
Wibie terlihat sedang menghubungi seseorang dari ponselnya. Ia melakukan panggilan sembari memandang lautan lepas. Agar suaranya tidak mengusik Rey yang sedang tertidur, ia sengaja duduk di balkon. Sesekali ia mengamati Rey yang sedang tidur, khawatir pembicaraannya ini diketahui istrinya.
"Untuk LP minimal harus menghadirkan dua saksi, bos. Kalau saya simpulkan dari cerita tadi sepertinya juga kurang kuat jika kita meminta dia untuk menjadi saksi. Dia tidak ada di TKP saat kejadian. Kita juga tidak punya bukti bahwa dia sudah melakukan tindakan asusila,"
"Kalau sekedar lapor sih bisa, cuma untuk di TL biasanya pihak penyidik akan mempelajari kasusnya terlebih dahulu. Jika bukti dan saksi kurang kuat, prosesnya lama" lanjutnya lagi.
"Iya, ya. Jadi menurut komandan gimana baiknya? Saya hanya ingin memberi dia pelajaran agar tidak berbuat hal serupa pada istri saya,"
"Datengin aja, bicarakan secara kekeluargaan. Lagi pula istrinya mau tidak mau akan berhubungan dengan orang itu. Jika bos bikin LP atau somasi malah membuat hubungan antara mahasiswa dan dosen menjadi lebih tidak sehat. Bagus jika kita laporkan dia sadar, jika semakin jadi kelakuannya bagaimana?"
"Baiklah, akan saya pertimbangkan. Terimakasih atas waktunya. Maaf mengganggu, nih,"
"Bos, bisa aja. Kebetulan saya lagi piket nih. Posisi lagi di mana, nih?"
"Masih di Belitung, besok siang balik ke Jakarta,"
"Main-mainlah ke sini. Sudah lama kita ga ngopi bareng,"
"Siap, saya usahakan main ke kantor jika lagi off. Terimakasih, ya,"
"Ok. Salam buat istri dan keluarga,"
"Siap, terimakasih,"
Wibie mengakhiri pembicaraannya. Ia menarik nafas begitu panjang. Memang apa yang dikatakan oleh temannya itu benar. Jika ia memaksakan diri untuk membuat laporan polisi, kurang kuat. Selain tidak ada bukti dan TKP juga jauh dari wilayah domisili pelaku dan korban, saksi yang bisa dimintai keterangan untuk memperkuat laporan juga sangat lemah. Buang-buang waktu saja.
"Bagaimana, ya? Aku yakin Pak Gun masih penasaran dengan Rey. Pria itu pasti akan melakukan hal serupa sampai apa yang dia inginkan bisa tercapai,"
"Haaa....," Wibie membuang nafasnya dengan kesal.
Wibie kembali ke kamar, ia mengambil Hp milik istrinya untuk mencari nomer ponsel Pak Gun. Satu-satunya cara yang bisa dilakukannya saat ini, ia harus bicara dengan orang itu.
Wibie bisa dengan cepat menemukan karena ia melihat riwayat chat mereka dari WA. Wibie menaikkan alis matanya sebelah saat melihat isi chat, mereka.
"Ternyata selama KKN, pria itu memang berusaha keras merayu istrinya," gerutuanya karena kesal.
Wibie buru-buru mengirimkan daftar kontak pak Gun ke HP-nya sendiri. Setelah ia save di nomer tersebut, buru-buru ia menghapus riwayat penerimaan di hpnya agar sewaktu-waktu Rey melihat isi ponselnya tidak mengetahui hal ini.
Untuk urusan hp, keduanya memang tidak memiliki privasi. Mereka terbuka satu sama lain. Wibie tahu password hp milik istrinya, begitu juga sebaliknya.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, kini la kembali lagi ke balkon. Ia harus menghubungi pria itu sekarang juga.
*****
"Selamat, sore. Saya Wibie, suami Reyna Anggra mahasiswa binaan bapak," Wibie segera memperkenalkan diri begitu Pak Gun mengangkat panggilan telponnya. Wibie perlu memperkenalkan diri karena agar orang tua itu segara tahu siapa yang menghubungi tanpa harus bertanya lebih dahulu.
"Halo," panggil Wibie karena cukup lama ia menunggu, tidak ada sahutan dari seberang. Ia yakin Pak Gun mendengar jelas apa yang dikatakannya tadi.
