
Mendapatkan telpon dari Rayna saat itu juga Vino bergegas keluar ruangannya, ia tak ingin kekasihnya menunggu terlalu lama disana.
"Batalkan meeting siang ini" Ucap Vino pada asistennya. Setelah itu ia menuju keluar tanpa menunggu jawaban dari asistennya.
"Pak Vino kayanya buru buru" Gumam sang asisten Vino melihat majikannya tergesa-gesa seperti itu.
***
"Kakak dari mana sih? Kok lama banget" Ucap Rayna cemberut saat Vino sudah tiba disekolahnya.
Jangan tanyakan kenapa Vino bisa bebas keluar masuk sekolah ini, tentu saja kepala sekolah ini adalah sahabat baik papa Nevan yang tak lain adalah papanya sendiri. Tentu saja itu memudahkan Vino untuk menjenguk kekasihnya.
"Iya... Sayang maaf membuatmu menunggu lama" Ucap Vino mengelus lembut rambut Rayna.
"Udah ayok ke kantin, aku udah laper" Ajak Rayna mengandeng tangan Vino menuju kantin sekolah.
Banyak siswa-siswi yang terkagum kagum akan ketampanan seorang Vino Prasetya, meskipun Vino sudah sering kesini. Namun tetap saja mereka seolah tak bosan memandang wajah tampan Vino. Sedangkan yang jadi objek hanya menampilkan muka datarnya, ia tak peduli dengan bisik bisik para murid yang mengagumi ketampanannya.
"Nah yang ditunggu tunggu udah dateng" Sahut Naira.
"Dari mana aja sih kalian? Lama banget" Protes Salsa.
"Yeee suka suka" Ucap Rayna tak peduli dan langsung duduk disebelah Vino.
"Mau makan apa hem?" Tanya Vino lembut.
"Samain aja kaya kakak".
*****
Setelah Sepulang sekolah Dea memutuskan untuk berbelanja di mall, itu juga untuk mengusir kebosanannya.
Setelah dirasa puas mengelilingi mall, kini waktunya Dea untuk mengisi perutnya yang sedari tadi sudah berdemo.
"Udah semua deh kayanya" Gumam Dea berjalan sambil melihat lihat isi paper bag di tangannya.
Brukkk.
"Awww... setannn!" Pekik Dea saat tiba tiba bertabrakan dengan seseorang yang membuatnya terjatuh karena tidak bisa menyeimbangkan diri.
"Heh kalau jalan tuh liat liat dong gak liat apa—"
"Lah tiang listrik ternyata lo!" Kekesalan Dea semakin bertambah kala mengetahui bahwa Chiko lah yang menabraknya.
"Makanya jalan pake mata!" Sungut Chiko juga kesal.
"Serah lo deh!" Chiko memilih mengalah.
"Lah lo malah diem aja disana, bukan bantuin kek atau apa, malah berdiri kaya patung hidup didepan gue!" Pekik Dea karena Chiko sama sekali tak ada niatan untuk membantunya.
Dengan mulut yang sudah menggerutu Chiko pun membantu Dea berdiri dan mengambil paper bag yang berserakan tadi.
"Duhh sakit banget ****** gue" Ringis Dea karena ****** nya berciuman mesra dengan lantai.
"Gara gara lo sih, duh nanti pulang pasti makin sakit. Gimana kalau gue gak bisa jalan?" Cerocos Dea pada Chiko yang sama sekali tak mendengarkan ocehan Dea. Bukan tidak mendengarkan sih hanya saja Chiko menulikan telinganya agar tak mendengarkan ocehan Dea yang tidak berfaedah.
"Udah selesai bicaranya?" Tanya Chiko saat Dea berhenti bersuara.
"Udah!" Ketus Dea.
"Karena hari ini lo udah bikin gue jatuh, jadi lo harus tanggung jawab" Sambung Dea.
"Tanggung jawab apaan?"
"Lo traktir gue makan" Jawab Dea santai.
"Elah kenapa lo suka banget sih minta makan sama gue, emang gue emak lo!"
"Itu juga bentuk tanggung jawab lo karena udah bikin bidadari secantik gue jatuh sampe nih ****** ciuman sama lantai" Sungut Dea kesal.
"Haiss banyak banget alasan lo kalau lagi kelaperan!"
"Udah, lo ikhlas gak?"
"Iya... Iya... IKHLAS, puas!".
.
.
.
.
.
Hallo para readers yang unyu² dan cantik² apa kabar semuanya? pasti pada sehat sehat kan😊 Author ingin mengucapkan minal aidin walfaidzin mohon maaf lahir batin ya semuanya🥰🙏 Semoga kalian selalu setia membaca cerita abal abal author 😅 Selamat lebaran cemuanya lope lope sekebon cabe 🥰🥰😍😍