
Setelah sehari dikampung nenek, kini mereka pulang ke Jakarta.
"Nek kami pamit ya" ucap Naira menyalami nenek.
"Hati hati ya dan sering sering berkunjung kesini" ucap nenek.
"Pasti nek" jawab Naira.
"Kalian cepat banget udah mau pulang aja" ujar Sonni yang sedikit tak rela dengan kepergian mereka.
"Kami akan sering kesini kok Son, tenang aja" jawab Salsa tersenyum.
"Yasudah kita pamit nek, Son, assalamualaikum" ucap Vino.
"Waalaikumsalam" jawab nenek dan Sonni.
"Byeee Son, see you" ucap mereka melambaikan tangan yang hanya dibalas senyuman oleh Sonni.
Merekapun melangkah masuk kedalam mobil. Dan perlahan meninggalkan kampung halaman nenek.
"Kapan mereka akan kembali nek?" Tanya Sonni lirih.
"Sabar Son, mereka akan kembali nanti. Tapi saat ini mereka akan sekolah," jawab nenek memberi pengertian.
"Apa kamu senang bermain dengan mereka?" Tanya nenek.
"Senang nek, mereka sangat menyenangkan, dan aku bisa belajar banyak hal dari mereka" jawab Sonni karena memang mereka pernah mengajarkan beberapa materi pelajaran pada Sonni. Dan itu membuat Sonni senang karena menambah pengetahuannya.
*************************
Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam kini mobil Vino sudah terparkir cantik didepan rumah Naira.
Mereka langsung disambut hangat oleh mama Indri.
"Mamaaaaa" teriak Naira langsung berhambur kepelukan mamanya.
"Sayang, kamu apa kabar selama disana?" Tanya mama Indri.
"Baik mah" jawab Naira tersenyum.
"Oh ya mana satria?" Tanya Naira.
"Masih sekolah" jawab mama Indri.
"Ayo masuk," ajak mama Indri.
"Mah, Vino ke kantor dulu ya" pamit Vino mencium tangan mamanya.
"Yasudah hati hati ya" ucap mama Novi yang diangguki Vino.
"Mau minum apa kalian?" Tanya mama Indri.
"Apa aja tant" jawab Rayna.
"Sebentar ya" ucap mama Indri dan pergi ke dapur.
"Lo suka ya sama tuh sambal?" Tanya Naira.
"Suka banget, rasanya tuh enak, gue gak pernah makan begituan" jawab Dea.
"Kalian suka juga?" Tanya Naira pada yang lain.
"Lumayanlah" jawab Lucy.
"Rasanya oke" tambah Salsa.
"Tapi dimana kita bisa dapetin itu?" Tanya Rayna.
"Mmm gimana kalau kita ajak mama aja buatnya?" Tawar Naira.
"Emang Tante mau?" Tanya Dea ragu.
"Ini silahkan" ucap mama Indri membawa nampan berisi jus.
"Mah, kita boleh minta sesuatu?" Tanya Naira.
"Apa?" Tanya mama Indri.
"Buatin sambal jengkol ya mah, pleaseee" mohon Naira.
"Sambal jengkol?" Ucap mama Indri menyeritkan keningnya, karena setahunya anaknya ini tidak pernah meminta masakan seperti itu.
"Iya tant, waktu dikampung kita pernah makan itu, kata nenek kalau kita mau lagi, minta buatin aja sama Tante" jelas Dea.
"Emang kalian suka?" Tanya mama Indri.
"Suka mah" jawab Naira.
"Oke ayo kita masak!" Ajak mama Indri dan menuju dapur dengan mereka.
Mama Indri mulai berkutat dengan peralatan dapur. Pertama ia membasuh jengkol terlebih dahulu. Sedangkan para gadis disana hanya duduk cantik sambil melihat.
"Tante dimana ada jualan sambal jengkol?" Tanya Rayna.
"Tante gak tau Ray, tapi makanan seperti ini sangat jarang ditemukan sekarang" jawab mama Indri.
"Emang mama pernah makan sambal jengkol? Naira aja baru sekarang tau kalau ada makanan seenak ini" ujar Naira pada mamanya.
"Pernah sayang, mama dulu makannya gini terus, jarang sekali mama makan sup ayam, rendang, dan makanan yang pernah kita makan sekarang ini" jawab mama Indri.
"Kenapa tant?" Tanya Lucy penasaran.
"Karena dulu tidak ada orang yang kaya raya seperti sekarang ini. Jangankan makan makanan seperti itu. Makan sambal kaya gini aja udah bersyukur banget, yang penting bisa makan" jelas mama Indri.
"Oh gitu ya" ucap Lucy paham.
"Hu'um, jadi kalian harus bersyukur karena bisa makan enak setiap hari, tanpa harus kerja cape cape" terang mama Indri membuat mereka manggut-manggut.