Sahabat Somplak Mencari Jodoh

Sahabat Somplak Mencari Jodoh
Apartemen Miko


Saat ini Naira tengah merengek pada Vino dan kedua orangtuanya, Naira ingin pergi ke apartemen Miko, untuk sekedar berkunjung, lagipula Naira ingin tau kedua orangtua Miko.


"Kakak ayo dong, masa gak boleh sih" rengek Naira pada kakaknya.


"Sayang bukan gak boleh, kakak takut, masa laki-laki dan perempuan berduaan di apartemen, nanti dikira macam-macam" tutur Vino lembut.


"Mama..." Rengek Naira pada mama Indri.


"Naira kamu itu perempuan, harusnya Miko yang berkunjung kesini, bukan kamu" ujar mama Indri.


"Tapi kan Miko udah pernah kesini, Sekarang giliran Naira ke apartemen Miko" ucap Naira, namun tak juga digubris oleh mamanya.


"Papa....." Renggek Naira pada papanya.


"Hufftt baiklah, tapi ada syaratnya" ucap papa Nevan akhirnya.


"Apa?" Tanya Naira antusias.


"Kamu harus dijaga oleh dua bodyguard dan papa akan terus memantau dari sini" jawab papa Nevan membuat Naira langsung berhambur kepelukan papanya.


"Makasih papaku..." Ucap Naira lalu mencium kedua pipi papanya.


"Astaga kamu ini, udah gede masih manja sama papa" decak papa Nevan pada kelakuan putrinya.


"Biarin" jawab Naira masih bermanja pada sang papa.


Tak lama kemudian, suara klakson mobil berbunyi, sudah bisa ditebak itu pasti Miko yang akan menjemputnya.


"Assalamualaikum" ucap Miko didepan pintu masuk.


"Waalaikumsalam" Jawa mereka dan Naira berjalan membukakakan pintu.


"Kamu udah dateng, ayo masuk dulu" ucap Naira mempersilahkan.


Miko dan Naira pun langsung berjalan menuju ruang tamu, dimana keluarga sedang berkumpul.


"Siang om, Tante, kak" sapa Miko pada semuanya.


"Siang" jawab mereka semua disana.


"Duduk nak" suruh mama Indri.


"Miko dengerin saya, kalau kamu mau membawa Naira ke apartemen mu, pastikan kamu tidak macam-macam pada adikku, dan kalau sampai kamu melakukan hal yang diluar batas dan merugikan adikku. Maka aku tidak segan-segan menghabisimu" ancam Vino tegas.


"Baik kak, aku mengerti. Kakak tau kan aku sangat mencintai Naira, aku tidak akan pernah melukainya. Kakak percaya sama aku" ucap Miko meyakinkan.


"Baiklah kalian boleh pergi, dan jam 3 harus pulang!" Ucap Vino yang diangguki mereka.


"Kakak yang bener aja, masa jam tiga udah pulang ini kan sudah jam 2" gerutu Naira saat sudah didalam mobil.


"Kakak kamu melakukan ini demi kebaikan kamu by" ucap Miko lembut.


"Mik, maaf ya kalau ucapan kakak ku tadi menyakitimu, kakakku memang begitu. Dari kecil ia melarang ku untuk dekat-dekat dengan laki laki" ucap Naira menjelaskan.


*************************


Naira dan Miko sudah sampai diapartemen Miko. Naira melihat sekeliling nampak sepi.


"Mik, Lo sendiri disini?" Tanya Naira lalu duduk disofa.


"Iya gue sendiri" jawab Miko juga ikut duduk disofa.


"Orangtua kamu mana?" Tanya Naira.


"Orangtua aku sudah meninggal sejak aku berumur 7 tahun, dan kini aku hanya memiliki orangtua angkat" jawab Miko lirih.


"Eh maaf ya, aku gak bermaksud" ucap Naira karena merasa salah ucap.


"It's okay" jawab Miko santai.


"Terus mana orangtua angkatmu?" Tanya Naira.


"Mereka lagi di Inggris by, karena harus menemani kakak angkat ku berobat disana" jawab Miko.


"Oh gitu..." Ucap Naira manggut-mangut tanda mengerti.


Krukk... Krukk... Krukkk....


Suara perut Naira membuat mereka menghentikan pembicaraannya.


"Kamu laper by?" Tanya Miko.


"Hehehe iya, aku dari pulang sekolah belum makan" jawab Naira menyengir.


"Gak boleh gitu dong, nanti sakit gimana?" Tegur Miko lembut.


"Duh nih perut malu maluin amat deh" gerutu Naira dalam hati.


"Ayo masak!" Ajak Miko.


"Emang kamu bisa?" Tanya Naira.


"Bisa lah" jawab Miko dan pergi kedapur bersama Naira.


"Mik, kamu serius bisa masak?" Tanya Naira ragu.


"Iyalah, emang kamu gak bisa masak?" Tanya Miko yang langsung dapat gelengan kepala dari Naira.


"Kamu pasti kecewa ya karena punya pacar yang gak bisa apa apa kaya aku?" Ucap Naira menunduk.


"Ya enggak lah, buat apa aku kecewa, kita sebagai manusia memang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, udah gak usah cemberut" bujuk Miko membuat Naira tersenyum.


Setelah itu Naira melihat Miko yang dengan lihai nya memasak, ia salut akan keahlian Miko. Dia sendiri saja tidak bisa memasak, pernah waktu itu mama Indri menyuruhnya untuk menggoreng ikan, bukannya masak tapi malah hitam gosong karena api yang terlalu besar.


Dan juga pernah mama Indri memperintahkan Naira untuk mencuci piring, tapi ujung-ujungnya bukan bersih malah piringnya habis karena dipecahkan olehnya. Sungguh Naira merasa sangat tidak berguna sebagai perempuan.