Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
Usulan Mutasi


Pihak perusahaan tidak tinggal diam atas penyerangan warga terhadap salah satu karyawannya. Apalagi posisi Wibie di perusahaan itu sudah cukup diperhitungkan. Akhirnya pihak perusahaan memutuskan untuk memuat laporan polisi.


Dari penyelidikan dan keterangan beberapa saksi, juga pesan WA yang dikirim oleh nomer yang tidak dikenal, akhirnya polisi menyimpulkan bahwa penyerangan itu adalah tindak kriminal yang sudah direncanakan.


Polisi berhasil mengungkap identitas pemilik nomer ponsel yang pernah mengirim peringatan kepada Wibie. Ternyata orang itu adalah salah satu karyawan Aldy yang mengetahui rencana bosnya untuk menghabisi nyawa Wibie.


Aldy tidak bisa mengelak, berdasar pengembangan penyelidikan dan keterangan beberapa saksi di TKP menyebutkan bahwa orang yang melakukan penyerangan itu atas perintahnya.


Akhirnya Aldy ditetapkan sebagai tersangka dengan pasal 351 dan pasal 170 dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.


Meski kuasa hukum Aldy sudah minta maaf secara pribadi kepada Wibie dan pihak perusahaan sebagai pelapor agar menutup perkara ini dan minta damai, namun pihak perusahaan tetap meneruskan kasus itu hingga tuntas agar menimbulkan efek jera kepada warga setempat yang sering terprovokasi untuk membuat keributan dengan warga pendatang.


Wibie tidak memberitahu keluarga Rey tentang penyerangan ini. Ia khawatir Ayah akan mengalahkan ibu sebagai akar permasalahannya pada Aldy. Jika ibu memberi uang yang diminta Aldy sebagai ganti rugi, bisa saja peristiwa ini tidak akan terjadi.


Aldy tipe laki-laki yang begitu perhitungan dalam hal uang. Wibie yakin, kemarahan terbesarnya bukan karena dia kehilangan Rey tapi lebih pada kebohongan ibu yang selalu menjanjikan akan membawa Rey padanya. Setelah hal itu tidak terbukti, ibu lagi-lagi berbohong dengan menunda-nunda mengembalikan apa saja yang sudah diberikan Aldy pada ibu juga ganti rugi yang dimintanya.


"Pelit sekali manusia itu. Pengen pacaran tapi begitu ga jadi semua barang yang keluar minta dikembalikan," pikir Wibie begitu heran.


Namun karena kejadian ini juga menyeret ibu, meskipun Wibie tidak memberitahu keluarga Rey pada akhirnya ibu juga tahu.


Ibu juga termasuk salah satu saksi yang dimintai keterangannya oleh pihak polisi untuk mengetahui motif pengeroyokan itu. Dari sini ia baru tahu bahwa menatunya tengah meregang nyawa di rumah sakit.


"Maafkan ibu, Nak. Ibu tidak menduga Aldy senekad ini," ujar ibu dengan penuh penyesalan saat ia mengunjungi Wibie di ruang perawatan siang itu.


Ibu menyempatkan datang ke rumah sakit begitu selesai dimintai keterangan oleh polisi. Wajahnya masih diliputi ketakutan yang amat sangat. Ia takut jika Aldy juga akan memperkarakannya.


"Sudahlah, Bu. Semua sudah terjadi. Tidak ada yang perlu disesali,"


"Kenapa tidak memberitahu kami? Apa kau marah pada ibu?" tanya ibu karena sudah empat hari mantunya itu di rawat tapi tidak memberitahunya.


"Saya takut Ayah khawatir. Ibu tahu dari mana kalau aku di sini?" tanya Wibie balik


"Tadi ibu dari kantor polisi. Ibu dimintai keterangan oleh penyidik," sahut ibu dengan nada sedih.


Wibie diam. Ruangan begitu menjadi hening. Pak Eko meninggalkan Wibie ketika Bu Laura memasuki ruang perawatan itu.


"Apa ibu bisa terseret ke penjara?" tanya ibu lagi. Kali ini dengan nada yang mulai terisak.


"Wibie tidak tahu, Bu. Yang membuat laporan kan perusahaan. Siapa-siapa yang dimintai menjadi saksi dan yang akan menjadi tersangka tergantung dari hasil penyelidikan," jelas Wibie.


Ia tahu, jika status ibu tidak akan naik jadi tersangka. Karena yang menjadi motif dari pelaporan adalah kasus pengeroyokan bukan penipuan. Namun Wibie ingin memberi sanksi moral kepada ibu mertuanya ini agar ia mau berubah.


"Semoga dengan adanya kasus ini, sikap ibu bisa berubah," bathinnya dalam hati.


"Apa kau tidak bisa membantu ibu, Nak?"


"Bagaimana aku bisa membantu ibu dalam kondisi seperti ini. Yang aku pikirkan saat ini bagaimana aku bisa pulang dan menemui keluargaku. Kasihan Rey, Bu! Dalam kondisinya yang hamil tua, harus melihat suaminya yang sekarat?"


