Sahabat Somplak Mencari Jodoh

Sahabat Somplak Mencari Jodoh
Mencari solusi


Sepulang sekolah mereka langsung menuju rumah Naira. Sudah kebiasaan mereka yang pulang sekolah tak langsung pergi kerumah. Para orangtua merekapun sudah hafal betul sifat anaknya yang selalu keluyuran saat pulang sekolah. Tapi mereka tak mepersalahkan itu semua karena mereka pasti mampir kerumah salah satu sahabatnya. bukan cuma Naira cs saja yang bersahabat, para orangtua merekapun sahabat akrab sedari kecil. Mungkin persahabatan mereka menurun ke anak anaknya.


Naira melihat ada mobil terparkir didepan rumahnya dan dia yakin bahwa saat ini ia sedang kedatangan tamu. Karena mobil itu bukan milik keluarganya.


"Nai, siapa di rumah lo?" Tanya Rayna.


Naira mengangkat bahu "Mana gue tau" Ucap Naira dan melangkah masuk kedalam.


"Assalamu'alaikum" Ucap mereka serempak.


"Waalaikumsalam" Ucap semua orang disana.


"Udah pulang sayang?" Tanya mama Indri basa basi.


"Iya mah... " Ucap Naira dan mengajak sahabatnya untuk duduk di ruang tamu.


"Mah ini siapa?" Tanya Naira melihat seorang wanita paruh baya dan seorang pria yang mungkin seumuran kakaknya Vino.


"Tunggu deh, kayanya aku pernah ketemu tante. Tapi dimana?" Ucap Naira mengingat ingat.


"Ini tante Linda sayang, dan ini anaknya namanya Daffin" Ucap mama Indri.


"Owhh gitu... " Ucap Naira manggut-manggut. Tanpa ingat siapa Linda dan siapa Daffin.


"Yaudah mah, tant, kak. Kita ke kamar dulu ya" Pamit Naira yang dibalas anggukan kepala dari mereka semua.


Merekapun menuju lantai dua untuk ke kamar Naira.


"Mereka sahabat Naira?" Tanya Linda pada mama Indri.


"Iya, mereka memang biasa mampir kesini sepulang sekolah. Kayanya persahabatan aku dulu menurun dengan anakku" Ucap mama Indri.


Kedatangan Linda disini hanya untuk berkunjung kerumah Naira, sekaligus untuk melihat keadaan Naira. Lama lama Linda merasa kasihan pada Miko karena Naira tak bisa mengingatnya dan bahkan Naira menyuruh Miko untuk menjauhinya setiap kali Miko mendekat kearahnya.


**


"Nai, lo beli dimana boneka itu? Lucu banget deh" Ucap Salsa melihat boneka Teddy pemberian Miko.


"Dimana ya? Lupa deh" Jawab Naira nyengir.


"Masa lo lupa? Padahal Lo sendiri yang belinya" Tanya Lucy.


"Siapa?" Tanya Lucy penasaran.


"Gue lupa orangnya" Ucap Naira mengedikkan bahu membuat sahabatnya berdecak sebal.


"Haisss lo belum tua tapi udah pikun" Decak Rayna sebal.


"Sembarangan lo ngatain gue pikun!" Ucap Naira tak terima.


"Atau mungkin dari Miko ya. Kalau iya pantesan Naira gak inget" Batin Dea mencerna setiap kata Naira.


*****************


Sedangkan kini Miko dan Leon sedang memikirkan cara bagaimana supaya Naira mengingatnya lagi.


"Gimana kalau kita datangkan dokter dari luar negeri, kali aja Naira bisa sembuh. Kan lo tau keahlian dokter luar negeri itu gak bisa diragukan lagi" Saran Leon.


"Tapi gimana caranya? Lo pikir gampang apa?" Sungut Miko yang merasa tak mungkin bisa melakukan saran Leon.


"Bokap lo kan punya banyak teman dokter. Nah lo tanya aja ada gak dia teman dokter yang ahli dan bisa nyembuhin Naira" Sahut Leon santai.


"Atau lo datangkan alat alat medis yang canggih aja gimana?" Lanjut Leon.


"Lo kita Naira sakit parah apa? Pake alat medis segala" Kesal Miko yang merasa semua ide Leon tak ada yang masuk akal.


"Yaudah kalau lo gak mau. Lo Terima aja nasib lo. Setahu gue orang amnesia itu susah buat ngembaliin ingatannya. Bahkan ada orang yang bertahun tahun baru ingat semuanya. Nah lo mau kaya gitu?" Ucap Leon membuat Miko berpikir sejenak.


"Lo pikirin gimana nasib hubungan lo sama Naira kedepannya. Lo gak mau kan ada orang lain yang masuk kedalam hati Naira dan menghapus nama lo disana?" Lanjut Leon.


"Gak! Gue gak akan pernah biarin ada orang lain yang masuk kedalam hati Naira selain gue" Ucap Miko tegas.


"Nah itu tau" Sahut Leon menyeruput kopinya.


"Oke sekarang lo bantu gue nemuin bokap gue" Ajak Miko.


"Ngapain?" Tanya Leon menyeritkan keningnya.


"Lo gak inget kata lo tadi?" Tanya Miko dan sedetik kemudian Leon sadar dan segera beranjak dari sana untuk menemui papa Miko. Tak lupa membayar pesanannya.