Sahabat Somplak Mencari Jodoh

Sahabat Somplak Mencari Jodoh
Koma


Setelah mendapatkan kabar bahwa Naira kecelakaan, saat itu juga para sahabatnya langsung tancap gas menuju rumah sakit, tak lupa juga diikuti Miko disana.


"Duh kok bisa sih Naira kecelakaan? Gimana ceritanya coba?" Tanya Lucy gelagapan.


"Tadi pas pulang Naira baik baik aja" sambung Rayna yang juga ikut khawatir.


"Naira sih kalau lagi buru-buru jalanan kaya punya dia. Kan jadi gini" sahut Salsa yang sudah sangat tau kebiasaan Naira.


"Mik, Lo gak khawatir sama Naira?" Tanya Dea yang melihat Miko duduk tenang, tapi sangat terlihat rasa khawatirnya.


"Gue juga khawatir sama kaya kalian. Gue cuma berharap Naira bisa sembuh" ucap Miko yang fokus menyetir.


20 menit kemudian mereka sampai di rumah sakit Melati. Mereka langsung menuju resepsionis.


"Maaf mba, pasien atas nama Naira Ulansary diruangan mana ya?" Tanya Rayna pada resepsionis.


"Pasien atas nama Naira Ulansary baru saja dipindahkan ke ruang ICU" jawab resepsionis itu membuat mereka langsung menuju ruang ICU, tak lupa juga mengucapkan terimakasih.


"Tan, gimana keadaan Naira?" Tanya Miko saat telah sampai didepan ruang ICU.


"Naira koma Mik, dia butuh banyak donor darah. Tapi kita tidak ada yang cocok disini" ucap mama Indri sedih mengingat saat dokter mengatakan bahwa Naira mengalami koma dan harus segera mendapatkan donor darah.


"Golongan darah Naira apa Tan?" Tanya Miko.


"AB" jawab mama Indri.


"Ambil saja darah saya tan, saya juga golongan darahnya AB" ucap Miko.


"Kamu serius?" Tanya papa Nevan.


"Serius om, ambil saja darah saya" ucap Miko.


"Baiklah, ayo ikut Tante menemui dokter" ucap mama Indri mengajak Miko menuju ruangan dokter untuk mendonorkan darah.


"Om, gimana Naira bisa kecelakaan?" Tanya Salsa.


"Om juga gak tau Sa, tapi kami tiba tiba mendapatkan telpon dari polisi bahwa Naira kecelakaan dan mobilnya masuk kedalam jurang" lirih papa Nevan.


"Ya Allah Naira, semoga Lo cepat sembuh" lirih Lucy terkejut mendengar kabar itu.


Sedangkan Vino hanya duduk termenung disana, dengan pandangan mata kosong dan rambut yang sudah acak-acakan. Pikirannya sangat kacau saat ini.Terlihat jelas saat ini bahwa Vino sedang sangat menghawatirkan adiknya.


"Iya kak, kakak harus kuat. Ini ujian buat Naira. Kita akan terus berdoa supaya Naira cepat sadar dan sembuh" lanjut Rayna.


"Kak, kakak tau kan bahwa Naira itu anak yang kuat, dia pasti bisa melawan penyakitnya" ucap Salsa memberi semangat.


"Makasih ya kalian memang sahabat terbaik buat Naira" ucap Vino memandang keempat gadis didepannya ini.


"Itulah tugas kami kak" jawab Lucy.


Mama Indri dan Miko telah kembali.


"Jadi bagaimana?" Tanya papa Nevan penasaran.


"Alhamdulillah darah Miko cocok buat Naira. Dan dokter akan segera menyembuhkan Naira secepat mungkin" jelas mama Indri.


"Nak Miko, makasih ya" ucap papa Nevan menepuk pundak Miko.


"Sama sama om" jawab Miko.


Tak berapa lama dokter keluar dari ruangan itu.


"Dok bagaimana keadaan anak saya?" Tanya mama Indri antusias.


"Kondisi pasien sudah lebih baik dari sebelumnya, tapi kami belum bisa memastikan kapan pasien akan sadar" jawab sang dokter.


"Boleh kami masuk dok?" Tanya mama Indri.


"Silahkan Bu, tapi cuma dua orang saja" ucap dokter itu mempersilahkan.


"Baik dok terimakasih" ucap mama Indri dan melangkah masuk bersama papa Nevan.


Dilihatnya Naira tengah terbaring lemah tak berdaya, dengan beberapa kabel yang terpasang rapi ditubuhnya, dan perban yang mengelilingi kepala putrinya.


Mama Indri tak kuasa menahan tangisnya, air mata lolos begitu saja dari pelupuk matanya. Melihat keadaan sang putri tercinta tengah terbaring tak berdaya.


"Nak cepatlah sadar" lirih mama Indri mengusap pipi putrinya.


"Sayang, bangun nak, kami semua menunggumu" Gumam papa Nevan yang sangat terpuruk melihat keadaan putrinya.