Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
EP. 25 Izin Suami


Malam itu, setelah membersihkan wajahnya dan gosok gigi, Rey segera menyusul suaminya ke tempat tidur. Wibie sedang membuka Hp dan begitu serius dengan berita online yang sedang di bacanya.


"Gimana pembekalannya?" tanya Wibie tanpa menggeser pandangannya dari smartphone miliknya.


"Pengarahan dari rektor terus pembagian kelompok," sahut Rey sambil menarik selimut dan berbaring di sisi Wibie. Merapatkan tubuhnya hingga tanpa jarak dengan suaminya itu. Kini ia ikut membaca berita yang sedang dikuti sang suami.


"Dapet di mana jadinya?"


"Pandeglang,"


"Deketlah. Trus wajib hadir berapa kali?"


"Kalau kita sih tidak diharuskan setiap hari, tapi paling tidak dalam dua Minggu itu harus ada kunjungan di hari kerja mininal dua kali. Wajibnya hanya Sabtu dan Minggu,"


Wibie manggut-manggut mendengar penjelasan istrinya, berati paling tidak Rey harus melakukan kunjungan ke sana sekitar 6 hari.


"Sabtu Minggu wajib nginep?"


"Sepertinya begitu. Cuma belum aku tanyakan secara detail sama pendampingnya. Anak-anak reguler udah sewot duluan, karena meraka harus standby di sana selama dua Minggu sedangkan kita sibuk nanya Sabtu Minggu nginep apa enggak. Bisa ngamuk mereka. Tiga lawan 12 pasti kalah suara," sahut Rey dengan nada sinis.


"Kenapa ga ikut ke Belitung aja?" tanya Wibie menyelidiki.


"Kok Mas tau?"


"Sudah muncul di jurnal kok beritanya,"


"Kalau aku ikut ke sana bagaimana dengan anak-anak dan usaha kita?"


"Kamu mau?" tanya Wibie. Kali ini ia menatap istrinya dengan serius.


"Pengen juga, sih," sahut Rey dengan malu-malu.


"Daftar! Semua aku yang urus," sahut Wibie begitu yakin.


"Tapi Mas...," Rey belum selesai bicara namun Wibie sudah menempelkan telunjuknya di bibir Rey.


"Aku mengizinkanmu. Sejak kau meninggalkan rumah, hampir tidak ada waktu istirahat bagimu. Saat di rumah bibimu kau sibuk membantu mereka dari subuh hingga larut malam. Begitu pindah ke sini juga begitu. Belum lama bekerja kau mulai kuliah, tak lama kemudian kita menikah dan dikaruniai anak. Hingga kita melupakan resepsi pernikahan apalagi bulan madu. Aku saja yang melihatnya begitu lelah, apalagi dirimu? Jika kau ke Belitung, kau bisa menikmati waktumu sendiri. Bersenang-senang sebentar, melupakan semua rutinitasmu sesaat. Itu sangat kau butuhkan agar bisa membangkitkan semangat yang baru. Bisa melaksanakan KKN sekaligus memanjakan dirimu dengan menikmati indahnya pulau itu,"


"Berangkatlah sayang, nikmati waktu dengan teman-temanmu. Bukankah selama jadi mahasiswa kamu belum pernah hang out atau sekedar ngopi bareng dengan mereka?"


Rey diam. Ia masih belum bisa memutuskan meskipun Wibie sudah memberikan kesempatan itu.


"Daftarkan segera, kuotanya terbatas kan? Jangan sampai ga kebagian loh,"


"Bagaimana dengan anak-anak?" tanya Rey lagi.


"Aku kan ada oof satu Minggu, semingunya lagi aku ambil cuti tahunan. Bukankan tahun ini aku belum menggunakan hak cutiku? Lagian juga ada suster Nisha dan Bu Fat. Jangan khawatirkan mereka. Sesekali kau butuh memanjakan dirimu sendiri," Wibie mengelus halus rambut istrinya itu.


"Terimakasih, Mas. Jika sudah begini aku tidak bisa berkata apa-apa lagi," Rey seketika itu mendaratkan ciumannya di pipi kanan suaminya.


"Temanmu sudah ada yang daftar belum?"


"Sudah, ada Rafa, Mely, dan Pandu. Mereka tidak terikat waktu karena Rafa dan Mely sebagai marketing perusahaan farmasi dan Pandu sebagai akuntan freelance,"


"Baguslah itu, berarti kau tidak sendiri. Maaf, sementara hanya ini yang baru bisa aku berikan padamu,"


"Itu sudah lebih dari cukup, Mas. Apa yang aku miliki sekarang ini juga semuanya berawal dari kamu. Jangan merasa bersalah seperti itu. Menikah denganmu adalah suatu anugrah terbesar dalam hidupku,"


"Heemmm," Wibie menunjukkan muka tidak yakin.


"Beneran. Tidak ada alasan bagiku untuk tidak bersyukur. Aku bisa kuliah, dapet kerjaan, punya suami yang tampan dan anak-anak yang lucu. Rasanya semua yang aku impikan sudah aku miliki saat ini," Rey memeluk suaminya dan mendaratkan lagi ciumannya kembali.


"Lagi dapet aja, mancing-mancing," gumam Wibie setengah merajuk.


"Ha...ha..... Sengaja biar ga ada yang ngelawan,"


Wibie membalas semua perbuatan istrinya itu dengan memencet hidung Rey cukup keras.


"Sakit, Mas,"


"Makanya, jangan coba-coba membangunkan Buyung yang sudah terlelap,"


"Iya...iya...," Sahut Rey masih dengan tawa yang tidak bisa di tahan.


Malam itu mereka berbicara banyak. Mulai dari KKN, utusan toko yang sedang di tangani oleh teman Pras, hingga kelucuan Nathan yang tak henti-hentinya menarik perhatian Devara dan orang-orang di sekitarnya.


Jarang-jarang mereka seperti ini. Anak -anak sudah terlelap meski baru pukul 21.00 WIB. Rey memanfaatkan situasi ini untuk bicara lebih dekat dengan suaminya. Termasuk rencana mereka dalam waktu dekat, baik tentang usaha, kuliah Rey, urusan anak-anak hingga kejutan untuk kedua orang tua Rey di kampung.


Wibie membenarkan posisi Rey agar bisa istirahat dengan nyaman. Kepalanya yang berdasar pada bahunya, pelan-pelan ia geser hingga tertumpu pada bantal yang empuk. Membenarkan posisi tubuhnya dan merapat merapatkan selimut yang dikenakan.


Setelah memastikan posisi istrinya nyaman, ia mematikan lampu kamar. Menggantinya dengan lampu tidur. Sesegera mungkin ia berbagi di sisi Rey karena tubuhnya yang begitu lelah sudah ingin diajak istirahat.


Happy reading all! Author tidak bosan-bosan minta dukungan. Mohon untuk tinggalkan


✓ LIKE


✓ KOMENTAR


✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏


Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