
"Rey,"
Sebuah chat masuk, dari Wibie.
Seketika itu Rey membalas pesan.
"Ya,"
"Bantu doa ya,"
"Emang ada apa?" tanya Rey
"Kan aku mau nemui calon mertua," balas Wibie lagi.
Emoticon love..love....menyertai pesan itu.
"Baiklah, aku akan mendoakanmu, calon imanku," jawab Rey dengan candaan. Disertai emoticon menutup mulut.
"Aamiin. Usai magrib aku berangkat. Aku sudah siap-siap sejak tadi," ujar Wibie lagi.
"Sukses ya. Semoga ibu sudah tidak marah padaku,"
"Aamiin," balas Wibie
"Rey,"
"Iya,"
"Kangen.....," pesan Wibie disertai emoticon menangis.
"Dih, baru juga 2 hari kerja,"
Tak ada balasan. Wibie hanya mengirim emoticon menangis lagi.
"Udah ya. Sudah adzan. Selamat berjuang,"
Rey menutup pembicaraan dengan memberi semangat.
Pesan centang dua dan berwarna biru. Tidak ada balasan dari Wibie.
Rey meletakkan kembali HP-nya di atas nakas, disamping kasur Devara. Sejak Wibie pergi, Rey tidur bersama anak gadis itu.
********
Sesuai janjiku pada Rey, malam ini aku akan menemui kedua orang tuanya. Meminta secara resmi pada mereka jika aku ingin menikahi putrinya.
Aku sudah mempersiapkan kata-kata yang sekiranya bisa melindungi Rey dari kemarahan mereka dan bisa membuat mereka mau menerimaku sebagai calon menantunya.
Aku sendirian saja, mengingat ibu yang tidak bisa meninggalkan Witha. Aku juga tidak punya keluarga di Sumatera.
Anggap saja ini sebagai perkenalan. Jika mereka merasa keberatan atas lamaran yang aku utarakan sendiri, aku akan menyiapkan pasukan. Yang penting, apapun aku lakukan demi terselenggaranya akad nikah yang sudah kami rencanakan.
Aku memarkirkan mobil dinasku tepat di depan pintu rumah Rey. Rumah yang cukup besar, bercat biru dan terletak di pinggir jalan raya.
Anak laki-laki yang berusia sekitar 13 tahun keluar begitu mendengar suara mobil masuk pekarangannya yang tidak berpagar. Ia berdiri di depan pintu, pandangannya tertuju pada mobil yang sedang aku parkirkan.
"Ini pasti, Doni" bisik Wibie dalam hati.
Menurut Rey, adiknya memang sekitar segitu usianya. Sekilas wajahnya juga mirip dengan kakaknya.
Anak itu mengamatiku. Pandangannya tak lepas sedikitpun mulai aku masuk pekarangan rumahnya, hingga aku turun dan melangkah ke arahnya.
"Assalamualaikum. Doni, kan?" tebak Wibie dengan ramah.
"Iya, Kak. Maaf, kakak mau ketemu siapa?" Jawabnya ramah dan balik bertanya pada tamunya itu. Tatapannya masih menyapu Wibie mulai dari ujung kepala hingga kaki.
Selang beberapa detik saja, muncul perempuan yang mengenakan daster dengan rambut yang diikat sekenanya.
"Ini pasti calon ibu mertuaku," tebak Wibie lagi.
Wibie segera mengembangkan senyumnya dan memberi salam padanya.
"Ada apa, ya?" tanya perempuan itu. Pandangan yang sama dengan anak laki-laki yang ada di sampingnya. Ia juga menyapu seluruh penampilanku.
"Maaf, Bu. Saya Wibie. Pelanggan loundry yang tinggal di mess 105. Ada yang perlu saya bicarakan pada ibu dan bapak," Wibie memberikan penjelasan awal.
Masih dengan mimik muka yang penuh tanda tanya, perempuan itu mempersilahkan Wibie masuk.
Setelah mempersilahkan Wibie duduk, perempuan itu masuk ke kamar. Tak lama ia mendorong seorang pria yang duduk di kursi rodanya.
Wibie beranjak dari tempat duduknya, langsung menghampiri pria itu dan memberi salam. Dengan sangat sopan iya mencium telapak tangan pria yang masih terlihat tampan itu.
Kami duduk di kursi tamu yang menghadap langsung ke arah ruang keluarga.
"Maaf saya mengganggu waktu istirahat bapak. Saya ke sini ada sesuatu yang perlu saya sampaikan pada kalian," Wibie membuka pembicaraan.
"Mengenai apa, ya?" tanya ayah Rey dengan nada penasaran.
"Ini mengenai Rey," sahut Wibie. Ia diam sejenak, melihat reaksi kedua orang itu. Doni dan kakaknya yang duduk di depan tv seketika menengok ke arahku mendengar aku menyebut nama Rey.
"Ada apa dengan anakku?" tanya laki-laki itu. Kali ini dengan nada yang begitu khawatir.