"Maaf, saya sudah mengganggu bapak, mungkin bapak sedang sibuk. Mohon waktunya sebentar karena ada sesuatu yang harus saya sampaikan," Wibie tetap bicara dengan sopan meskipun hatinya begitu kesal.
"Maaf Pak Wibie. Waktu itu saya khilaf. Saya benar-benar menyesal. Saya mohon sekali. Tolong cabut laporan bapak ke pihak kampus. Saya sangat membutuhkan pekerjaan itu," terdengar suara Pak Gun begitu bergetar. Ia mengucapkan kata-kata itu dengan terbata-bata.
Diluar dugaan, Pak Gun justru mengatakan hal yang tidak terpikirkan oleh Wibie sama sekali. Wibie cukup terkejut atas pengakuan pria itu, namun ia berusaha untuk tenang.
"Pak, saya mohon kebijaksanaan. Tolong bantu saya. Kita bisa membicarakan ini secara kekeluargaan. Bapak bisa lakukan apapun pada saya, asal jangan menghancurkan karir saya. Pekerjaan itu sumber penghidupan keluarga saya," ujarnya lagi dengan nada yang makin memeles.
"Hemm...," Wibie cukup bingung dengan arah pembicaraan orang ini. Namun ia bisa menduga, mungkin dosen bejat ini sudah mendapatkan sanksi atas perilaku atas laporan seseorang. Bisa saja orang tersebut sengaja mencatut namanya karena punya hubungan langsung dengan korban.
"Apa yang saya lakukan, semata-mata hanya untuk melindungi istri saya," jawab Wibie dengan tegas.
Ia tidak menyangkal apa yang diyakini oleh Pak Gun bahwa ia punya peran penting terhadap sanksi yang diterimanya saat ini. Namun Wibie juga tidak mau mengakui semua itu atas campur tangannya. Ia sengaja membuat suatu pernyataan yang itu menggantung.
"Saya mohon, Pak. Saya janji tidak akan menggangu istri anda lagi," Pak Gun memohon lagi dengan nada uang lebih memelas.
"Nanti akan saya pikirkan. Saya telpon anda hanya ingin minta alamat lengkap anda. Saya hubungi pihak kampus,katanya ansa sudah tidak bekerja lagi di sana," Wibie sengaja berbohong karena sudah membaca skenario yang terjadi.
"Maaf Pak, untuk keperluan apa?" tanya Pak Gun begitu hati-hati.
"Kuasa hukum saya akan mengirimkan somasi,"
"Pak, jangan begitu. Saya mohon bapak mempertimbangkannya lagi. Saya sudah kehilangan pekerjaan saya. Saya juga bersedia minta maaf pada bapak dan juga Rey, tolong jangan bawa masalah ini hingga ke ranah hukum,"
"Saya minta anda kooperatif. Saya akan bicarakan lagi dengan kuasa hukum saya mengenai permintaan anda," tegas Wibie. Sebenarnya ia cukup iba dengan Pak Gun yang sudah begitu merendahkan dirinya hanya untuk semuaa kata maaf. Gertakannya itu hanya untuk menakut-nakuti.
"Nanti saya kirim via WA. Tapi mohon dipertimbangkan lagi ya, Pak. Saya mohon,"
"Baiklah, saya tunggu niat baik bapak. Terimakasih," Wibie sudah tidak berkata-kata lagi. Ia segera menutup telponnya karena tidak sanggup meneruskan ke kebohongannya.
"Siapa yang melaporkannya?"
"Kenapa dia begitu yakin aku yang sudah membuatnya dipecat dari pekerjaannya? Drama macam apalagi ini? Aku saja baru tau kalau istriku diperlakukan tidak senonoh olehnya!"
Wibie semakin bingung. Niatnya menghubungi Pak Gun karena ia ingin membuat perhitungan dengannya, namun di luar dugaan justru ia yang mengemis-ngemis minta untuk damai.
"Kok bisa begini, ya?"
Entah sudah berapa kali Wibie mondar-mandir di balkon itu. Sungguh begitu heran atas fakta yang baru saja di dengarnya dari Pak Gun.
"Siapa orang yang melaporkannya ke kampus atas namaku. Apa tujuannya?" Lanjut Wibie yang tak habis pikir.
Entah ini berita yang membuatnya bahagia atau sebaliknya, Wibie masih kurang yakin. Numun untuk sementara waktu ia bisa sedikit lega, Pak Gun sudah tidak ada di kampus itu lagi. Jadi, istrinya bisa melanjutkan kuliah dengan tenang.
*******