitu ia sayangi dan memeluknya sesat.


🍟🍟🍟🍟🍟🍟


Terimakasih buat pembaca yang sudah setia mengikuti kelanjutan cerita ini. Mohon dibantu


* Like βœ“


* Komenβœ“


* Voteβœ“


* Bintang 5 βœ“


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


Semoga kita semua sehat selalu. Aamiin