
Malam harinya semua murid telah masuk kedalam tenda masing-masing untuk beristirahat.
"Aduh gue gak bisa tidur" keluh Dea yang merasa tak nyaman berada didalam tenda.
"Sama nih, sempit banget disini" timpal Naira.
"Gimana kalau malem malem kita lagi tidur ada binatang buas?" Ucap Salsa bergedik ngeri.
"Duh Sa, Lo jangan nakut nakutin dong," ucap Rayna.
"Kok disini dingin banget ya?" Ucap Lucy melipat tangannya untuk memberi kehangatan.
"Namanya juga hutan" sahut Naira.
"Denger ya kita gak boleh berpencar, harus tetap bersama, oke..." Ucap Rayna yang diangguki mereka.
"Yaudah deh sekarang mendingan kita tidur" ajak Salsa.
*************************
Ditengah malam, Naira terbangun karena merasa saluran kemihnya penuh. Ia meraih ponselnya dan melihat jam yang ternyata masih pukul 00:20. Ia mencoba membangunkan sahabatnya.
"Ray, bangun..." Ucap Naira menggoyangkan badan Rayna.
"Eughh..." Lenguh Rayna dan berbalik membelakangi Naira.
"Sa, bangun...." Ucap Naira menepuk pundak Salsa.
Bukannya terbangun Salsa malah mendengkur keras dengan kedua kakinya menindih tubuh Lucy dan Dea.
"Astaga nih anak kebo juga ternyata" gumam Naira menggelengkan kepalanya.
"Ndri, gue gak nyangka kalau Lo naksir sama gue" ucap Salsa mengigau. Membuat Naira susah payah menahan tawanya.
"Ini nih dampak kalau terlalu memikirkan cowok, dasar centil..." Umpat Naira terkekeh geli.
"De, bangun,.." kali ini Naira membangunkan Dea
"Bentar mah..." Ucap Dea dengan mata yang masih terpejam.
"Woy gue bukan emak Lo!" kesal Naira mengerucutkan bibirnya.
"Ya ampun kenapa pada sudah dibangunin sih! Oke kalau kali ini Lucy gak bangun, fiks gue pergi sendiri" putus Naira dan mendekat kearah Lucy.
"Lucy bangun, temenin gue" ucap Naira menepuk kedua pipi Lucy.
"Eughhh...." Lenguh Lucy dan perlahan membuka matanya. Ya memang diantara mereka berlima, Lucy lah yang sangat mudah dibangunkan.
"Nai, Lo ngapain bangunin gue? Udah pagi ya?" Ucap Lucy melebarkan matanya dan melihat sekeliling.
"Enggak, gue minta tolong sama Lo" ucap Naira.
"Temenin gue dong, gue mau pipis" pinta Naira menangkupkan kedua tangannya.
"Tapi dimana tempatnya?" Jawab Lucy bingung karena saat ini mereka sedang berada di hutan.
"Gue juga gak tau, kali aja ada sungai didekat sini, udah ayo! Gue udah gak tahan lagi nih" ucap Naira sembari menahan kemihnya.
"Asli Lo nyebelin banget Nai, gue lagi asyik-asyik tidur, Lo gangguin" kesal Lucy dan segera beranjak keluar bersama Naira.
"Habisnya gue mau minta tolong sama siapa? Sama pak Bani?" Kesal Naira.
"Mereka kan ada, noh bangunin aja apa susahnya?" Jawab Lucy enteng.
"Bangunin mereka udah kaya bangunin mayat!" Umpat Naira kesal.
"Udah deh Nai, Lo jangan bahas mayat mayat segala. Gue jadi takut kan" ucap Lucy melihat sekeliling.
"Kok tiba-tiba gue merinding ya" ucap Naira melihat keadaan hutan sangat sepi dan gelap, untungnya mereka membawa senter.
"Nai, dimana tempatnya?" Tanya Lucy sembari melihat lihat.
Mereka sudah berjalan lumayan jauh dari tenda.
"Eh tuh ada sungai, ayo!" Ajak Naira melihat sungai dari kejauhan.
"Tapi Lo yakin bisa pulang?" Tanya Lucy ragu.
"Yakin lah, emang kenapa kita gak bisa pulang?" Tanya balik Naira.
"Lo tau jalannya? Liat kita udah jauh dari tenda" ucap Lucy tiba tiba merasa akan terjadi hal buruk.
"Udah, Lo diem bentar, gue mau pipis sebelum gue ngompol disini" ucap Naira santai.
Aaauuuuuu......
Lolongan anjing terdengar begitu nyaring ditelinga mereka.
"Aaaaaaaaaa" jerit Naira dan Lucy bersamaan.
"Nai, gue takut," ucap Lucy yang merasa panas dingin.
"Gue juga, ayo balik!" Ajak Naira yang sudah menuntaskan kemihnya.
"Emang Lo tau arah mana?" Tanya Lucy yang sudah sport jantung.
Naira terdiam dan melihat sekeliling, benar kata Lucy, mereka sudah berjalan jauh dari tenda. Dan sialnya Naira tidak tau arah mana yang akan mereka lewati.
Aaauuuuuu......
"Aaaaaaa, lari Nai!!" Teriak Lucy menarik Naira dan berlari kencang tanpa melihat kearah mana mereka berjalan.