
Malam harinya Vino menjemput Rayna kerumahnya. Ia sampai terpukau oleh kecantikan Rayna malam ini. Seseorang yang ia anggap bocil ternyata tidak seburuk itu. Rayna memakai dress navy dengan lengan pendek dan dibawah lutut, serta rambut yang di cepol ke atas. Membuatnya terlihat lebih dewasa malam ini.
**
Dan disinilah mereka berada, di lokasi pesta Erlan. Sudah banyak tamu yang berdatangan juga banyak dari teman temannya.
"Akhirnya lo dateng bro" ucap Erlan dengan senyumnya menghampiri Vino.
"Happy birthday" ucap Vino berjabat tangan dengan Erlan.
"Thanks"
"Oh ya siapa gadis cantik yang kau bawa? pacarmu?" tanya Erlan melirik Rayna.
"Emm... aku-"
"Ya, dia pacarku" potong Vino cepat. Membuat Rayna membelalakan matanya.
"Kak!" ucap Rayna hendak protes.
"Apa sih sayang?" Sahut Vino membuat Rayna tersipu malu, karena Vino memanggilnya sayang.
"Wihh gue gak nyangka lo bisa punya pacar secantik ini?" salut Erlan terkekeh.
"Yaudah kita kesana dulu ya" ucap Vino yang diangguki Erlan.
"Kak, kenapa kakak ngakuin aku sebagai pacar kakak sih?" tanya Rayna setelah menjauh dari sana.
"Emang kenapa?" tanya balik Vino.
"Au ah" baru saja Rayna hendak pergi menjenguk para sahabatnya. Tapi Vino sudah lebih dulu mencekal tangannya.
"Mau kemana?"
"Jenguk mereka" jawab Rayna menunjuk Naira yang sedang berkumpul dengan yang lainnya.
"Gak boleh! kamu di sini aja!" jawab Vino cepat.
"Loh kenapa?"
"Kamu lupa ya? kan peran kamu jadi pacar aku disini. So... tetap disini" jawab Vino, membuat Rayna mendengus kesal.
**
"Kak, aku gak mau!" ucap Rayna cepat.
"Kenapa?"
"Aku gak bisa dansa" lirih Rayna menunduk. Membuat Vino menghela nafas panjang.
"Gapapa pelan pelan aja, pasti bisa" jawab Vino meyakinkan.
"Tapi kak, gimana kalau aku malu maluin kakak?" Tanya Rayna.
"Gak akan, percaya sama aku" jawab Vino menenggengam tangan Rayna. Sontak hal itu membuat Rayna baper sendiri.
Vino mengulurkan tangannya, Rayna dengan ragu menerimanya. Setelah itu mereka berdansa walaupun sedikit kaku.
Deg. Deg. Deg.
Jantung Rayna berdengup kencang saat wajahnya berdekatan dengan wajah tampan Vino. Ia berusaha menetralkan detak jantungnya, sebisa mungkin ia santai. Namun sangat sulit untuk dia lakukan.
"Duh nih jantung mulai deh kumatnya" batin Rayna.
Sama seperti Rayna, Vino pun merasakan hal yang sama. Sedari tadi ia berusaha untuk santai dan menikmati pesta dansa ini. Entah kenapa setiap kali Vino dekat dengan Rayna, jangungnya seolah berdemo. Rayna sukses membuat jantungnya berdetak tak karuan. Jangan bilang Vino jatuh cinta pada seorang gadis berusia 17 tahun. Oh tidak! apa kata dunia nanti?
"Eh liat tuh Rayna sama kak Vino" ucap Salsa yang melihat Rayna dan Vino berdansa.
"Tuh kan apa kata gue. Si Rayna tuh gak bakal nolak" sahut Dea.
"Ya ampun mereka romantis banget sih" Celutuk Naira tersenyum senang.
"Ayo yank, kita juga dansa" ajak Miko mengulurkan tangannya. Dan dengan cepat Naira menerimanya.
"Kita juga gak boleh kalah yank" sahut Leon juga mengajak Lucy berdansa.
"Lo mau dansa juga?" tanya Chiko pada Dea.
"Gak ah" jawab Dea.
"Udahlah De, lo gak usah malu malu" sahut Lucy. Dan akhirnya Chiko dan Dea juga ikut berdansa.