Sahabat Somplak Mencari Jodoh

Sahabat Somplak Mencari Jodoh
Pergi untuk selamanya


Miko membuka matanya, dilihatnya banyak sekali suara keramaian. di apartemennya.


"Bang Daffin mana?" gumam Miko dan beranjak turun dari tempat tidur.


Ia melihat dari balkon nya terlihat ada mobil ambulance disana. juga ada bendera kuning dipasang di apartemennya.


"Ada yang meninggal? tapi siapa?" ucap Miko dan pergi untuk menjenguk mama Linda.


"Miko.... " Linda langsung histeris sambil memeluk Miko.


"Mama kenapa?" tanya Miko sembari mengelus punggung mamanya.


"Mik, Daffin... " ucap mama Linda tak bisa lagi meneruskan ucapannya.


"Bang Daffin kenapa mah?" tanya Miko khawatir.


"Hiks... hiks... hiks... Daffin udah pergi Mik" isak Linda dengan air mata yang sudah membasahi baju Miko.


"Pergi kemana mah? kok mama sampai nangis?" tanya Miko.


"Daffin udah pergi untuk selamanya Mik. Dia ninggalin kita hiks.... " ucap Linda memeluk erat Miko.


"Gak! gak mungkin mah! bang Daffin masih hidup. Malam tadi dia ada mah. Dan itu gak mungkin!" ucap Miko menyangkal semua perkataan mamanya.


"Mik, ayo kita jenguk jenazah Daffin" ajak Linda menuntun Miko untuk menjenguk jenazah Daffin.


Tubuh Miko langsung luruh, waktu seakan berhenti seketika. melihat mayat yang terbungkus kain putih yang tengah dikelilingi banyak orang.


"Miko sini.. " ajak Daniel.


Miko harus menelan kenyataan pahit, buliran air bening lolos begitu saja saat melihat bahwa yang ada dibalik kain putih itu benar-benar Daffin kakanya.


"Bang.. kenapa lo secepat ini ninggalin kita?" Miko langsung memeluk jenazah Daffin yang sudah terbujur lemah tak bernyawa.


"Bangun bang, bangun. lo gak boleh tinggalin kita. gue bakal kabulin apa yang lo minta bang. Asal lo bangun" isak Miko memeluk erat tubuh Daffin.


"Mik, sudah... yang ikhlas ya" ucap Daniel berusaha menenangkan Miko. Walaupun hatinya juga rapuh.


"Pah, kok bang Daffin pergi secepat ini sih? kenapa dia ninggalin kita? Gue masih sangat butuh dia pah"


"Bang, lo bangun bang. Bangun... " Miko menepuk-nepuk pipi Daffin yang kelihatan sangat pucat.


"Ya Tuhan, kenapa engkau memanggil kakakku secepat ini? kenapa gak aku saja Tuhan. Aku bukan siapa siapa disini. Aku hanyalah anak angkat. Tapi bang Daffin? dia adalah anak kandung mama Linda dan papa Daniel. Mereka pasti sangat menyayanginya" batin Miko merasa sangat sesak dalam dadanya.


"Mik, lebih baik kamu siap siap. Setelah ini kita akan yasinan dan akan memakamkan Daffin" ucap Daniel.


"Pah, ini gak adil pah! kenapa harus bang Daffin yang meninggal? kenapa gak Miko aja pah? Miko gak berguna buat papa dan mama. Tapi bang Daffin? dia bisa membantu papa di perusahaan, dia anak yang pintar, yang pantas dibanggakan. Sedangkan Miko...?" ucap Miko kembali menangis sejadi-jadinya. Percayalah Miko tidak bisa menyembunyikan kesedihannya bahkan didpan banyak orang seperti ini.


"Mik, kamu gak boleh ngomong gitu. Kamu tetap anak papa dan mama" ucap Daniel menepuk bahu Miko.


"Mah, pah. Miko gak kuat untuk menerima semua ini. Ini terlalu berat untuk Miko" ucap Miko pelan.


"Nak, kamu harus kuat ya. Kalau kamu tetap nangis nanti abang kamu gak tenang disana" ucap Linda mengelus punggung Miko.


"Bang, cuma lo saudara yang gue punya didunia ini. Tapi kenapa lo malah pergi secepat ini? Cuma lo yang selalu ada buat gue selama ini. Cuma lo yang bisa dukung gue. Tapi kenapa? kenapa lo pergi tanpa meninggalkan satu katapun buat gue" ucap Miko menatap sendu jenazah Daffin yang terbujur dengan ditutupi kain kafan.