Sahabat Somplak Mencari Jodoh

Sahabat Somplak Mencari Jodoh
Kucing


Saat dalam perjalanan pulang, Naira tak henti hentinya melihat kucing anggora yang baru saja dibelinya. Dengan warna bulu abu abu, mata biru, ekor panjang, dan wajah yang sangat imut dan chubby membuat kucing itu terlihat menggemaskan.


"Kak, kira kira nama apa yang cocok untuknya?" tanya Naira pada Daffin.


"Emmm kakak gak tau, kamu cari aja di internet kali aja ada yang bagus" saran Daffin.


"Ya gak seru dong kak, namanya harus dari pemikiran kita sendiri, bukan dari pemikiran orang lain" protes Naira.


"Kakak gak bilang dari pemikiran orang lain" sahut Daffin.


"Tapi kakak bilang tadi cari di internet, kan disana hasil pemikiran orang kak. Ihhh kakak gimana sih" ucap Naira dengan bibir mengerucut tajam.


"Iya iya maaf, kakak kan cuma ngasih saran" ucap Daffin berkilah.


"Siapa ya namanya...? " Ucap Naira seraya mengetukkan jari telunjuknya ke dagunya.


"Cimut aja gimana?" saran Daffin.


"Cimut itu nama cewek kak, kan kucing Naira cowok" komentar Naira.


"Ya kan kata kamu dia imut, yaudah namanya cimut aja" ucap Daffin.


"Ah gimana kalau Kizo aja" ucap Naira yang entah dari mana dapatnya nama itu.


"Bagus, cocok buat dia" sahut Daffin setuju.


Dan tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Naira.


"Kak, ambilin kucingnya" perintah Naira saat sudah turun dari mobil.


"Kakak?" tanya Daffin menunjuk dirinya sendiri.


"Ya iyalah, orang cuma kakak yang ada disini, masa Naira mau minta tolong sama tetangga!" jawab Naira kesal.


Daffin terdiam sejenak, melihat kucing saja rasanya dia mual, apalagi mengambilnya? huftt... Daffin jadi bingung sendiri.


"Kak, kakak denger aku kan?" tanya Naira melambaikan tangan didepan wajah Daffin.


"Eh iya Nai... " jawab Daffin terbuyar dari lamunannya.


"Cepet ambil" suruh Naira.


"Tapi apa? jangan bilang kakak takut sama kucing" tebak Naira membuat Daffin mengehla nafas panjang.


"Yaudah, kakak ambilin ya" ucap Daffin dan mengambil kucing itu yang masih berada dikandangnya.


"Taruh ke taman belakang kak" perintah Naira saat Daffin telah berhasil membawa kandang yang berisi kucing itu keluar mobil.


"Ya ampun, gue mau muntah" batin Daffin yang mulai merasakan mual.


"Daffin, buat apa kucing itu?" tanya mama Indri yang melihat Daffin membawa kucing yang masih berada di dalam kandangnya.


"Oh ya, mah kenalin ini Kizo" ucap Naira memperkenalkan peliharaan barunya.


"Kizo??" mama Indri menautkan alisnya.


"Kizo itu namanya tan" jelas Daffin memberitahu.


"Ngapain kamu tiba tiba beli kucing?" tanya mama Indri.


"Mau pelihara dong mah, emang gak boleh?" ucap Naira memayunkan bibirnya.


"Yasudah bawa ke belakang" suruh mama Indri berusaha memaklumi tingkah anaknya yang sedikit aneh.


"Ada angin apa tiba tiba beli kucing?" batin mama Indri menggelengkan kepalanya.


"Nai, aku numpang ke toilet bentar ya" ucap Daffin setelah berhasil membawa kucing itu ke taman belakang.


"Kakak gapapa?" tanya Naira melihat wajah Daffin yang seperti menahan mual.


"Gapapa, kakak ke toilet bentar ya" ucap Daffin yang diangguki Naira.


"Kak Daffin kenapa ya? kok aneh banget, perasaan tadi naik mobil bukan naik pesawat. Kenapa dia kaya mau mual gitu" gumam Naira saat Daffin telah menjauh.


Naira segera mengeluarkan kucingnya dan memberi makannya.


"Kizo, makan yang banyak ya, biar tambah gemuk dan tambah unyu" ucap Naira seraya mengelus elus bulu kucingnya yang sangat lembut.


"Udah lama gak ada peliharaan" gumam Naira. Karena dulu ia sangat menyukai kucing, bahkan tak sekali dua kali ia mendatangkan kucing ke rumahnya untuk dipelihara. Namun saat ia beranjak dewasa dia berusaha fokus dengan pendidikannya.