
Keesokan harinya ketika dikampus, mereka mendengar ajakan camping dari guru. Sontak membuat lima somplak itu bersorak gembira.
"Lo ikut kan Nai?" Tanya Rayna.
"Ikutlah, masa aku ditinggal?" Jawab Naira.
"Tapi kalau Lo gak disuruh gimana?" Tanya Lucy, karena ia tau Naira selalu dilarang ikut acara apalagi camping.
"Tenang aja kalau mama gak nyuruh gue, gue bakal nekat pergi sendiri" ucap Naira tersenyum.
"Udah gila Lo" ucap Dea menggelengkan kepalanya.
"Eh kalian pulang sekolah main aja ya kerumah gue. Sekalian bantu gue izin ke mama sama papa" ajak Naira.
"Oke, lagian kita udah lama gak nongkrong dirumah Lo" ucap Salsa.
"Sip lah" ucap Rayna mengacungkan jempolnya.
*************************
Sepulang sekolah, Naira langsung dijemput oleh Vino. Itu membuatnya kesal karena ingin gabung sama teman temannya.
"Kak, aku mau ikut mereka, kakak duluan aja" ucap Naira.
"Gak bisa! Kamu ikut sama kakak, entar mereka berempat aja" ucap Vino tak bisa dibantah.
"Kak..." Renggek Naira cemberut.
"Sayangku, ikut kakak ya please, kakak udah jauh jauh kesini" ucap Vino memohon.
"Kak, Naira kan gak pernah suruh kakak jemput aku, kalau kakak gak bisa yaudah aku ikut teman teman aja, lagian mereka juga mau kerumah kita kak" protes Naira.
"Mereka ngikut aja dibelakang" jawab Vino santai.
Naira melihat kearah sahabatnya, mereka mengangguk tanda mengiyakan keinginan Vino.
"Yaudah" ucap Naira pasrah dan masuk kedalam mobil kakaknya.
"Gitu dong, baru adik kakak" ucap Vino tersenyum kemenangan.
Didalam mobil tak henti hentinya Naira menggerutu dalam hati dan menekuk wajahnya.
"Sayang udah dong jangan gitu, ntar jelek lho" bujuk Vino.
"Kakak lain kali jemput satria aja, gak usah repot-repot jemput Naira" ucap Naira menatap keluar jendela.
"Satria udah sama temennya," jawab Vino sambil fokus menyetir.
"Tuh Satria aja boleh ikut sama temennya, masa Naira gak boleh sih. Ini namanya gak adil!" Ucap Naira mengerucutkan bibirnya.
"Dia laki laki sayang, bisa jaga diri sendiri, lagian Satria juga jago karate dan tekwondo" jelas Vino, karena adik bungsunya itu memang sangat pintar menguasai karate dan tekwondo.
"Itu sama saja!" Ketus Naira.
Mereka segera turun dan langsung disambut hangat oleh mama Indri.
"Sayang udah pulang?" Sambut mama Indri.
"Iya mah" jawab Naira menyalami mamanya.
"Tante" ucap Dea menyalami mama Indri.
"Eh kalian, masuk yuk!" Ajak mama Novi.
Merekapun langsung masuk dan duduk diruang tamu.
"Mah, apa mama yang nyuruh kakak jemput Naira?" Tanya Naira yang dapat anggukan dari mama Indri.
"Yaahh mama..." Ucap Naira cemberut.
"Kenapa sayang?" Tanya mama Indri.
"Gapapa" ucap Naira cuek. Sementara mama Indri hanya mengulum senyum karena sudah mengerti maksud anak gadisnya ini.
"Gini kalau anak mami" batin Lucy melihat Naira yang dapat kasih sayang full dari semua keluarga, bukan hanya orangtuanya.
"Oh ya mah, Naira pengen ngomong sama mama" ucap Naira.
"Apa sayang?" Tanya mama Indri.
"Mah, Naira pengen ikut camping" ucap Naira mengatakan tujuannya.
"Camping?" Mama Indri menautkan alisnya.
"Iya mah, pleaseee ya, mereka juga ikut kok" ucap Naira menunjuk sahabatnya dengan dagunya.
"Tapi sayang..."
"Mah, Naira pengen ikut boleh ya, Naira udah lama nunggu saat saat ini. Mama selalu ngelarang Naira ikut camping, please ya mah" jelas Naira menunjukkan puppy eyesnya.
"Sayang kamu yakin?" Tanya Vino.
"Yakin kak!" ucap Naira mantab.
"Iya tant, lagian ada kita yang akan jagain Naira" ucap Rayna meyakinkan.
"Tante sama kak Vino gak usah khawatir, kita bisa jagain Naira" tambah Lucy.
"Tapi sayang camping itu masuk hutan, mama takut kalian kenapa napa" terang mama Indri.
"Tant, kan ada guru yang ngawasin," ucap Dea.
"Gini aja deh tant, kalau Naira kenapa napa, nyawa saya taruhannya" ucap Salsa tegas.
"Sa..." Lirih Naira tak enak dengan sahabatnya.