"Maafkan ibu. Semua ini gara-gara ibu, Nak,"


"Aku mohon ibu merahasiakan ini dari Rey. Aku tidak mau dia tahu,"


Ibu hanya bisa sesugukan. Ia tak kuasa menahan tangisnya. Entah karena menyadari kesalahannya atau karena ketakutannya pada jeruji besi.


Cukup lama ibu di rumah sakit, bahkan ia sempat menyuapi makan siang untuk menantunya. Ibu juga mengantikan Pak Eko yang izin pulang sebentar untuk mengganti pakaiannya.


Saat Wibie tertidur karena pengaruh obat yang diminumnya setelah makan siang, wanita itu tetap berada di ruang itu.


Menjelang sore, saat ibu sudah pamit dari ruang inap, Wibie menerima kunjungan dari rekan-rekan kerjanya. Mereka mewakili berbagai devisi yang belum sempat menjenguknya pada hari-hari sebelumnya.


Dalam rombongan yang terdiri dari 12 orang itu, turut serta juga Pak Burhan selaku kepala SDM di perusahaan pertambangan tempatnya bekerja. Pria yang berusia sekitar 45 tahun itu membawa kabar gembira untuk Wibie.


"Kami ikut prihatin atas kejadian yang menimpa bapak. Setelah sekian lama, kejadian serupa terulang lagi," ujar Pak Burhan.


"Pernah ada pengeroyokan serupa oleh warga, Pak?" tanya salah satu karyawan yang ada di ruang itu.


"Pernah, sudah cukup lama. Oleh warga dusun itu juga," jelas pria itu lagi.


"Bahaya juga ya jika sempat bersengketa dengan warga sana. Salah-salah kita bisa jadi korban amukan massa," seru yang lain


"Iya, penduduk sangat gampang terprovokasi. Mungkin karena pada dasarnya mereka kecewa, banyak pemuda yang melamar pekerjaan di tempat kita dengan berat hati tidak semuanya bisa terjaring. SDM mereka tidak sesuai dengan kebutuhan lapangan," jelas Pak Burhan lagi.


"Pak Wibie, kami dari pihak perusahaan menganggap ini kecelakaan kerja. Karena peristiwa itu terjadi saat bapak masih berada di lingkungan kita. Untuk itu, demi keselamatan bapak, pihak perusahaan mempertimbangkan kembali usulan bapak beberapa bulan yang lalu,"


"Usulan yang mana, Pak? tanya Wibie bingung.


"Wah, sepertinya bapak lupa atau gara-gara pukulan yang cukup keras memorinya jadi terganggu?" canda Pak Burhan.


Wibie tersenyum tipis sembari mencoba mengingat-ingat apa maksud ucapan atasannya itu. Tak lama ia tersenyum pada pria itu.


"Dipertimbangkan dalam arti disetujui, maksudnya?" seru Wibie girang


"Demi keamanan dan keselamatan Pak Wibie, untuk sementara memang bapak harus menjauhi lokasi ini dulu. Jadi berdasarkan pertimbangan yang matang kami mengambil kebijakan, usulan anda di setujui,"


"Alhamdulillah, terima kasih Pak. Ngomong-ngomong apa lokasi yang baru sesuai dengan permintaan?"


"Insya Allah. Kebetulan ada yang mau roling menggantikan Pak Wibie di sini,"


Tak henti-hentinya Wibie mengucap syukur karena permohonan mutasinya ke daerah Bogor disetujui oleh atasannya.


Melihat kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah Wibie, teman-teman yang ada diruang itu juga ikut senang.


"Jangan buru-buru ke tempat yang baru, Pak. Yang penting sembuh dulu," canda Pak Burhan lagi. Semua yang ikut tertawa mendengar ucapan itu.


"Besok gift yang dikaki sudah bisa dilepas dan saya juga sudah diizinkan pulang. Saya ingin istirahat di rumah saja sembari menemani istri saya. Ia sedang hamil tua saat ini," jelas Wibie.


"Bisa diatur. Biar Pak Eko yang urus semuanya. Surat-surat mutasinya bisa diurus belakangan. Bapak masih dikasih cuti untuk pemulihan. Setelah benar-benar sehat dan bisa jalan kembali baru bisa bergabung ke tempat tugas yang baru,"


"Terimakasih atas bantuan dan pengertiannya pak. Saya sudah tidak sabar ingin turun dari tempat tidur ini!"


Setelah empat hari dirawat, kondisi Wibie memang sudah jauh lebih baik. Kedua kakinya sudah bisa digerak-gerakan, nyerinya juga susah mulai hilang. Patah tulang yang dialaminya memang tidak begitu parah, namun cukup membuatnya deg-degan sebelum Wibie dapat memastikan kedua kaki itu bisa digunakan sebagai mana mestinya.


Hanya saja tulang lehernya masih butuh waktu untuk bisa kembali normal. Berdasarkan hasil scan, leher adalah bagian yang paling parah. Wibie harus bersabar, ia harus menggunakan penyanggah leher dalam waktu yang cukup lama.