Sebaliknya, ibu terlihat biasa-biasa saja. Tak ada reaksi apapun. Sepertinya ia masih begitu kesal pada putrinya itu.
"Saat ini Rey bekerja pada saya. Kebetulan saya punya usaha konveksi di Jakarta. Dia tinggal di ruko sekaligus kantor tempatnya bekerja,"
Seketika itu juga, ibu Rey langsung mendelik. Penyataan Wibie kali ini membuat keduanya kaget.
"Bagaimana bisa dia bertemu denganmu. Bibinya di Kemayoran bilang Rey ada di Jakarta dan hanya mampir sebentar di rumahnya. Ia bilang anak itu ikut kerja dengan temannya dan tidak meninggalkan alamat," kali ini ibu yang angkat bicara.
"Iya, Bu. Maafkan saya. Saya baru memberitahu sekarang. Aku dan Rey sudah kenal lama ketika ia sering mengambil loundry di mess. Ia sering cerita tentang keinginannya bekerja dan kuliah di Jakarta,"
"Jadi anda yang membawa lari anak saya," serang ibu dengan nada yang mulai tinggi.
Sudah hampir 3 bulan ini dia membantu saya," jelas Wibie dengan hati-hati. Dalam hati ia minta maaf pada Rey karena tidak mengatakan hal yang sebenarnya.
"Kenapa anda baru datang sekarang. Kami begitu panik mencari anak itu. Kau diam-diam menyembunyikannya," ujar ibu dengan sengit.
"Saya tidak tahu kalau Rey kabur dari rumah," sahut Wibie berbohong.
"Sudah, Bu. Nak Wibie sudah punya niat baik dengan memberitahu pada kita. Mungkin dia punya alasan kenapa baru bisa memberitahukan sekarang," Ayah berusaha menengahi. Ia begitu takut jika istrinya lepas kendali.
"Rey minta untuk sementara tidak memberitahu keluarganya. Saya juga kurang faham alasannya. Maaf jika bapak dan ibu merasa tidak dihargai," Wibie berusaha bicara selembut mungkin agar amarah ibu tidak meledak.
"Saya minta maaf. Saya tidak bermaksud menyembunyikan Rey. Saat ini Rey baik-baik saja bahkan ia sudah mulai kuliah," lanjut Wibie. Penjelasan itu seketika membuat ayah Rey menjadi gembira.
"Benarkah? Syukurlah kalau dia baik-baik saja. Terimakasih, Nak. Anda sudah membantu anak saya," ujar pria itu begitu bahagia.
Sikap ibu masih dingin. Apapun yang dikatakan Wibie tentang keadaan putrinya di luar sana tidak membuatnya mengembangkan senyum sedikitpun.
Hening!
"Pak, Bu. Niat saya datang ke sini sekaligus ingin meminta izin kepada kalian. Saya ingin menikah dengan Rey,"
Seketika itu juga ayah bangkit dari kursi rodanya. Pandangannya nanar ke arah Wibie. Ibu segera bangkit dari tempat duduknya , menangkap tubuh ayah dan memintanya duduk dengan tenang.
Ibu juga tak kalah kagetnya dengan ayah. Ia semakin mendelik menatapnya, namun ibu berusaha tenang melihat reaksi suaminya yang ikut begitu kaget oleh permintaan tamunya ini.
"Apa yang sudah kau lakukan pada anakku?" tanya ayah dengan lirih. Kini ia sudah terlihat tenang kembali.
"Tidak...tidak ada apa-apa. Semua baik-baik saja. Maaf jika saya sudah membuat bapak dan ibu berprasangka yang bukan-bukan. Sekali lagi saya tegaskan, Rey baik-baik saja. Saya memperlakukan dia sebagai karyawan saya, tidak lebih dari itu," jelas Wibie terburu-buru karena ia melihat reaksi ayah Rey yang semakin panik.
"Jujur saja. Saya duda beranak satu. Saat ini putri saya sudah berusia hampir 4 tahun. Kecuali ibu dan adik perempuan saya, tidak ada lagi keluarga yang saya miliki.
Sejak kecil, ibu yang merawat anakku. Kini ibu saya ada di Surabaya karena adik perempuan saya akan melahirkan. Karena kami tinggal di kota yang berbeda, sangat memberatkan ibu untuk mengawasi cucu dan anaknya. Untuk itu aku memutuskan untuk menikah lagi. Kebetulan Rey sudah cukup dekat dengan anakku dan juga keluargaku,"
"Aku juga menginginkan Rey bisa menjadi ibu sambung untuk anakku. Ketika aku bertugas di sini anakku ada yang mengawasi," tambah Wibie lagi
Hening....
Ayah masih terkejut dengan kabar yang bertubi-tubi tentang putrinya. Melihat keseriusan Wibie pada putrinya, kemarahannya segera reda.
Wajahnya pria yang berusia sekitar 45 tahun itu begitu tenang. Terlihat ia sedang memikirkan sesuatu.
