
Hari ini Daffin mengajak Naira jalan jalan ke taman kota. Karena hari ini weekend jadi lebih banyak waktu luang yang mereka habiskan bersama.
"Nai, aku mau ngomong sesuatu sama kamu" ucap Daffin.
"Ngomong aja kak. Santai" ucap Naira tertawa kecil melihat ekspresi wajah Daffin yang begitu tegang.
"Nai, apa lo masih cinta sama Miko?" tanya Daffin. membuat Naira terdiam sejenak.
"Kalau boleh jujur sih Iya kak. Aku masih cinta banget sama Miko. Aku gak mau kehilangan dia kak. Tapi aku juga harus mencari kebenaran tentang berita itu" jawab Naira lirih.
Daffin menghela nafas panjang, ia urungkan niatnya untuk bertanya pada Naira sesuatu yang selama ini ia pendam.
"Nai, kalau lo memang masih cinta sama Miko, lo harus perjuangin cinta lo bersama sama. Segala yang didunia ini pasti memiliki ujian. Dan kita harus mencari cara biar bisa keluar dari ujian itu. Kuncinya adalah berjuang bersama sama" ucap Daffin bijak.
"Tapi apa Miko mau berjuang sama aku?" tanya Naira ragu.
"Pasti mau kok. Kakak bakal bantuin supaya kalian bisa bersama lagi seperti dulu" ucap Daffin tersenyum.
"Tapi apa kakak yakin berita itu cuma hoaks? gimana kalau memang benar?" tanya Naira.
"Nai, Miko itu adik kakak. Jadi kakak tau betul berita itu pasti hoaks semata. Jika benar Miko mau tunangan, pasti dia bakal ngomong sama kita. Sama mama dan papa. dan kakak juga gak tau siapa perempuan itu" jawab Daffin.
"Beneran kakak gak tau siapa perempuan itu?" tanya Naira tak percaya.
"Enggak" jawab Daffin jujur.
"Haiss masa kakak gak tau sih" decak Naira menggelengkan kepalanya.
"Eh itu ada es krim. beli yuk" ajak Naira antusias melihat ada abang es krim disana.
"Yasudah ayo" ajak Daffin terkekeh melihat tingkah Naira yang sangat suka dengan es krim.
****
Malam harinya Naira duduk di balkon kamarnya. Ia melihat ribuan bintang yang bersinar menghiasi langit.
"Malam kak. Lagi ngapain?" tanya Naira melalui via whatsapp.
Daffin yang melihat isi pesan singkat Naira pun tersenyum. Tangannya terampil untuk membalas pesan Naira.
"Malam Nai. Ini lagi ngopi di balkon" jawab Daffin.
"Wah sama dong kak. Aku juga lagi duduk di balkon"
"Kok bisa sama ya?" balas Daffin.
"Mungkin kakak ngintip aku tadi" jawab Naira terkekeh.
"Apaan kamu" balas Daffin.
Setelah selesai chatingan dengan Naira. Daffin melihat surat yang sengaja ia bunyikan di laci kamarnya. Ia memandang sendu surat itu, bahkan kenyataan yang ada didalamnya membuat ia sangat sulit untuk menerimanya. Tidak ada yang tau tentang surat ini selain dirinya. Ia sengaja menyembunyikan surat ini yang ia dapat tadi siang.
"Kenapa harus aku yang menerima semua ini? aku masih ingin merasakan kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya" gumam Daffin dan melipat kembali surat itu. lalu menyimpannya didalam laci.
Ceklek.
Pintu apartemen terbuka, menampilkan Miko yang baru pulang entah dari mana. Perlahan Daffin menghampiri adiknya itu.
"Mik... " panggil Daffin lirih.
"Hmm... " jawab Miko cuek.
"Mulai saat ini gue gak akan lagi gangguin lo buat kembali dengan Naira. Ucapan gue waktu tempo hari jangan lo ambil hati. Karena itu gue cuma mau menguji seberapa besar cinta lo pada Naira. Dan seandainya kenyataan pahit harus terjadi. Lo jangan nangis, jangan sedih" ucap Daffin. membuat Miko menatap kakanya dengan intens.
"Ma-maksud lo apa?" tanya Miko terbata. Ia sudah merasa was was akan ucapan kakanya tadi.
Daffin tersenyum "Gapapa..." jawabnya dan langsung berjalan ke tempat tidur. sedangkan Miko masih mencerna kata demi kata yang keluar dari mulut Daffin.