
Malam harinya kini Vino dan Rayna pergi ke pasar malam. Ya ini adalah permintaan Rayna, karena ia sudah lama tak mengunjungi tempat ini.
"Kakak kok tumben ngajak jalan malem gini?" tanya Rayna sambil menikmati gulali nya.
"Kakak akan pergi ke Paris besok" jawab Vino menghela nafas panjang.
"K-kok dadakan?" tanya Rayna dengan nada lirih.
"Maaf sayang, tapi perusahaan disana sedikit bermasalah, dan papa gak bisa kesana" Ucap Vino menyelipkan anak rambut Rayna kebelakang telinga.
Entah kenapa ada rasa tidak rela jika membiarkan Vino pergi dari sisinya. Rayna berusaha untuk tetap tenang dan bersikap biasa, namun itu sangat sulit untuk dia lakukan. Biarlah para readers menganggapnya lebay, namun Rayna memang tak bisa jauh jauh dari Vino.
"Kakak lama disana?" tanya Rayna sendu.
"Cuma 3 hari kok. Kakak bakal usahain cepat cepat nyelesain pekerjaan, biar bisa balik cepet" jawab Vino.
"Janji yah 3 hari" ucap Rayna menunjukkan kelingkingnya.
"Iya janji" ucap Vino menautkan kelingkingnya.
"Udah gak usah sedih, nanti cantiknya ilang loh" bujuk Vino.
"Gombal!"
****
Sementara ditempat lain, tepatnya di bioskop kini Naira cs sedang menonton bersama kekasihnya dan juga sahabatnya. Niat awal ingin menonton film romantis, tapi berujung film horor karena permintaan Naira.
"Mana sih hantunya? kok daritadi gak keliatan?" tanya Naira yang tak sabaran.
"Nanti hantunya muncul di belakang lo, baru tau rasa!" celutuk Lucy.
"Ih kenapa gak dikunci sih pintunya" geram Salsa pada filmnya.
"Tuh kan arwah arwah serem mulai muncul" sahut Naira.
Sementara Dea hanya diam, ia daritadi mati matian menahan rasa takutnya. Memang diantara mereka Dea lah yang tak berani menonton horor.
"Hihihihihihihihi..... " Tawa seorang kuntilanak memenuhi ruangan tersebut.
"Aaaa!!!" pekik Dea reflek memeluk Chiko yang berada di sampingnya.
"Ya ampun tuh setan serem juga yah" gumam Dea tanpa melepaskan pelukannya.
"Hah? kok gue meluk elo sih!" Ucap Dea langsung melepaskan pelukannya.
Pletak.
"Aww... sakit tau!" kesal Dea mengusap jidatnya yang kena sentilan dari Chiko.
"Lo amnesia atau apa sih?" tanya Chiko.
"Sialan lo ngatain gue amnesiaamnesia! Memory gue masih utuh disini" jawab Dea menujuk kepalanya.
"Gue heran apa serunya nonton horor kaya gini?" lanjut Dea memakan pop corn nya.
"Elah bilang aja lo takut" ucap Chiko.
"Gue gak takut yah, cuma sedikit ngeri aja. Tuh kunti udah mirip banget sama lo" ralat Dea dan sedetik kemudian ia bergedik ngeri membayangkan Chiko adalah kunti disampingnya.
"Gak ada kunti seganteng gue!" ucap Chiko percaya diri.
"Dihh narsis banget jadi orang!" cetus Dea.
"Kalian daritadi ngomongin apa sih?" tanya Lucy yang mulai keppo dengan pembicaraan dua orang di sampingnya.
"Gak ada!" jawab mereka serempak.
"Hayoo jangan jangan kalian pacaran diam diam" tuduh Leon.
"Dih ogah gue sama tiang listrik kaya dia!" ketus Dea.
"Heh kutu kupret! gue juga ogah pacaran sama lo!" jawab Chiko tak kalah ketus.
"Hati hati loh kalian, nanti saling benci jadi saling cinta" Sahut Lucy tersenyum penuh arti.
"Ogah!!" jawab keduanya berbarengan.
"Tuh kan kompak banget" celutuk Leon.
"OMG lele gue bilangin yah sama lo. Gak usah jodoh jodohin gue sama dia! yang bertugas ngatur jodoh gue itu cuma Allah dan author. Apalagi lo mau jodohin gue sama tiang listrik oleng kaya dia!" Cerocos Dea mencibir.
"Enak aja lo ngatain gue tiang listrik oleng, lo tuh kutu kupret yang super cerewet!" Balas Chiko tak Terima dengan julukan Dea.