Sahabat Somplak Mencari Jodoh

Sahabat Somplak Mencari Jodoh
Terpuruk


Mama Indri dan papa Nevan keluar dari ruangan.


"Mah gimana Naira?" Tanya Vino.


"Kamu bisa liat sendiri Vin" lirih mama Indri.


Vino pun langsung masuk kedalam ruangan Naira. Ia dapat melihat adiknya terbaring lemah dibrankar rumah sakit, dengan beberapa kabel melekat ditubuhnya.


"Sayang bangun, jangan bikin kakak khawatir" lirih Vino mengusap pipi Naira.


Vino tak kuasa menahan tangisnya, buliran bening berhasil lolos dipelupuk matanya. Sungguh melihat Naira terluka adalah kelemahan seorang Vino. Ia memang tak bisa melihat adiknya terluka sedikitpun. Sedari kecil Naira sering sakit sakitan. Itu yang membuat Vino selalu memberikan kasih sayang full pada Naira.


"Sayang ayo bangun, kakak nungguin loh disini. Kamu gak kangen sama kakak? Kamu gak kangen sama Miko dan teman teman kamu?" Gumam Vino mengecup tangan Naira.


Setelah puas menumpahkan tangisnya, Vino pun keluar, ia tak sanggup berlama lama disana.


Kini giliran Miko masuk menjenguk sang kekasih. Ia mendekat kearah brankar dimana Naira sedang terbaring lemah tak berdaya.


Diraihnya tangan Naira dan mengecupnya dengan lembut.


"Sayang bangun aku nungguin kamu disini. Kamu kenapa sih bawa mobil gak hati-hati, jadi gini kan membahayakan diri kamu sendiri" ucap Miko malah mengomeli Naira yang tak bisa mendengar apa apa.


Cup.


Miko memberikan kecupan hangat pada kening Naira.


"Sayang aku gak mau kamu terus disini, cepatlah sadar. Aku kangen sama suara kamu, aku kangen senyum kamu. Dan aku kangen meluk kamu" ucap Miko tak henti-hentinya mengecup tangan Naira.


Tak terasa setetes air mata mengalir membasahi pipinya. Percayalah sekuat apapun Miko menahan tangisnya, namun itu sangat sulit untuk ia lakukan. Hatinya ikut terluka melihat Naira yang tak berdaya.


Setelah beberapa menit didalam, Miko pun keluar memberi waktu untuk para sahabat Naira bertemu dengan Naira.


Mereka berempat pun masuk kedalam. Seketika raut wajah mereka berubah, terlihat jelas bahwa mereka saat ini benar-benar sedih atas kecelakaan yang menimpa sahabatnya.


"Nai, kenapa Lo bisa jadi kaya gini?" Lirih Lucy meneteskan air mata.


"Nai bangun yuk, Lo gak mau liat kita? Kita lagi sedih loh Nai, Lo gak mau liat babang Miko Lo nangis nangis bombay karena ngeliat keadaan Lo" celoteh Salsa mengecup pipi Naira.


"Nai, gue cuma berharap Lo gapapa, dan gue yakin Lo bakalan sembuh. Gue yakin Lo pasti bisa Nai, lo kuat" ucap Rayna menggenggam tangan Naira.


Drrrttt... drrrttt.... drrrttt...


Ponsel Salsa berbunyi, dilihatnya Andri yang menelponnya. Tanpa menunggu lama ia pun memencet tombol hijau yang ada disana.


"Hallo Ndri?" Sapa Salsa dengan suara serak.


"Sa, kamu kenapa? Kamu habis nangis?" Tanya Andri diseberang sana.


"Aku gapapa kok, cuma aku lagi sedih aja" jawab Salsa menyeka air matanya.


"Sedih kenapa?" Tanya Andri menautkan alisnya.


"Naira kecelakaan Ndri, dia koma dan belum juga sadar sampai sekarang" jawab Salsa kembali menangis.


"Kecelakaan? Kok bisa?" Tanya Andri kaget.


"Aku juga gak tau Ndri. Kita belum denger penjelasan dari Naira" jawab Salsa.


"Kenapa kamu nelpon aku?" Tanya Salsa.


"Tadinya aku mau ngajak kamu jalan, cuma kayanya lain kali aja deh" ucap Andri tak enak.


"Duh maaf ya Ndri, gue gak enak kalau pergi gitu aja" ucap Salsa.


"Iya gapapa, yaudah aku tutup ya" ucap Andri.


"Iya...."


"Kenapa Sa?" Tanya Lucy.


"Andri ngajak jalan tadi" jawab Salsa.


"Terus Lo mau?" Tanya Rayna.


"Ya enggak lah, masa gue ninggalin Naira yang lagi berjuang disini" jawab Salsa terkekeh.


"Ya kali aja..." Sahut Dea.