"Apa boleh, ayah bicara sama Rey," pinta pada Wibie setelah beberapa saat dia diam.
"Boleh..boleh sekali," sahut Wibie dengan semangatnya. Ia segera merogoh hp yang ada di saku kemejanya, menekan tombol dan terdengar nada panggil.
"Halo," terdengar suara dari seberang
"Rey, Ayah mau bicara. Dia kangen denganmu. VC aja ya" ucap Wibie.
Lama tak ada sahutan. Namun hubugan telpon itu tetap tersambung.
"Aku sudah bicara sama Ayah dan Ibu. Ayolah, mereka sudah memaafkanmu," bujuk Wibie lagi
"Iya," terdengar suara Rey yang begitu singkat.
Tampilan layar HP dialihkan menjadi VC. Wajah Rey terlihat jelas di seberang sana. Wibie menyerahkan hp itu pada ayah Rey
Cukup lama anak dan ayah itu melepaskan kerinduan. Sesekali ibu juga ngintip-ngintip layar ponsel Wibie. Mungkin ia juga penasaran dengan keadaan putrinya itu.
Tak lama, hubungan telpon diakhiri. Kedua orang tua Rey terlihat gembira setelah mengetahui keadaan anaknya baik-baik saja.
"Rey terlihat begitu bahagia," Ayah membuka pembicaraan lagi.
"Iya, Pak. Dia sangat menikmati pekerjaannya. Apalagi sejak mulai kuliah, ia semakin bersemangat menjalani aktivitasnya" tambah Wibie.
"Jika Rey sudah memilihmu sebagai pendamping hidupnya, Ayah setuju saja, Nak. Ayah titip dia. Jaga dia baik-baik," sambung Ayah lagi
"Tunggu!" Ibu segera memotong pembicaraan mereka.
"Apa ayah lupa, Rey sudah bertunangan dengan Aldy. Bagaimana kita menjelaskan pada anak itu jika Rey tiba-tiba menikah," sanggah ibu.
Dalam hati, ibu tidak menolak jika Wibie menikahi anaknya. Melihat Rey yang sudah hidup senang dan interior rumah yang ditinggali (terlihat saat VC) kelihatan megah, timbul sifat matre ibu seketika.
Ayah terperangah mendengar ibu mengungkit lagi masalah Aldy. Begitu juga Wibie.
"Sudahlah Bu. Urusan Aldy bisa kita bicarakan nanti," ayah berusaha mencairkan suasana
"Tidak bisa begitu, Yah. Ibu senang jika Rey menemukan jodohnya, tapi bagaimana dengan pertanggungjawaban kita sama Aldy," tiba-tiba ibu terisak. Nada suaranya menjadi parau seketika.
Ibu memberikan penjelasan singkat tentang Aldy karena Wibie pura-pura kaget mendengar nama itu menjadi topik yang ikut dibahas dalam pembicaraan mereka.
"Aldy sudah begitu baik pada Rey dan keluarga ini. Ia juga memberikan barang-barang mewah pada Rey sebagai bukti bahwa ia begitu serius pada putriku. Tapi anak itu memang tidak tau diri. Setelah Aldy banyak berkorban padanya, tiba-tiba ia kabur. Padahal hari pernikahan sudah kian dekat," cerita ibu dengan sedih.
Ayah menatap istrinya itu lekat-lekat. Ingin sekali ia protes. Apa yang dikatakan justru kebalikannya. Bahkan ayah tidak ingin mendengar nama Aldy terucap lagi di rumah ini.
Melihat ayah yang menatapnya sedemikian, ibu menginjak kaki ayah. Memberi kode agar jangan ikut campur dengar urusannya kali ini.
"Sejak Rey kabur, Aldy begitu murka. Ia meminta kembali barang-barang yang sudah diberikan pada Rey dan keluarga ini. Ibu sedih, Nak. Aldy mengirimkan jumlah tagihan sebesar 20juta dan minta untuk dikembalikan secepatnya jika Rey tidak segera kembali,"
"Bu," Ayah berusaha memotong pembicaraan ibu. Namun wanita itu bisa segera mencegahnya.
"Ga usah ditutup-tutupi, Yah. Memang begitu keadaannya. Coba pikir, darimana kita akan membayar tagihan itu," lanjut ibu. Kali ini tangisnya nyaris pecah.
"Ibu ga usah khawatir soal itu. Karena Rey akan menikah denganku, biar aku yang menyelesaikan semua hal yang disebabkan oleh kesalahannya itu," Wibie segera menenangkan calon ibu mertuanya itu agar tangisnya tak menjadi.
"Benarkah, Nak. Uang segitu kan banyak?"
"Aku akan membayar lunas pada Aldy agar dia tidak menggangu keluarga ini lagi," sahut Wibie dengan tegas.
Ibu menjadi sumringah seketika. Ternyata calon mantunya ini memang tajir sesuai dugaannya.