
"Yaelah nih mobil kenapa pake mogok segala sih?" kesal Dea pada mobilnya yang mendadak mogok, padahal ia harus buru buru berangkat ke sekolah.
"Duh mana udah mau jam tujuh lagi? gimana coba?" keluh Dea melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Sebuah motor berhenti tepat di samping Dea, membuat si empunya menyeritkan dahinya menebak nebak siapa itu.
"Lo ngapain disini? mau bolos sekolah?" tanya Chiko sambil membuka helmnya.
"Ah elah elo ternyata, gue kira preman yang bakal nyulik gue" sahut Dea merasa lega.
"Heh kupret! mana ada preman pagi pagi gini!" sungut Chiko.
"Nah berhubung lo disini boleh yah gue nebeng ke sekolah?" pinta Dea.
"Emang mobil lo kenapa?"
"Penyakitnya kambuh lagi, udah ah jangan banyak nanya. Mau gak?" tanya Dea.
"Haiss ngapain juga lo bawa mobil penyakitan kaya gitu?" decak Chiko.
"Enak aja lo ngatain mobil gue penyakitan! dia belum di servis, makanya kaya gini" ucap Dea tak Terima.
"Yaudah mau nolongin gak lo? kalau gak mau gue naik taksi aja!" lanjut Dea.
"Yaudah iya... Iya... " Jawab Chiko malas.
"Mobil lo mau dikemanain?" tanya Chiko.
"Gue udah nyuruh om gue buat kesini. Paling bentar lagi juga dateng" jawab Dea. Dan benar saja setelah ia mengatakan itu om nya langsung datang untuk menarik mobil Dea menuju bengkelnya.
"Pegangan" tutur Chiko saat Dea sudah naik motornya.
"Yaudah gapapa, kalau lo jatuh gue gak tangung jawab" jawab Chiko santai dan seketika itu ia mengegas laju motornya, membuat Dea reflek memeluk pinggang Chiko.
"Tuh kan apa gie bilang" ucap Chiko menyeringai.
"Ihhh lo sengaja yah mau bikin gue jatuh? biar gue masuk UDG gitu!" kesal Dea memukul bahu Chiko.
"Bila perlu masuk kamar jenazah sekalian!" ucap Chiko tersenyum puas.
"Tiang listrik sialaannn!! lo nyumpahin gue mati gitu!" pekik Dea memberikan pukulan maut di bahu Chiko.
Sepanjang perjalanan Dea tak henti hentinya menggerutu dan berceloteh, hingga membuat Chiko pusing mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut kutu kupret di belakangnya. Ingatkan dia nanti untuk membawa headset atau penyumpal telinga ketika sedang mengajak Dea.
Hingga tak terasa motor Chiko telah memasuki perkarangan sekolah, Dea segera turun tanpa memperdulikan Chiko yang telah membantunya untuk datang kesekolah. Jangankan peduli, mengucapkan 'Terimakasih' saja tidak, atau memang dia lupa. Entahlah Chiko tak mau terus memikirkan kutu kupret satu itu.
"Nah ini nih yang ditunggu dari tadi, lo kemana aja? tumben telat?" tanya Naira mengintrogasi sahabatnya.
"Tadi mobil gue mogok, makanya gue nebeng sama tiang listrik tadi" jawab Dea, membuat orang disana menyeritkan keningnya.
"Tiang listrik? siapa maksud lo?"
"Nah, itu tuh orangnya" jawab Dea menunjuk Chiko yang sedang berjalan menuju kearahnya. Karena memang kelas Chiko satu arah dengan kelas Dea.
"Buhahahaha kenapa lo manggil dia tiang listrik?" tawa Naira seketika pecah, apalagi melihat wajah Chiko yang terlihat masam.
"Lo gak liat dia kurus kaya gitu? mana tinggi banget lagi. Kalau disamain sama tiang listrik dijalanan, udah pasti sebelas duabelas dia" ucap Dea memperhatikan tinggi badan Chiko yang mencapai 175 cm.
"Heh kutu kupret sembarangan kalau ngatain orang! Harusnya tuh lo NGACA!" sungut Chiko tak terima disamakan dengan tiang listrik.
"Gue udah ngaca kok, dan 100 persen gue cantik tanpa kurang apapun!" jawab Dea dengan percaya diri tingkat dewa.